
Seusai berendam, Daisy menyantap makan malam yang baru dibawakan oleh Satya. Setelah berendam air hangat, Daisy merasa lebih segar dan tidak terlalu lemas.
"Aku harus memulihkan tenaga lebih dulu, setelah itu aku bisa mencari jalan untuk keluar dari sini. Jika aku sudah mengetahui jalan keluar, aku akan memberi pelajaran pada pria gila itu!" gumam Daisy.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Daisy memutuskan untuk tidur.
Keesokan hari
Juan yang kelelahan karena perjalanan ke kota Y kemarin, kini tertidur di sofa ruang kantornya. Wajah tampan itu kini terlihat begitu sendu. Bahkan dalam keadaan tidur pun, gurat kesedihan itu begitu terlihat dengan jelas di wajahnya. Juan tersentak kaget saat Koko mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Ehm," Juan menjawab dengan gumaman.
Herman dan Koko masuk untuk melaporkan tugas yang kemarin Juan perintahkan. Juan duduk bersandar di sofa, di memejamkan mata karena merasakan sakit di kepalanya.
"Katakanlah!" perintah Juan.
"Lapor pak Juan, saya sudah memutus kontrak dengan perusahaan kontruksi MK. Dan ini adalah nama perusahaan kontruksi yang akan menggantikan perusahaan MK. Silahkan bapak lihat, jika bapak setuju, tinggal di tanda tangani," ucap Koko.
"Hem, biar langsung ku tanda tangani. Aku percaya kau akan melakukan yang terbaik!" ujar Juan.
"Terima kasih, jika bapak percaya pada saya!" jawab Koko. Koko keluar setelah berkas kontrak itu di tanda tangani.
"Bagaimana pak Herman? Sudah menemukan apa yang saya suruh kemarin?" tanya Juan.
"Sudah, dia ada di depan pintu!"
"Suruh dia masuk!" ucap Juan.
Herman mengajak Detektif bayaran itu masuk. Juan terbelalak ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Wajah yang tak asing di mata Juan, berdiri dengan tubuh tegap memberikan senyum ramah pada Juan.
"Kau!" tunjuk Juan.
"Saya, Aceng. Saya rasa pak Juan masih mengingat saya dengan baik!" ucap Aceng.
__ADS_1
"Anda mengenalnya pak Juan?" tanya Herman.
"Ya, dia mantan teman Daisy di SMA dulu!" jawab Juan.
"Saya akan menemukan Daisy untuk pak Juan dengan selamat! Saya juga ingin menyampaikan terima kasih, atas jasa pak Juan kepada orang tua saya. Awalnya saya pikir bapak orang yang jahat karena telah mengancam orang tua saya, tapi saya ralat kembali ucapan saya. Karena cerita dari ayah saya, saya jadi mengerti seperti apa anda sebenarnya!" ucap Aceng panjang lebar.
"Terima kasih, dan tolong temukan Daisy secepatnya!" jawab Juan.
"Baik, saya permisi!"
Herman menyodorkan box makanan. Juan menerimanya, dan tersenyum. Selama ini, meski tanpa sosok orang tua kandung, tapi Juan memiliki orang yang sangat peduli kepadanya. Selain Shilla, Herman juga sangat mempedulikan Juan seperti putranya sendiri.
*********************************
Aceng memulai penyelidikkannya. Dia memulai dari lokasi sekitar kejadian. Aceng melihat data gedung dengan CCTV yang tidak di retas, sekitar belokkan gedung perkantoran. Dia catat semua nomor seri dan warna mobil yang keluar dari belokkan gedung kantor Juan.
Aceng mencari data kepemilikan mobil-mobil itu. Lalu mendatangi rumahnya satu persatu. Ada satu buah mobil yang memiliki data palsu, saat Aceng mendatangi alamat itu ternyata hanya sebuah lapangan berumput yang tak terurus. Aceng melaporkan hal itu pada Juan.
Di rumah Satya
"Pria gila, dia memakai dosis berapa sih! Aku masih merasa kedua kakiku tak bertenaga, bahkan untuk ke kamar mandi saja sudah membuatku lelah. Lihat saja nanti saat aku sudah pulih, akan ku keluarkan jurus taekwondo yang ku milikki. Aku sangat ingin mematahkan kaki dan tanganmu yang sudah menyentuhku!" maki Daisy yang baru sampai pintu kamar mandi.
