Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Hari keberangkatan


__ADS_3

Sudah hampir seminggu ini,Daisy mendaftar kuliah lewat internet. Dia sengaja mencari yang lokasinya dekat dengan rumah yang Juan beli untuknya. Setiap hari, Daisy menghabiskan waktu berdua dengan Juan di apartement. Daisy meminjam laptop Juan untuk mendaftar kuliah. Juan juga membantu Daisy mengisi tes online dari situs kampus, tempat Daisy mendaftar.


"Sudah seminggu tapi belum ada pemberitahuan satu pun. Dari sekian banyak aku mendaftar!" desah Daisy kesal.


"Sabar sayang, semua kan butuh proses!" hibur Juan.


Daisy menghela nafas berat. Juan mengacak rambut Dais dengan gemas. Juan lalu pergi ke dapur.


Tring


"Eh, ada notifikasi!" gumam Daisy.


Daisy segera membuka pemberitahuan itu. Dan ternyata Daisy lulus tes di fakultas ternama di USA. D berlari mencari Juan yang sedang menyiapkan makan siang di dapur.


"Kak, aku di terima. Yeeyy!" sorak Daisy kegirangan, dia memeluk Juan.


"Selamat, ya. Kapan berangkatnya?" tanya Juan.


"Lusa," jawab Daisy. Daisy tiba-tiba menjadi sedih, karena kesempatan mereka bersama hanya sampai besok lusa.


"Hei, jangan sedih! Kita bisa berkirim kabar lewat telpon atau video call. Ayo makan, kakak sudah membuatkan pepes ayam spesial buatan Chef Juan," ucap Juan.


Mereka makan dalam diam. Meskipun di luar mereka terlihat biasa saja, namun di hati masing-masing, mereka merasa berat untuk berpisah. Juan dan Daisy menyembunyikan perasaan me yang sebenarnya. Seusai makan, mereka menonton tv sambil meminum teh hijau.


Sore hari, Daisy dan Juan berjalan-jalan di taman belakang gedung apartement.


"Apa kamu mau pergi ke taman bermain?" tanya Juan.

__ADS_1


"Taman bermain yang kita lihat dari apartement kakak?" Daisy balik bertanya.


"Iya," jawab Juan singkat.


"Mau, ayo pergi!" Daisy menarik tangan Juan dan berjalan cepat, menuju gedung yang berada di sebelah barat taman belakang apartement. Gedung sepuluh lantai itu ternyata adalah gedung pameran kesenian. Mereka sengaja menyediakan fasilitas taman bermain di atap gedung. Selain untuk menarik pengunjung, juga berfungsi untuk mereka yang membawa anak-anak. Mereka menyediakan tempat penitipan anak di atap gedung .


Daisy dan Juan sampai di atap gedung. Tapi rasa antusias Daisy tiba-tiba langsung hilang. Taman yang terlihat indah dari gedung apartement Juan itu ternyata tak seindah saat Daisy memandangnya dari sana. Dilihat secara langsung malah biasa saja. Sungguh mengecewakan bagi Daisy.


"Kenapa tidak seindah saat dilihat dari apartement kakak!" Daisy mendesah kecewa.


"Karena sesuatu yang terlihat indah dari jauh, belum tentu indah saat dilihat dari dekat."


"Antar Daisy pulang saja!" pinta Daisy.


Mereka menaiki lift kembali turun dari gedung itu. Daisy menunggu di taman samping gedung itu. Sementara Juan pulang ke apartement dan mengambil kunci mobilnya. Setelah mengambil mobilnya di parkiran, Juan menjemput Daisy di taman dan mengantarkannya pulang ke rumah.


"Dais, sudah siap belum? Nak Juan sudah menjemput," panggil Shilla dari ruang tamu.


"Iya, mah. Sebentar!" teriak Daisy kamarnya.


"Nak Juan, memangnya tak apa jika nak Juan harus menunggu Daisy tiga tahun?" tanya Shilla.


"Tidak apa-apa, tante. Juan akan menunggu Daisy. Lagi pula Juan tidak terburu-buru untuk menikah," jawab Juan tersenyum.


Tap tap tap tap


Daisy turun dari tangga sambil menarik sebuah koper besar. Juan yang melihat langsung berlari menaiki tangga dan membawakan koper Daisy.

__ADS_1


"Biar kakak bawa!"


"Terima kasih," ucap Daisy.


"Mah, Daisy berangkat. Sampaikan salam buat papa," pamit Daisy.


"Kenapa kebetulan sekali, papanharus keluar kota saat kamu berangkat!" gumam Shilla. Gumaman pelan yang masih bisa didengar dengan jelas. Daisy mencium pipi kiri dan kanan Shilla.


Juan sudah menunggu di dalam mobil. Daisy menyusul masuk ke dalam mobil Juan dan mereka pun melaju meninggalkan halaman rumah Shilla.


Di Bandara


Juan segera menarik koper Daisy ke pintu keberangkatan. Setelah Daisy melewati antrian pemeriksaan tiket dan pasport, Daisy pun masuk ke lorong menuju pesawat yang akan dia tumpangi.


Juan hendak berbalik pergi tapi suara seseorang menghentikan langkah Juan.


Daisy masih merasa berat untuk berjauhan dengan Juan. Daisy mengurungkan niatnya dan berlari kembali untuk mencari Juan.


"Juan!!" panggil seorang wanita dengan setengah berteriak senang. Gadis itu berlari dan langsung memeluk Juan, tepat di saat Daisy sampai di pintu tempat dia masuk tadi.


Deg


Jantung Daisy bagai dipukul palu besar, melihat Juan berpelukan di depan matanya. Juan tidak tahu jika Daisy berdiri di pintu keberangkatan. Seketika tubuh Daisy limbung.


"Kau bilang akak menungguku, tapi belum juga aku berangkat, kau sudah berpelukan dengan wanita lain. Hiks, hiks," Daisy tak sanggup melihatnya, dia berbalik kembali ke dalam dan naik ke dalam pesawat dengan perasaan hancur.


Di depan pintu keberangkatan, Juan yang dipeluk secara mendadak oleh seorang wanita yang menjadi mantan kekasihnya. Ya, dia adalah Aisyah. Mantan pacar Juan saat kuliah di KL dulu. Juan sama sekali tak membalas pelukan itu, dia hanya berdiri kaku.

__ADS_1


__ADS_2