Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Pengakuan cinta Koko


__ADS_3

Daisy sudah diperbolehkan pulang setelah dirawat selama lima hari. Saat masuk ke dalam apartement, ia meneteskan air mata. Ia teringat semua kenangannya saat Akami masih di dalam kandungannya. Ia ingat betapa bahagia dirinya saat mengetahui bahwa ia sedang hamil. Ia ingat malam-malam dia ngidam ingin memakan sesuatu, dan rasa bahagianya saat yang diinginkannya itu terkabul. Daisy mengusap perutnya dengan sedih.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Suatu saat kita akan punya lagi Akami yang lain. Sekarang beristirahatlah!" ucap Juan. Ia memapah Daisy ke kamar. Setelah makan siang, Juan memeberikan obat untuk Daisy lalu menyuruhnya beristirahat setelah minum obat.


Daisy menjadi lebih pendiam dari biasanya, sepertinya ia masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Hal yang wajar memang, karena itu pengalaman pertama dirinya hamil. Meskipun ia masih bisa hamil lagi dimasa yang akan datang, tetapi tetap saja Daisy merasa sedih. Daisy berbaring di ranjangnya, ia merasa mengantuk setelah meminum obat lalu tak lama ia tertidur.


Juan baru selesai mencuci piring bekas bubur, ia masuk ke dalam kamar dan melihat Daisy sudah tertidur. Juan menaikkan selimut dan mengecup kening sang istri. Ia keluar dari kamar dan duduk bersandar di sofa, ia menunggu Koko mengantarkan berkas yang harus ditanda tanganinya.


***


Sudah berhari-hari ini, Elis menghindari berbicara dengan Koko. Meski Koko masih mengantar jemput Elis, tetapi mereka jarang mengobrol di dalam mobil. Elis juga selalu langsung masuk ke rumah, setelah turun dari mobil Koko saat diantar pulang. Sekarang Elis tak pernah lagi menyuruh Koko masuk, untuk sekedar minum kopi dan mengobrol dengannya.


Koko ingin bercerita pada sahabatnya, Juan. Melihat kondisi Daisy yang sedang membutuhkan Juan, membuat Koko tidak enak hati jika harus menceritakannya pada Juan. Koko melamun di ruangannya dengan dagu ditopang kedua tangannya di meja. Ketika Herman datang dan masuk ke ruangannya saja, Koko sama sekali tidak menyadarinya.


"Melamun?" tanya Herman.


"Eh, Pak Herman. Kapan bapak masuk?" Koko balik bertanya pada Herman.


"Saya sudah mengetuk pintu 5 kali dan 3 kali memanggilmu. Kamu diam saja tidak menjawab, ternyata sedang melamun!" goda Herman. Ia menarik kursi dan duduk di depan meja Koko.


"Pak Herman, bolehkah saya curhat pada Pak Herman?"


"Tentu saja!"


" Ini soal Elis. Saya merasa jika akhir-akhir ini Elis berubah, setelah ia mengatakan sesuatu seminggu yang lalu. Dia bilang agar saya tidak perlu terlalu perhatian padanya, atau ia bisa salah faham."


"Apa kau menyukainya?"


"Sepertinya bukan hanya suka tetapi sayang!" jawab Koko dengan malu.


Koko malu karena dulu ia menolak, saat Herman ingin mendekatkannya dengan Elis. Herman tersenyum bahagia mendengar jawaban Koko.


"Kalau kau menyukainya, ungkapkanlah. Arti dari ucapan Elis ialah ia menyukaimu, tetapi karena kau tak pernah mengatakan suka, jadi Elis takut jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Ungkapkan perasaanmu, aku mendukungmu, nak!" ucap Herman memberi dukungan pada Koko.


Koko tersenyum lebar setelah mendengar penjelasan dari Herman. Betapa bodohnya Koko yang tidak mengerti arti ucapan Elis. Mendapat dukungan dari Herman membuat Koko jadi bersemangat. Ia berniat menyatakan perasaannya pada Elis sepulang kerja nanti.


"Terima kasih, Pak Herman. Anda seperti almarhum ayah saya. Setiap perkataan yang bapak tuturkan benar-benar bijak dan menyejukkan!" ucap Koko dengan tulus.


