Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Pilu


__ADS_3

Daisy sadar sehari kemudian, ia kebingungan kenapa semuanya berkumpul dan terlihat sedih. Ia memperhatikan sekeliling lalu terperanjat menatap botol cairan infus yang tergantung. Daisy bangun dan duduk seketika.


"Kak, kenapa aku ada disini?" tanya Daisy menahan tangis. Ia tahu saat ia pertama demam sebenarnya ada masalah dengan tubuhnya. Tapi ia bersikeras tidak mau ke rumah sakit, ia takut tidak bisa menerima kenyataan.


Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab, mereka semua hanya tertunduk sedih. Juan mendekati istrinya dan duduk di tepi ranjang. Juan lalu memeluk sang istri dengan erat. Air mata Daisy terjatuh di pundak Juan.


"Kenapa Kak Juan membawaku ke rumah sakit, aku sudah bilang aku tidak mau ke rumah sakit. Kenapa Kak Juan, kenapa!!" teriak Daisy. Ia mulai terisak pilu, tangisannya membuat hati setiap orang yang ada di ruangan itu serasa teriris-iris. Sakit dan sesak mereka rasakan, mendengar tangisan meraung-raung dari Daisy.


"Sabar, sayang. Sabar!!" ucap Juan yang juga meneteskan air mata mendengar betapa sedihnya tangisan Daisy. Daisy mendorong Juan dan mengusir semua orang.


"PERGIII ...."


"Sayang, tenanglah!" ucap Juan.


"Aku bilang pergi, semuanya pergi ...."


Shilla keluar dipeluk Denis, Koko, Herman dan Elis juga keluar.


"Kak Juan juga pergi, aku mau sendiri!" Daisy mengamuk dan terus berteriak marah, mengusir semua orang.


Aurora dan dua suster masuk ke dalam ruangan Daisy dan menyuruh Juan keluar. Suster itu memegangi kedua sisi tangan Daisy dan Aurora menyuntikkan obat penenang. Daisy melemah seketika dan tidak lagi berontak.


"Kenapa kamu hilangkan Akami, Ra. Hiks hiks!" Daisy terisak pelan. Air mata Daisy sungguh membuat Aurora hanya bisa menahan dirinya, agar tidak menangis di depan Daisy. Jika Aurora juga harus lemah lalu siapa yang akan menguatkan Daisy.


"Kamu sudah tahu kan, bandel. Sejak hari pertama kamu demam, aku yakin kamu sudah mulai pendarahan. Dan kamu bersikeras mempertahankan bayimu, mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu seperti apa dirimu saat Juan membawamu ke rumah sakit. Wajahmu sudah sepucat mayat, bibirmu membiru. Kau ingin mati dan membuat Juan juga mati!!" bentak Aurora. Kedua suster meninggalkan Aurora dan Daisy.


"Tidak, kenapa Kak Juan harus mati!" jawab Daisy lemah.


"Separuh jiwanya adalah dirimu, separuhnya ada pada bayimu. Dia sudah kehilangan separuh jiwa dari bayimu, bayangkan jika dia kehilangan separuh jiwanya lagi darimu. Apa kau pikir ia akan hidup. Mungkin dia tetap hidup, tetapi sebagai manusia bernafas tanpa mempunyai jiwa. Kau tahu apa artinya, Juan mungkin bisa gila. Kau mau seperti itu?" Aurora memarahi Daisy.

__ADS_1


"Aku ingin tidur," jawab Daisy yang sudah pusing dimarahi oleh Aurora, sang sahabat.


"Ya, tidurlah. Jika bangun tidur kau masih seperti ini, aku akan memasukkan Juan ke rumah sakit jiwa!!" ancam Aurora lalu pergi meninggalkan Daisy.


"Aku tahu dari awal, jika aku akan kehilangan bayiku. Aku tahu Kak Juan tidak salah, dia juga pasti sangat sedih karena Akami pergi. Maaf, Kak!" gumam Daisy pilu. Matanya perlahan-lahan terasa berat dan tak lama ia tertidur karena pengaruh obat penenang yang Aurora suntikkan.


***


Denis membawa Shilla ke kantin dan memesan teh hangat tawar kesukaan Shilla.


