Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Selamat jalan, Ros!


__ADS_3

Juan pergi ke lobby rumah sakit. Dia sedang memilih kata yang sekiranya bisa di pahami oleh Daisy. Juan menghela nafas berat, lalu mendial nomor Daisy.


Tutt tutt tutt


"Halo!" sapa Daisy.


"Halo, sayang. Aku ingin pernikahan kita di tunda!" ucap Juan.


"Ditunda? Kenapa?" tanya Daisy tenang.


"..." Juan bercerita panjang lebar.


Daisy dengan santai mendengarkan cerita Juan. Dia adalah seorang Dokter, dia bisa memahami seperti apa keadaan Rosdiana.


"Kamu tidak marah kan, sayang?" tanya Juan. Juan takut, Daisy hanya berpura-pura tak marah tapi sebenarnya marah. Jadi dengan perasaan cemas dia bertanya.


"Sayang, aku adalah seorang Dokter! Aku tidak akan marah atau cemburu. Aku percaya padamu, cintamu hanya buat aku. Ya, kan?" tanya Daisy.


"Aku sangat beruntung memiliki calon istri yang super baik. Terima kasih, bisakah aku mendengarnya lagi?" tanya Juan.


"Dengar apa?" tanya Daisy heran.


"Kamu tadi panggil sayang, ini pertama kalinya kamu panggil kakak sayang!" jawab Juan sambil tersenyum senang.


"Dah, sayang!" ucap Daisy sambil tersenyum.

__ADS_1


Juan mengakhiri panggilan suara itu. Dia masih tak sepenuhnya tenang. Ia masih merasa takut, ia takut Daisy hanya berbasa-basi. Juan kembali ke ruang perawatan Rosdiana. Di sana Dokter dan suster sedang memacu jantung Rosdiana dengan alat kejut jantung.


Juan berdiri terpaku di samping Sultan. Sekali dua kali Dokter tak berhasil mengembalikan detak jantung Rosdiana. Setelah lima kali, barulah jantung Rosdiana mulai berdetak kembali. Sultan tertunduk sedih. Juan dan Sultan berbicara di luar.


"Keadaan Ros makin memburuk. Dokter bilang, kita harus siap dengan keadaan terburuk. Entah esok atau lusa, atau mungkin nanti malam, Ros bisa meninggal kapan saja!" ucap Sultan meneteskan air mata.


"Saya akan menjaga di sampingnya!" ucap Juan. Ia masuk kembali ke dalam dan duduk di samping ranjang. Juan harap Rosdiana bisa sembuh kembali. Tapi melihat keadaan Rosdiana rasanya hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya.


Tangan Rosdiana bergerak, kemudian dia sadar dan berbicara pelan.


"Akak, Apah?" Rosdiana menanyakan ayahnya. Juan keluar memanggil Sultan.


"Apah, Ros tak kuat. Boleh Apah lepas Ros dengan ikhlas?" tanya Rosdiana pada Sultan. Sultan mengangguk mencium tangan putrinya. Air mata kesedihan tak kuasa ia bendung.


"Ros bahagia! Ros bisa tidur dengan tenang, melihat dua lelaki yang Ros cinta ada di samping Ros."


Rosdiana berkata dengan lemah. Kemudian ia berucap pada Juan.


"Akak, bisakah akak beri kecupan selamat tidur untuk Ros? Sampaikan salam Ros tuk wanita yang akak cinta!" ucap Rosdiana semakin lemah.


Juan mengecup kening Rosdiana, dan terdengarlah bunyi.


Niittttt


"Selamat tidur, Ros," ucap Juan dengan air mata dan isak tangis yang tak bisa ia tahan.

__ADS_1


Rosdiana pergi dengan senyuman. Penderitaannya telah berakhir, perjalanan hidupnya telah berakhir di depan kedua orang yang terisak kehilangannya. Dia tak lagi merasakan sakit, dia pergi dengan damai.


Sultan menekan tombol dan Dokter pun datang ke ruangan itu. Dokter mengucapkan turut berbela sungkawa atas kepergian Rosdiana. Setelah setahun dia di rawat di rumah sakit itu, kini ia pergi untuk selama-lamanya.


Juan turut memakamkan Rosdiana dan menemani Sultan sampai dua hari. Dia tahu, Sultan pasti sangat sedih karenanya Juan menemaninya. Setidaknya sampai emosinya stabil. Setelah dua hari, Juan pamit pulang ke Indo.


"Encik jangan terlalu banyak bersedih! Ros sudah bahagia. Juan akan main sesekali waktu. Jaga kesehatan Encik, saya pulang," pamit Juan.


"Terima kasih! Sepertinya Ros hanya menunggu bertemu denganmu Juan! Maaf karena aku memintamu kemari, padahal kau pasti sangat sibuk. Sampaikan salamku dan Ros pada calon istrimu!" ucap Sultan.


Juan mengangguk dan melangkah keluar rumah diantar Sultan. Juan melewati pintu gerbang, saat pintu gerbang sudah tertutup, Juan berbalik menatap kamar Ros dilantai atas.


"Selamat tinggal, Ros. Terima kasih atas perasaanmu padaku, dan maaf karena aku tak bisa membalas cintamu. Beristirahatlah dengan tenang, bahagialah kamu di sana."


Juan kemudian kembali berbalik dan menyetop taxi. Dia pergi ke Bandara dan bersiap pulang ke Indo. Dia belum sempat mengabari Daisy tentang kepergian Ros. Juan akan menceritakannya secara langsung saja pada Daisy. Sebelum pesawat take off, Juan mengirim pesan teks pada Daisy.


Di rumah Shilla


Daisy baru saja pulang dari klinik kantor Juan. Daisy membawa mobil sendiri, kebetulan mobil Denis tidak di pakai karena Denis sedang tak enak badan. Daisy naik ke kamarnya lalu mandi dan berganti baju. Daisy kemudian turun untuk makan malam bersama Denis dan Shilla.


Daisy baru saja selesai makan malam bersama, ketika masuk ke kamar dan mendengar suara di ponselnya. Daisy membuka pesan teks yang Juan kirim.


*Sayang, bisa datang ke apartement dan memasakkan sesuatu untukku, tolong! Aku akan tiba dalam tiga jam.*


"Ok. Kirim," Daisy sudah mengirim pesan balasan untuk Juan. Kemudian dia meminta ijin menginap pada kedua orang tuanya. Setelah mendapat ijin, Daisy meluncur dengan mobil hitam Denis, meluncur dengan kecepatan normal menuju apartement Juan.

__ADS_1


__ADS_2