Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Menyingkirkan


__ADS_3

Mobil hitam Juan membelah jalanan ibu kota yang sangat padat di pagi hari. Meski Daisy terlihat masa bodoh dengan kepindahan Aceng, namun hatinya tetap tergelitik untuk berpikir. Hanya tinggal empat bulan kurang mereka akan menghadapi ujian. Lalu kenapa Aceng harus dipindahkan, Daisy benar benar tak habis pikir.


Juan sesekali melirik kearah gadis yang duduk melamun dikursi samping kemudi. Juan tersenyum penuh arti, senyuman yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.


*Flashback*


Juan bangun lebih pagi dari biasanya. Dia melajukan mobil hitamnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya sebelum menjemput Daisy adalah menuju ke rumah Edo. Edo adalah mantan pegawai minimarket milik Juan. Karena Edo ingin memulai usaha percetakan, jadi dia memberanikan diri meminjam uang pada Juan untuk modal.


Juan meminjamkannya dengan jangka waktu yang tak terbatas. Sampai Edo benar benar sukses, barulah Juan akan menagihnya. Tetapi karena kemarin Juan melihat anak Edo mengecup pipi Daisy, jadi Juan pergi pagi-pagi buta untuk menyingkirkan hambatannya mendapatkan Daisy. Juan tiba dirumah Edo tepat saat Edo keluar dari rumahnya, untuk mengambil koran paginya.


Edo melihat sebuah mobil hitam yang terasa familiar dimatanya, berhenti tepat didepan gerbang. Edo merasa resah dan juga cemas. Edo makin cemas saat melihat siapa orang yang keluar dari mobil itu. Tergopoh-gopoh Edo menghampiri Juan dan membukakan gerbang rumahnya untuk Juan.


"Pak Juan, silahkan masuk! Tumben sekali bapak berkunjung ke gubuk kecil saya pagi-pagi!" Edo mengantar Juan duduk diruang tamunya. Juan duduk dengan angkuh dengan pandangan dingin, yang serasa menusuk kedalam tulang-tulang Edo. Juan duduk bersandar disofa dan menumpangkan sebelah kakinya ke kaki yang lain. Edo duduk di depannya dengan gemetar.


"Aku sangat sibuk jadi aku akan to the point. Bayar hutang dua puluh jutamu hari ini!" ucap Juan dengan wajah dingin. Edo terkesiap, matanya melebar sempurna karena ternyata kecemasan Edo benar adanya, mantan bosnya itu datang untuk menagih hutang.


"Pak Juan, bisakah pak Juan beri saya waktu. Saya masih belum bisa mengembangkan usaha saya. Dan uang itu masih saya butuhkan untuk simpanan modal usaha saya" ucap Edo dengan ketakutan. Meski udara pagi masih terasa dingin menusuk, tapi keringat didahi Edo sudah bercucuran. Bagaimanapun juga Edo adalah mantan karyawannya Juan. Sedikit banyak dia tahu seperti apa sifat asli Juan yang sebenarnya. Juan tegas dan keras dalam urusan bisnis dan keuangan, menurut yang Edo tahu.


"Aku bisa memberikanmu waktu tanpa batas dengan satu syarat!" ucap Juan sambil menurunkan kakinya, lalu mencondongkan tubuhnya kedepan menatap tajam pada Edo.


"Katakan saja apa syaratnya tuan!" jawab Edo dengan gugup. Dia khawatir syarat yang Juan ajukan akan memberatkannya. Aceng keluar dari kamarnya dan menghampiri Edo. Aceng menatap heran pada Juan. "Orang ini adalah orang yang dijodohkan dengan Daisy. Kenapa dia kesini pagi-pagi buta begini?" Aceng bertanya tanya dalam hati. Dan tak lama pertanyaan yang tak berani Aceng ungkapkan itu mendapat jawaban dari Juan.