"Anggap saja saya sebagai pengganti ayahmu!" ucap Herman. Ia keluar dari ruangan Koko.

__ADS_1


Pukul 16:00 Koko menelpon toko florist untuk memesan bucket bunga mawar putih. Koko lebih memilih bunga mawar putih, karena menurutnya mawar putih itu melambangkan ketulusan, dan kesucian. Koko bukanlah ahli florist yang mengerti arti bunga dan warnanya. Semua hanya menurut pandangan prubadinya.


Ia melirik jam tangannya berkali-kali, sambil memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Berkas-berkas itu adalah berkas yang harus Juan tanda tangani, karena beberapa hari ini Juan belum bisa datang ke kantor jadi berkas itu menumpuk di meja Koko. Juan menyuruh Koko memeriksanya dengan teliti dan hati-hati agar tidak ada kesalahan, sebelum dibawa ke apartement Juan untuk di tanda tangani.


Pukul 17:00 tepat, bunga pesanan Koko sampai. Untung saja tidak terlambat, karena ia berniat mengungkapkan perasaannya dihadapan semua karyawan kantor. Koko membawa bunganya dan pergi ke meja Elis.


Tiba di depan meja Elis, Koko berlutut dengan satu lututnya dilantai di samping kursi Elis. Elis yang sedang duduk membereskan berkas-berkas di mejanya itu, langsung berdiri saat Koko tiba-tiba berlutut.


"Mas, ngapain berlutut seperti itu. Bangun, malu mas!" ucap Elis pelan sambil menatap sekelilingnya. Semua staff kantor yang sedang berjalan hendak pulang pun seketika berhenti, mereka ingin menyaksikan pernyataan cinta dari Koko kepada Elis.


"Elis Silvia, aku menyukaimu, menyayangimu dan mencintaimu. Bersediakah kau untuk menerima perasaanku dan menjadi kekasih terakhirku?" ucap Koko dengan lantang.


Prookk prokk prookk


"Teriima ... terimaa ...," semua karyawan bertepuk tangan dan menyuruh Elis menerima Koko.


Elis memang menyukai Koko, tetapi ia sadar bahwa ia tak pantas untuk Koko. Ia adalah wanita yang memiliki anak dari hasil pemerkosaan. Ia tidak mau membuat Koko malu. Koko adalah pria lajang yang mempunyai masa depan cerah. Sedangkan ia hanyalah seorang ibu tunggal tanpa status. Elis menenteng tasnya, sebelum pergi ia menjawab pernyataan cinta Koko.


"Maaf, saya tidak bisa, Mas!" Elis pergi meninggalkan Koko yang masih berlutut di lantai.


Semua karyawan membubarkan diri karena takut Koko merasa malu pada mereka, setelah cintanya di tolak. Mereka pergi sambil berbisik-bisik.


Ucapan itu terdengar samar ditelinga Koko. Ia menunduk sedih, dan kehilangan semangat. Herman melihat itu semua, ia pun mendekati Koko dan memberinya semangat.


"Hei pejuang cinta, kenapa kau berlutut disini? Orangnya sudah pergi, apa kau akan membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Herman.


"Elis menolak saya, Pak!" jawab Koko.


"Dan kau akan menyerah begitu saja, tidak mau memperjuangkan cintamu. Kalau Elis putriku, aku juga tidak mau dia memiliki pria sepertimu disampingnya. Cintamu itu begitu dangkal, bahkan tidak mau berjuang untuk mendapatkan Elis hanya karena satu kali penolakan."


Herman pergi ke parkiran dan masuk ke mobilnya. Ia melihat Elis sedang menunggu taksi. Herman ingin melihat, apakah Koko akan mengejar Elis atau tidak. Herman tak segera menghidupkan mesin mobilnya dan terus melihat ke arah Elis berdiri. Ternyata Koko mengejar Elis dan kembali mengatakan apa yang tadi dikatakannya.


" Lis, apa alasanmu menolakku? Katakan alasannya?" tanya Koko.


