Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Hari ujian


__ADS_3

Keesokan paginya Daisy terbangun dan sudah merasa sedikit lebih baik. Saat Daisy beranjak dari ranjang, Juan juga terbangun.


"Sayang, sudah bangun? mau kemana?" tanya Juan.


"Iya kak! Daisy mau ke kamar mandi!" jawab Daisy.


"Oh, bisa sendiri atau mau kakak gendong?" Juan menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"


"Ya sudah, kakak akan pesankan sarapan, kita sarapan lalu nanti setelah sarapan kakak antar kamu pulang!" kata Juan. Daisy mengangguk dan pergi melangkah ke kamar mandi. Daisy membasuh badannya yang lengket oleh keringat, karena kemarin dia panas jadi dia tidak mandi. Juan mandi di kamar mandi yang berada di samping dapur dan Joan di kamar mandi dalam kamar.


Keduanya sama-sama sedang diliputi perasaan bahagia. Tapi Daisy tidak tahu apakah kebahagiaannya akan berlangsung lama dan selamanya, atau hanya sementara. Selesai mandi, mereka menunggu pesanan sarapan mereka yang belum datang.


Ting tong ting tong


Juan bangun dari sofa ruang tamu dan membuka pintu apartement. Delivery sarapan mereka sampai, Juan membayar bonnya lalu sang kurir pun pergi.


"Dais, kita sarapan!" panggil Juan. Tak ada jawaban dari Daisy. Juan menghampiri Daisy di ruang tamu, ternyata dia sedang serius menonton anime lucu. Daisy tak mendengar panggilan dari Juan, bahkan saat Juan berdiri di belakang sofa tempat Daisy duduk. Karena Daisy terlalu serius, jadi Juan mencium pipinya. Daisy seketika menoleh dan itu malah Juan manfaatkan untuk mencium bibir Daisy, meski hanya sekilas tapi wajah Daisy bersemu merah.


"Makanan pembukanya sudah! sekarang ayo sarapan!" ajak Juan.


"Cari kesempatan dalam kesempitan! dasar, apa pria dewasa selalu begitu?" gumam Daisy pelan. Juan mendengar gerutuan Daisy dan hanya tersenyum simpul. Senyum dari Juan sangat di sukai para gadis karena saat tersenyum, lesung pipi Juan terlihat dan menggemaskan bagi yang melihat. Begitupun dengan Daisy, dia sangat suka melihat senyum Juan. Mereka sarapan dan setelah sarapan, Juan mengantar Daisy pulang ke rumahnya.


Seminggu kemudian, Daisy akhirnya mulai melaksanakan ujian akhir. Sementara itu Shilla dan Denis sedang mempersiapkan acara pertunangan resmi antara Daisy dan Juan. Meskipun sebenarnya Daisy dan Juan sudah bertunangan empat bulan yang lalu, tetapi tak ada yang tahu selain kedua orang tua Daisy, Zahra dan Herman sang asisten Juan yang setia.


Shilla sudah memesan gaun kebaya berwarna coklat muda dan setelan jas untuk Juan juga berwarna senada dengan kebaya Daisy. Gedung untuk acara pertunangan juga sudah siap, hanya tinggal menunggu Daisy selesai ujian.

__ADS_1


Shilla dan Denis sedang bersantai di pagi hari, sambil menatap bunga mawar di taman atap.


"Apa tidak terlalu dini kita menyiapkan semuanya, Daisy kan belum tentu lulus!" ucap Denis.


"Mas gak percaya sama anaknya sendiri? Mas! selama Daisy sekolah dia tidak pernah tidak mendapat rangking. Jadi mana mungkin dia tidak lulus ujian! Mas percaya deh, Daisy pasti lulus!" jawab Shilla. Denis tersenyum sambil mengangguk.


"Mas masih tidak percaya! putri kita sudah berusia delapan belas tahun, yang artinya kita sudah bersama selama 19 tahun!" ucap Denis membayangkan hari-hari pertama mereka menjadi suami istri. Hari dimana Shilla melahirkan dalam keadaan koma, setiap kenangan-kenangan indah mereka dulu.


"Ya, tidak terasa ya mas?" ucap Shilla sambil menyiram tanaman mawar yang berbaris rapi di dalam tiap pot.


"Mas! jika seandainya aku meninggal lebih dulu, apa kau akan mencari penggantiku?" tanya Shilla.