"Hari ini dan seterusnya jangan biarkan anakmu satu sekolah dengan Daisy. Dia tunanganku dan anakmu ini sudah berani mendekatinya. Singkirkan dan pindahkan dia kesekolah lain. Mulai hari ini, aku tidak ingin melihatnya ada disekolah yang sama dengan tunanganku. Hutangmu bisa kau bayarkan kapanpun jika kau menyetujui syaratku," Juan bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia pergi tanpa menunggu Edo menjawab ucapannya, karena Juan tahu apa jawaban Edo meski dia tidak mengatakannya. Juan berjalan keluar dan segera melaju pergi dengan mobil hitammya, menuju ke rumah Daisy.

__ADS_1


*flashback off*


Juan tersenyum puas, karena usahanya menyingkirkan saingan cintanya itu berhasil. Mobil Juanpun sampai digerbang sekolah Daisy setelah Daisy berlalu dari pandangannya, Juan memutar balik mobilnya dan pergi ke sebuah supermarket yang hampir bangkrut. Pemilik supermarket ingin menjual supermarket itu dan Juan berencana membelinya. Sampai disupermarket yang terdiri dari tiga lantai itu Juan langsung berjalan masuk dengan memakai kaca mata hitam dan setelan jas hitamnya. Herman yang sudah menunggunya itu segera menghampiri.


"Pak Juan, apakah bapak akan bernegosiasi sendiri?" tanya Herman. Juan membuka kaca matanya dan memberikan perintah pada Herman.


"Aku harus menjemput Daisy dan mengantarnya pulang. Aku takut akan lama dan membuat Daisy menunggu, jika aku turun tangan sendiri. Pak Herman saja yang nego dengan pak Surendra. Ingat harganya harus sesuai dengan yang biasa kita beli, tawarkan dia tiga perempat harga dari yang dia minta!" Herman menjawab dengan mengangguk, Juan pergi dari supermarket untuk melihat apartementnya, yang kemarin ditinggalkan penyewanya keluar negeri.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Juan sudah didalam apartementnya. Dia berkeliling dan melihat, semua barang barang penyewanya sudah tidak ada didalam apartementnya. Awalnya Juan ingin menyewakan kembali apartement mewahnya, tapi Juan berubah pikiran. Juan ingin mempersiapkan tempat tinggal yang layak untuk Daisy, seandainya dia bersedia menikah dengan Juan.


Juan menelpon jasa cleaning service untuk membersihkan apartementnya, sembari menunggu jam pulang sekolah Daisy. Jam sebelas siang cleaning service itu sudah selesai membersihkan apartement Juan. Juan membayar dan cleaning service itu pun pergi setelah mendapatkan upahnya. Juan akan mengisi apartementnya dengan barang serba mewah. Dia menelpon toko furniture terbaik di ibu kota dan mentransfer sejumlah uang, Juan memberikan pascode apartementnya. Juan juga menyewa jasa interior desain agar menata dan mengatur letak barang barang yang dibelinya, supaya terlihat sempurna. Selesai menelpon dan mentransfer uang lewat e-banking, Juan meninggalkan apartement dan pergi menjemput Daisy di sekolah.


Disekolah, Daisy dan Zahrana memilih untuk tak segera pulang dan mengobrol dikantin.


"Za,bagaimana keadaan Roni? Kapan dia mulai sekolah, ini sudah semakin dekat ke ujian nasional," ucap Daisy sambil menyedot es kelapanya.


"Kemarin dia sudah membaik dan mungkin besok dia mulai sekolah. Eh Dais, mungkin tidak jika Aceng pindah karena takut sama kamu?" tanya Zahra. Dia menatap serius kearah Daisy yang duduk hadapannya.


"Takut? kenapa? Lagipula dia bukan tipe cowok yang takut sama cewek," jawab Daisy. Zahrana hanya mengangguk-angguk setuju dengan pemikiran Daisy, bahwa Aceng bukanlah tipe orang yang penakut apalagi pada perempuan. Zahra melirik jam ditangannya.


