Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Saingan baru


__ADS_3

Daisy masuk kedalam kelasnya setelah mengantar Satya. Zahra memarahi Daisy yang baru masuk.


"Kamu kemana, sih! untung saja gurunya belum masuk!" gerutu Zahra.


Pelajaran dimulai, Daisy tidak fokus belajar karena memikirkan kuliahnya nanti. Dia masih ingin belajar ke luar negeri, tapi merasa berat untuk pacaran jarak jauh dengan Juan.


Jam istirahat


Satya pergi ke kantin bersama bu Septi. Di koridor jalan menuju kantin, Satya bertemu dengan Daisy dan Zahra. Satya memanggilnya.


"Daisy!" panggil Satya. Satya dan Septi menghampiri Daisy yang berhenti berjalan karena dipanggil Satya.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Septi pada Daisy dan Satya.


"Kebetulan tadi, Daisy yang mengantar saya ke kantor!" jawab Satya.


"Oh, begitu! kalau begitu, Daisy tolong temani pak Satya ke kantin. Dia ini tamu sekolah kita! Ibu ada urusan jadi kamu gantikan ibu untuk menemani pak Satya," ucap Septi.


"Baik, bu!" ucap Daisy.


"Dais, aku sama bebeb duluan ya!" Zahra pergi menggandeng Roni.


Tiba di kantin, Satya menjadi pusat perhatian siswi-siswi yang sedang mengantri membeli makanan di kantin. Sebagian ada yang fokus membicarakan ketampanan Satya, sebagian yang lainnya membicarakan Daisy. Meskipun mereka berbicara dengan pelan, tapi Satya dan Daisy mendengarnya dengan jelas.


"Eh, itu kayanya guru baru ya? gantengnya!" ucap salah satu siswi.


"Bukan, gue dengar sih kalau dia guru yang bakal jadi pengawas kelas 12 G saat ujian nanti," timpal siswi yang lainnya.


"Sayangnya, setiap cowok yang ada di sekolah ini, pasti kepincut dewi kita!" ucap yang lain.


"Ternyata dia dewi di sekolah ini!" gumam Satya dalam hati.

__ADS_1


Daisy mengajak Satya duduk di kursi khusus staff kantor dan guru. Daisy menanyakan makanan apa yang diinginkan Satya.


"Bapak mau pesan apa? biar saya pesankan untuk bapak!" Daisy menawarkan diri, tapi Satya justru melakukan sebaliknya.


"Aku saja yang pesan! kamu mau pesan apa?" tanya Satya dengan tersenyum. Daisy tidak nyaman dengan pandangan siswa-siswi yang kebanyakan menatapnya.


"Hei, tegang sekali! ada apa?" tanya Satya sambil melihat sekeliling, karena Daisy dari tadi selalu celingukkan menatap sekitarnya.


"Saya, pesan jus jambu saja! maaf merepotkan bapak. Ini uangnya!" Daisy menyodorkan uang untuk membayar jusnya.


"Kali ini, biar saya traktir! sebagai ucapan terima kasih, karena sudah mengantar saya tadi pagi, dan juga menemani saya makan siang!" ucap Satya lalu pergi ke stand makanan yang tidak terlalu ramai. Supaya tidak terlalu lama mengantri.


Seorang siswa yang dulu pernah menyatakan cinta pada Daisy, menghampiri meja Daisy saat Satya sedang memesan makanan. Dia duduk di depan Daisy.


"Pantas saja, semua pria di sekolah ini yang menyatakan cinta padamu, selalu saja kau tolak! Ternyata kau lebih suka om-om. Tadi pagi juga diantar om-om, eh di sekolah ngegaet om-om lagi!" sindir siswa tersebut. Daisy mengepalkan tangan dengan keras.


Jika saja, Daisy tidak mempunyai janji dengan ibunya, untuk tak lagi berkelahi dengan laki-laki, maka bisa dipastikan Daisy sudah mengeluarkan jurus taekwondo untuk menghajarnya.


"Der, ini tempat staff. Jangan berbuat onar dan pergilah. Aku di sini karena menggantikan bu Septi. Pergilah!" ucap Daisy dengan menahan emosi. Satya datang membawa dua gelas jus jambu dan satu porsi gado-gado dalam nampan. Dery segera bangun saat Satya datang.


"Selamat siang! teman Daisy ya?" tanya Satya. Dia lalu duduk di tempatnya semula.