"Tidak akan, lagi pula kenapa kamu merusak suasana santai kita dengan obrolan berat seperti itu. Aku yakin kamu dan aku akan bersama hingga menjadi kakek dan nenek!" jawab Denis. Dia bangun dari gazebo dan memeluk Shilla dari belakang. Shilla tersenyum dengan kelakuan Denis, meski sudah belasan tahun hidup bersama, mereka selalu romantis saat hanya berdua.


***************************


"Aduh! aku pikir dia tidak akan pernah menjadi pengawas kelas ini!" Daisy bergumam sendiri. Satu kelas ruangan kelas G langsung ribut.


"Pak Satya, sebentar lagi lulus nih Daisy! jadi tidak pak nikah sama Daisy?" goda seorang siswa saat Satya masuk ke kelas mereka.


"Ish, apa-apaan sih mereka itu!" rungut Daisy. Zahra hanya tersenyum dari jauh. Karena sedang ujian, maka mereka duduk terpisah satu meja satu orang siswa atau siswi.


"Kalau jadi! jangan lupa undangannya ya pak! kita mau numpang makan gratis hahaha!" kelakar siswa yang lain.


"WUUUHHHHH" seisi kelas menyoraki siswa tadi.


"Sudah, sudah jangan berisik! ini ujian! kalian kalau berisik mengganggu kelas lain. Kalian tenang saja, aku pasti akan melamar Daisy pada orang tuanya!" jawab Satya.

__ADS_1


"Dasar gila!" gumam Daisy. Satya tersenyum menatap Daisy, Daisy menunduk karena malas melihat wajah Satya. Jam ujian pertama dimulai, Satya berkeliling mengawasi para siswa dan siswi agar tidak punya kesempatan mencontek. Saat Satya berada di samping kursi Daisy, dia berbisik di telinga Daisy.


"Mau aku ajari tidak, sayang?" bisik Satya. Untungnya kursi Daisy selalu di barisan paling belakang.


"Ck," Daisy kesal karena Satya mengganggu konsentrasinya. Satya memajukan wajahnya hendak mencium pipi Daisy, Daisy menghindar menjauhkan tubuhnya ke arah yang lain.


"Jangan macam-macam! atau aku laporkan bahwa kau mencoba memberikan contekan pada peserta ujian!" jawab Daisy berbisik dengan pandangan tajam.


"Silahkan, laporkan saja! Lagi pula yang mau aku ajarkan sama kamu itu, cara menjadi istri yang baik untukku!" jawab Satya dan tersenyum melenggang pergi ke depan kelas.


"Kalau aja disini cuma ada dia dan aku, bakalan aku hajar habis tuh guru genit!" gumam Daisy dalam hati. Dia menggerutu selama mengerjakan ujian, beruntung Daisy di beri otak yang cerdas oleh Tuhan. Jika tidak, entah dia bisa mengerjakannya tepat waktu atau tidak. Jam ujian pertama selesai, semua siswa menyerahkan kertas ujian sedang Daisy yang malas dekat-dekat dengan Satya hanya menitipkan kertas ujiannya pada Zahra. Setelah Satya pergi dan murid-murid kelas G keluar beristirahat, Daisy menjerit kesal.


"Akkhhh... menyebalkan!" teriak Daisy. Zahra sahabatnya mengusap punggung Daisy.


"Sabar, Dais! kamu kenapa sih?" tanya Zahra khawatir.


"Kenapa sih tahun ini kita mesti tes pake kertas. Padahal tahun kemarin sekolah kita sudah pakai sistem UNBK. Kalau pake komputer kan gak bakalan pakai pengawas dari luar. Apalagi guru genit satu itu yang jadi pengawas! ngeselin, nyebelin!" Daisy terus marah-marah. Parahnya lagi saat Daisy sedang kesal, Satya kembali ke kelas G setelah menaruh kertas hasil ujian ke kantor.


"Sayang, makan di kantin yuk!" goda Satya.


Bukk


Daisy melemparkan sapu ke arah Satya, tapi Satya menghindar dan sapu itu mendarat di meja paling depan.


"Ck, jadi makin suka sama kamu, habis kamu gemesin!" Satya keluar dari kelas setelah membuat Daisy kesal setengah mati.


"Ha hahaa, tuh guru blak-blakan banget! gila ya!" ucap Zahra tersenyum geli.

__ADS_1


Daisy menghentak-hentakkan kakinya. Emosinya benar-benar sudah sampai puncaknya, tapi Daisy tidak bisa berbuat apa-apa. Untungnya hanya di hari terakhir ujianlah Satya mengawasi kelas Daisy. Zahra menemani Daisy di kelas sampai jam kedua dimulai. Dan Daisy kesal kembali melihat Satya lagi yang masuk di jam kedua.


__ADS_2