"Dais, sudah setengah dua siang. Tunanganmu pasti sudah dari jam dua belas menunggu didepan gerbang. Kalau dia belum makan siang bagaimana, kasihan kan!" ucap Zahrana dan mendapat lirikan kesal dari Daisy.

__ADS_1


"Bukannya kamu yang punya ide buat bikin dia ilfeel dan kerjain aja. Dan sekarang kamu malah bilang kasihan. Ya udah ayo kita pulang bareng om Juan," Daisy menggandeng tangan Zahrana dan menghampiri Juan didepan gerbang yang sedang mondar mandir. Juan mendengar suara langkah kaki dan segera menoleh ke arah suara. Tersirat kelegaan di wajah Juan, setelah hampir dua jam menunggu Daisy dengan cemas. Tiba tiba hujan turun, Daisy dan Zahra berlari dan segera masuk ke mobil Juan. Daisy duduk berdua dengan Zahra dikursi belakang. Zahra sedikit tak enak hati, karena mereka seolah menganggap Juan supir.


Sampai didepan rumah Zahra langsung turun, setelah sebelumnya berterima kasih pada Juan karena sudah diantar pulang. Juan kembali memacu mobilnya menembus hujan deras yang membuat jarak pandangnya sedikit berkurang, dan memaksa Juan mengurangi kecepatannya dibawah standart.


"Berhenti!" ucap Daisy. Dia masih terus mencoba untuk mengerjai Juan, agar dia menyerah dan memutuskan pertunangannya dengan Daisy.


"Ada apa Dais?" Juan bertanya dengan sabar.


"Belikan aku siomay, yang ada diseberang jalan!" ucap Daisy dengan ketus. Juan menoleh keseberang jalan dan melihat gerobak siomay yang sedang terparkir dihalte.


"Tapi ini hujan dan aku lupa membawa payung!" jawab Juan.


"Aku tidak perduli, cepat belikan kalau tidak mau, biar aku yang membelinya sendiri," Daisy membuka sedikit pintu mobil untuk mengancam dan berhasil.


"Aku belikan, tutup pintunya dan tunggu disini!" Juan keluar setelah menyuruh Daisy menunggu. Juan menyebrang menembus derasnya air hujan yang turun tanpa peringatan. Dalam sekejap tubuh Juan basah kuyup.


"Dia itu bego atau gila sih. Disuruh hujan hujanan beli siomay bukannya marah malah nurut aja. Padahal kan maksudku biar dia marah jadi aku ada alasan buat mutusin pertunangan ini. Kenapa dia malah hujan hujanan sih. Kan jadi ngerasa bersalah sekarang akunya," Daisy menggerutu dan tak lama Juan masuk kedalam mobil, lalu memberikan sebungkus siomay pada Daisy.


"Nih siomaynya. Aku membeli siomay dengan banyak sambal. Kata tante kamu suka pedas," ucap Juan sambil melajukan mobilnya kembali.


"Terima kasih," ucap Daisy. Dia menatap Juan yang menyetir didepannya dalam keadaan basah kuyup. Bahkan dari lengan jas hitamnya menetes air hujan, yang menandakan jas itu menyimpan banyak air hujan yang diserapnya. Juan terkadang terlihat bergidik menahan dingin. Daisy makin merasa jika dia sepertinya sudah keterlaluan. Meski bibirnya membiru kedinginan tapi Juan tetap tersenyum. Meski tubuhnya kedinginan tapi Juan merasa senang, setidaknya Daisy mengucapkan terima kasih kali ini.


Juan membuka pintu mobilnya setelah sampai dihalaman rumah Daisy. Juan membukakan pintu belakang mobil, dan Daisy turun sambil memperhatikan pakaian Juan yang masih saja meneteskan air.

__ADS_1


"Masuklah, aku harus segera pulang sebelum seluruh kulitku mengkerut kedinginan," Juan masih saja bersikap manis padahal jelas jelas Daisy sudah mengerjainya. Setelah Daisy berlalu dibalik pintu rumahnya, Juan segera memutar mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2