"Sayang, kamu harus tabah, kita semua harus tabah agar bisa memberikan semangat pada Daisy. Kita harus kuat. Minumlah dulu agar lebih tenang."


Denis dengan sabar mengusap pundak Shilla yang menyandarkan kepalanya ke bahu Denis. Shilla kemudian melihat Herman yang pergi terburu-buru.


"Ada apa dengan Pak Herman? Kelihatannya sangat terburu-buru?" tanya Shilla. Denis menoleh dan melihat ke arah parkiran, Denis juga heran. Tidak hanya terburu-buru, Herman juga sepertinya sangat marah. Parkiran itu terlihat dari dalam kantin yang menggunakan kaca bening transparan.


***


"Kak!"


"Hai, sayang!"


"Maaf, aku tidak hati-hati menjaga Akami!"


"Bukan salah kamu, sayang. Semua salahku yang tidak bisa melindungimu. Maaf,"


Juan memeluk tubuh Daisy yang terbaring, mereka sama-sama merasa bersalah. Padahal semua inti masalah ini karena orang yang menaruh kue di meja Daisy, sehari sebelum ia sakit.


Shilla dan Denis kembali ke ruangan Daisy, setelah Shilla merasa tenang.

__ADS_1


"Sayang, sudah bangun?" tanya Shilla tersenyum.


"Ma, hiks ...."


Daisy bangun dan memeluk sang Mama. Shilla mengusap punggung putrinya.


"Sabar ya, sayang. Nanti juga kalian punya lagi Akami yang lain, mungkin sekarang belum rejeki kalian mempunyai anak. Yang penting kamu cepat sembuh dan cepat pulang ke rumah, hum!" ucap Shilla. Daisy mengangguk dalam pelukan Shilla.


***


Koko mengantarkan Elis pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan mereka membicarakan tentang Daisy.


"Aku sangat kasihan pada Dokter Daisy, dia pasti sangat terpukul karena kehilangan bayi mereka," gumam Elis.


"Semoga Dokter Daisy bisa sepertimu, tegar dan tàbah menghadapi ujian. Sungguh aku kagum padamu, Lis!" ucap Koko sambil menatap Elis dengan penuh kekaguman.


"Awas!!" tiba-tiba Elis berteriak, mobil yang dikendarai Koko hampir saja menabrak motor yang menyalip. Koko menginjak rem secara mendadak dan melindungi Elis dengan tangan kirinya.


"Kamu tidak apa-apa, Lis?" tanya Koko sambil memegang kedua pundak Elis dengan khawatir.


Elis hanya menatap kedua mata bermanik coklat milik Koko.


"Kenapa Mas Koko begitu memperhatikanku, apa mungkin dia menyukaiku, tetapi ia sama sekali tak pernah mengatakan suka padaku. Aku hanya takut jika aku salah faham pada perhatiannya," pikir Elis. Hati Elis sungguh sudah terbiasa dengan perhatian Koko. Bagaimana jika ia benar-benar salah faham, tentunya Elis akan sangat terluka dan patah hati.


"Tidak apa-apa, Mas. Kalau bisa jangan terlalu perhatian padaku, jika tidak ... aku akan salah faham!" ucap Elis menunduk dan tak berani lagi menatap kedua mata meneduhkan milik Koko.


"Salah faham, kenapa?" tanya Koko tidak mengerti arah pembicaraan Elis.


"Tidak. Bukan apa-apa, jalan saja!" pungkas Elis.

__ADS_1


Koko kembali menjalankan mesin mobilnya dan melaju mengantarkan Elis. Meski Elis mengatakan bukan apa-apa, tetapi jujur saja Koko sangat penasaran sebenarnya apa maksud Elis. Sampai di depan rumah Elis, Elis segera membuka sendiri pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Koko yang termenung berdiri di depan mobilnya.


Selama ini Elis tak pernah merasa keberatan dengan perlakuan-perlakuan Koko, yang memperhatikannya secara tulus. Hari ini entah kenapa Elis seolah keberatan dengan perhatian yang Koko berikan. Koko putar balik dan pulang ke rumahnya.


__ADS_2