"Saya mantan penggemar Daisy, pak!" jawab Dery.


Daisy menunduk kesal seraya mengepalkan tangannya. Untungnya Dery segera pergi setelah menjawab pertanyaan Satya. Satya menatap Daisy yang terus menunduk lalu bertanya dengan hati-hati.


"Kau populer juga ya?" goda Satya. Daisy mengangkat wajahnya. Dia menatap Satya dengan sebal.


"Sebaiknya bapak cepat makan! saya harus segera masuk kembali ke kelas!" ucap Daisy sambil menyesap jus jambu miliknya. Satya tersenyum melihat tingkah Daisy.


"Saya suka, dengan tipe wanita sepertimu! Bagaimana kalau lulus sekolah kau menikah denganku?" ucap Satya secara blak-blakan.

__ADS_1


"Ffuuuhhh, uhukk uhukk!" Daisy langsung tersedak jus jambu yang sedang disesapnya.


"Kenapa? kamu tidak apa-apa kan!" tanya Satya khawatir. Dia mengambil tisu di meja dan memberikannya pada Daisy.


"Pak, kalau bercanda lihat situasi! Bapak lihat sekeliling, bukan cuma saya yang kaget. Semua orang juga jadi memandang ke sini gara-gara candaan bapak! Gimana saya gak syock!" ucap Daisy dengan nada kesal.


"Aku tidak bercanda, maukah kau menikah denganku setelah lulus sekolah?" tanya Satya kembali.


Mata Daisy membelalak lebar, karena kali ini Satya mengucapkannya dengan lantang. Semua siswa siswi yang sedang beristirahat di kantin, sontak semuanya menatap ke arah Daisy dan Satya. Kantin yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk obrolan siswa siswi dari berbagai kelas, kini senyap dan hanya terdiam memandang Daisy dan Satya. Daisy berdiri dan Satya pun ikut berdiri.


"Saya permisi!" ucap Daisy lalu berlari ke kelasnya, Zahra dan Roni mengikuti Daisy ke kelas.


Teng teng


Bel berbunyi, waktu istirahat sudah habis. Semua siswa siswi kembali ke kelasnya. Satya pergi kembali ke kantor untuk berpamitan pada para guru. Semua persyaratan pertukaran guru sudah dilengkapi oleh Satya, dia hanya tinggal datang minggu depan untuk menjadi pengawas ujian.


Dari seusai jam istirahat hingga bel pulang sekolah berbunyi, Daisy tambah tidak fokus pada pelajaran. Dia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Satya melamarnya di pertemuan kedua mereka. Dihadapan banyak orang pula, Daisy merasakan kepalanya berdenyut nyeri.


"Dais, kamu memang pantas dijuluki dewi sekolah kita! Bukan cuma siswa-siswa populer yang jatuh hati padamu! Bahkan seorang guru sampai melamarmu di depan semua murid! Salut deh!" goda Roni, dia tertawa lebar.


plakk


Zahra menepak tangan Roni dengan kesal.


"Kami itu, bercanda gak tahu tempat!" rungut Zahra pada Roni


"Uppstt, sory Dais!" Roni segera meminta maaf pada Daisy. Daisy tak menjawab, karena sedang merasakan nyeri di kepalanya. Mereka bertiga keluar dari kelas setelah merapikan buku-buku pelajaran mereka ke dalam tas masing-masing. Zahra dan Roni pulang bersama seperti biasa. Sedangkan Daisy celingukkan mencari keberadaan Juan.


"Dais, pulang bareng kita aja kalau kak Juan tidak menjemput!" ajak Zahra dari dalam mobil Roni.


"Gak usah, aku tunggu kak Juan saja. Sepertinya dia terlambat!" jawab Daisy. Zahra dan Roni tak banyak bicara lagi dan langsung melaju meninggalkan Daisy di depan gerbang.

__ADS_1


Daisy mondar-mandir dengan gelisah, karena tidak biasanya Juan terlambat menjemputnya. Sebuah mobil berwarna merah terang berhenti di depan Daisy, dan Satya keluar dari dalam mobil itu. Daisy segera berlari menghindari Satya, karena kepalanya sedang pusing. Daisy terjatuh dan Satya segera membantunya berdiri. Juan datang di saat Satya memeluk pinggang Daisy.


****************************


__ADS_2