"Mas, kamu bisa mencari gadis lain yang cocok untukmu. Aku hanya wanita kotor yang sudah disentuh pria lain, bahkan sudah memiliki anak. Buang saja perasaanmu, Mas!" ucap Elis melangkah untuk meninggalkan Koko, tapi Koko menahan pergelangan tangan Elis.


"Kamu sudah mengatakan semuanya. Sekarang dengarkan apa yang aku katakan. Aku tidak peduli dengan statusmu, kau sudah menceritakan semuanya padaku dan aku tidak keberatan. Aku juga menyayangi Via, jadi aku tanya sekali lagi. Apa kau mau menerimaku?" tanya Koko. Elis menghambur ke dalam pelukan Koko.


"Aku juga mencintaimu, Mas!" jawab Elis terisak di dada bidang milik Koko. Koko tersenyum karena ternyata Elis juga mencintainya.

__ADS_1


***


Herman mendapat telpon dari anak buahnya dan mereka menunggu di caffe di depan sebuah gedung terlantar. Herman segera melaju ke caffe.


Herman sampai 20 menit kemudian. Ia segera masuk dan pergi ke meja paling pojok.


"Pak Herman, ini adalah hasil rekaman CCTV tersembunyi yang ada di klinik kantor. Ada seorang pria berjas coklat yang menaruh box kue itu, saat Dokter Daisy pergi ke toilet!" lapor anak buahnya sambil menyerahkan ponselnya pada Herman, mereka mengirim rekaman CCTV itu ke dalam ponsel.


"Apa kalian sudah mencari tahu? Siapa dia dan apa motifnya meracuni Daisy?" tanya Herman.


"Namanya Akhmad Fathir, dia dari kota KL Malaysia. Tentang motif kami tidak tahu, dia tidak terikat bisnis ataupun persaingan dengan Pak Juan. Jika saingan cinta, rasanya tidak mungkin jika dia menginginkan Dokter Daisy terluka!" ucap anak buahnya yang lain. Herman mengangguk membenarkan dugaan anak buahnya.


"Kami disini karena pria itu tinggal sementara di gedung kosong di depan caffe ini!"


"Maksud kalian, dia ada disana?" tanya Herman seraya menunjuk gedung itu. Ketiga anak buahnya mengangguk.


"Kalau begitu, ayo kita kesana!!" Herman segera melangkah setelah menaruh dua lembar uang kertas berwarna merah.


Mereka melangkah masuk ke dalam gedung tanpa tahu keadaan di dalam sana. Sesampainya di dalam gedung, mereka berpencar dan mencari Akhmad Fathir.


Fathir sudah tahu jika ia diikuti, dia sudah menunggu anak buah Herman sedari tadi di dalam gedung. Ia melumpuhkan satu persatu anak buah Herman dan mengumpulkannya di atap gedung kosong berlantai 5 itu. Terakhir Fathir mencari Herman dan akhirnya mereka bertemu.


"Jadi kau yang bernama Akhmad Fathir?" tanya Herman seraya tangannya terkepal.


"Herman Sanjaya, 55 tahun, asisten Juan Zabrani yang sekarang menjadi wakil Direktur sekaligus salah satu orang yang dianggap keluarga oleh Juan."


"Kau menyelidiki semua orang yang berhubungan dengan Juan, sampai sedetail itu. Apa motif dari kejahatanmu ini, kau mencintai Daisy?" tanya Herman.


"Hahaha ...."


Tawa berat menggelegar dari mulut Fathir. Herman merasakan tubuhnya bergetar mendengar tawa mengerikan dari Fathir. Fathir maju perlahan-lahan dan Herman yang tidak bisa bela diri, hanya terus mundur hingga tidak ada lagi tempat baginya untuk menghindar dan Fathir akhirnya menangkapnya dan mengikatnya bersama anak buahnya yang lain di lantai atap gedung.


Fathir duduk di kursi, memperhatikan keempat orang yang dia ikat di tiang pilar. Fathir menutup mulut mereka semua. Herman tahu semua musuh-musuh bisnis Juan, tetapi pria dihadapannya ini, Herman benar-benar tidak tahu siapa dia.


******************************


Yg msih ingat siapa Fathir, coba koment


tinggalkan like dan bintang

__ADS_1


makasih buat yang udah vote novel ini.


__ADS_2