"Sudah selesai memakiku, sayang! Hahaha, aku akan menunggumu kembali segar dan aku akan bermain denganmu. Aku membawakanmu sarapan dan baju ganti. Aku harus mengajar, jadi maaf karena kau akan sendirian di rumah," ucap Satya
"Dia akan pergi? Bagus, ini saatnya aku mencari jalan keluar!" gumam hati Daisy. Daisy sudah tersenyum senang, tapi tak berapa lama senyumnya hilang.
"Oh, ya. Aku ijinkan kamu mencari jalan keluar, jika kau mampu menemukannya!" ucap Satya dengan senyum jahat. Dia keluar dari kamar Daisy.
Daisy mengepalkan tangannya dengan emosi.
"Kita lihat saja! Aku akan menemukan jalan keluar bagaimanapun caranya!" ucap Daisy. Dia segera membasuh tubuhnya dan berganti baju lalu memakan sarapannya. Setelah makan, Daisy mulai berjalan pelan keluar dari kamar besar itu.
Dia kaget saat melihat bahwa ruangan di depan kamarnya begitu luas. Dia pergi ke dapur, tapi tak ada pintu belakang dan hanya dinding dan perlengkapan dapur.
"Tidak ada pintu belakang, dasar pria aneh. Kalau terjadi kebakaran di dapur kau bisa mati jadi Satya panggang!" gerutu Daisy. Dia mengelilingi rumah itu, inchi demi inchi.
__ADS_1
Seluruh kamar dia buka tapi, Daisy bingung, bukan hanya tidak ada pintu tapi juga tidak ada jendela kaca satupun. Daisy tidak tahu jika dia berada di rumah bawah tanah, dia hanya kebingungan karena tak ada pintu satupun untuk keluar. Semua tempat yang dia lihat hanya dinding dan furniture.
"Tidak mungkin tidak ada jalan! Memangnya dia hantu bisa menembus dinding!" gerutu Daisy. Daisy kemudian mencoba membuka pintu di sebelah kamarnya. Pintu itu terkunci, membuat Daisy curiga.
"Tunggu tenagaku pulih deh! Saat ini tanganku tidak bisa mengangkat sesuatu yang berat. Sepertinya pintu keluarnya ada di kamar ini!" Daisy kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah berkeliling. Tanpa terasa dia tertidur.
Siang hari
Daisy merasa ada yang mengusap pipinya dengan lembut.
"Waktunya makan siang, sayang!" ucap Satya lembut.
Dalam keadaan setengah sadar, Daisy menjawab.
"Aku ngantuk kak, nanti saja makannya! Kak Juan makan saja duluan!" ucap Daisy.
Satya meradang lalu menarik tangan Daisy hingga dia terduduk di ranjang.
"Aww," Daisy memekik kesakitan karena tangannya di tarik dengan kuat oleh Satya.
"Kamu tidak akan aku biarkan bertemu lagi dengan kakak kesayanganmu! Cepat makan!" bentak Satya dengan pandangan tajam menusuk.
"Iya," jawab Daisy pelan.
Satya mengernyit heran, karena biasanya Daisy selalu membantah setiap ucapannya. Tapi kali ini Daisy dengan patuh menuruti ucapan Satya. Satya keluar dan membiarkan Daisy makan dengan tenang.
Di kantor Juan
"Pak Juan, ada satu mobil yang memiliki alamat palsu. Saya rasa mobil itulah yang membawa Daisy," Aceng melapor pada Juan.
"Kurasa bisa saja seperti itu."
"Pak Herman, bagaimana dengan orang saya suruh awasi?" tanya Juan.
"Tidak ada yang aneh, pak Juan! Pagi hari dia berangkat mengajar dengan mobil merah, lalu pulang dan tidak keluar lagi. Saat dia mengajar, saya mengirim orang untuk masuk ke rumah itu, dan hasilnya sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Non Daisy!" jawab Juan.
__ADS_1
"Sial, siapa sebenarnya yang bermain-main denganku?" Juan bertanya-tanya sendiri. Sudah dua hari Daisy hilang tanpa jejak. Juan benar-benar tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Daisy. Herman hanya bisa menatap Juan dengan sedih