Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Salah sasaran


__ADS_3

Setelah melaporkan Juan ke kantor manager, kepala office boy itu membawa surat pemecatan untuk Juan.


"Hei, kemari kamu!" bentak kepala office boy yang bernama Darto itu kepada Juan.


"Ada apa, pak!" jawab Juan menghampiri.


"Nih surat pemecatan kamu dan gaji tetakhirmu. Pergi sana sekarang juga!!" bentak Darto sambil melempar surat dan amplop berwarna coklat itu ke arah Juan.


Juan tersenyum misterius, ia memungut surat dan amplop coklat itu. Juan pergi ke loker dan menyimpan surat serta amplop coklat itu di dalam loker. Dia mengambil baju yang dia simpan untuk cadangan, saat dia harus tiba-tiba pergi. Kemeja kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans hitam itu pun dia pakai. Dia lalu berkeliling melihat-lihat dari lantai satu sampsi lantai tiga.


Rano melihat Juan yang berkeliling di dalam supermarket. Dia dengan sinis menyindir Juan.


"Keliling saja terus, dan anggaplah ini adalah supermarket milikmu. Sebelum kamu keluar dari sini. Oh, ya. Saya lupa kasih tahu sama kamu bahwa mimpi kamu ketinggian, ha haa..." Rano berlalu membawa sapunya.


Herman seperti biasanya, jam sepuluh pagi baru sampai di supermarket dan tak melihat Juan diantara office boy yang sedang bekerja. Herman menemui Manager di ruangannya.


"Pak Lim, kemana pegawai yang bernama Juan?" tanya Herman.


"Dia saya pecat, pak. Karena dia sering sekali terlambat datang bekerja" ucap sang manajer.


"Apa? Beraninya kamu memecat Juan! " ucap Herman.


"Maaf, saya tidak tahu jika Juan adalah keluarga bapak," ucap Manager dengan penuh penyesalan.


"Siapa orang yang menyuruhmu memecatnya, panggil dia kesini! Dan cari Juan sekarang juga, lalu suruh dia bekerja kembali!" ucap Herman lalu keluar dari ruangan Manager menuju ke ruangannya.


Manager itu berkeliling mencari Juan. Dia juga memanggil Darto ke ruangan Pak Herman. Setelah menemukan Juan, dia juga membawa Juan ke ruangan Pak Herman.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk ke ruangan Pak Herman. Juan langsung duduk di sofa, sedangkan Manager dan Darto hanya berdiri mematung. Mereka menatap heran ke arah Juan. Pak Herman menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Siapa kalian berani memecat Juan! kalian tidak punya hak untuk memecat siapapun di sini. "


"Maaf, Pak Herman. Saya benar-benar minta maaf, Saya tidak tahu jika Juan keluarga bapak." ucap Manager.


"Kalian berdua saya pecat sekarang!! " ucap Herman.


"Tolong jangan pecat kami, Pak Herman. Kami tahu kami salah, tolong Biarkan kami tetap bekerja. " ucap kepala office boy.


Tapi sekeras apapun mereka memohon, Herman tetap memecat mereka berdua. Juan duduk santai di sofa sambil bertumpang kaki. Herman menghela nafas berat, memikirkan sikap Juan yang memilih merahasiakan identitasnya sebagai pemilik supermarket itu.


"Pak Juan, kapan anda akan memberitahu mereka bahwa anda bos di sini?" tanya Herman.


"Lalu, apa bapak sudah punya calon untuk menggantikan Manager Lim dan Darto?" tanya Herman.


Juan ke loker dan mengganti kembali bajunya dengan baju office boy. Dia kembali bekerja seperti biasanya, membuat semua orang heran. Terutama orang yang bernama Rano, karena ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Sudah berkali-kali Juan lolos dari pemecatan.


"Siapa sebenarnya kau? Kenapa kau selalu bisa lolos dari pemecatan! " tanya Rano.


"Aku sama sepertimu, manusia yang sedang mencari nafkah di sini. Jadi kita sama saja, tidak ada yang beda di antara kita, " jawab Juan.


Juan berlalu meninggalkan Rano yang terdiam. Juan mengerjakan pekerjaannya hingga sore hari. Dan saat selesai bekerja, dia lebih suka pulang dengan berjalan kaki, seperti hari ini. Juan berjalan melewati gang sempit perkampungan, jalan yang lebih cepat menuju rumahnya.


Hari ini Juan mendapat masalah saat melewati gang sempit itu. Darto menghadangnya di gang itu bersama dua orang preman bertubuh besar. Tapi mereka tidak tahu, jika Juan memiliki Bodyguard yang tak terlihat. Bodyguard yang akan hadir dan muncul saat Juan dalam bahaya.


Darto menyuruh kedua preman bertubuh besar itu untuk menangkap Juan dan memeganginya, dan Darto menghajar Juan. Darto menghajar wajah Juan sekali. Saat akan menghajar untuk kedua kalinya, tangan Darto dicekal oleh seorang pria bertubuh besar memakai setelan jas hitam.

__ADS_1


Kedua preman yang memegangi Juan, melepaskan Juan dan maju menghajar pria berjas hitam tersebut. Tapi mereka mengurungkan niatnya karena muncul 5 orang lagi yang berpakaian sama. Dan mereka adalah Bodyguard bayangan Juan.


Juan merapikan kerah bajunya, lalu berucap dengan angkuh dan dingin kepada Darto. " Kau Salah Sasaran! jika kau ingin berurusan denganku. Pergi sebelum para pengawal ku membawamu ke penjara! atau mungkin, melakukan sesuatu yang lebih parah dari yang kau lakukan padaku! "ucap Juan dengan mata tajam seakan ingin menguliti Darto.


Darto dan jedua preman itu berlari secepat mungkin untuk meninggalkan Juan dan para Bodyguardnya.


" Maaf, tuan. Kami terlambat!" ucap pengawal yang tadi mencekal tangan Darto.


"Tidak masalah, kalian kembalilah ke posisi kalian!" ucap Juan.


Keenam pengawal bayangan Juan kembali berpencar untuk menyembunyikan identitas mereka. Juan kembali berjalan pulang dengan santai. Sampai di rumah, Juan langsung membasuh tubuhnya yang lelah di bawah shower air hangat. Setelah makan malam, Juan langsung beristirahat agar bisa bangun pagi dan bertelepon dengan Daisy.


Semakin luas Juan mengembangkan bisnisnya, semakin banyak orang yang mencari keberadaannya. Tapi sampai saat ini, Juan belum menampakkan dirinya di depan publik. Karena itulah Juan menyewa pengawal bayaran, lima orang untuk menjaganya dan lima orang untuk menjaga Herman.


Semua saingan bisnisnya berpikir jika pemilik 'Zabrani corporation' adalah Herman sang asisten setia Juan. Bahkan saingan bisnisnya pernah mengirim seseorang untuk menculik Herman, untung saja saat itu Juan sudah menyewa pengawal. Penculikan itu gagal, tetapi bahaya semakin hari semakin mengancam Herman.


Karena itulah Herman berharap, Juan segera mengakui diri sebagai CEO dari 'Zabrani corporation'. Selain karena Herman sudah semakin tua, juga karena Herman sudah dilarang bekerja oleh putrinya.


*****************************


Pagi hari


Juan sedang menggenggam ponselnya. Dia menunggu telpon dari Daisy hingga jam 6 pagi, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Daisy akan menelponnya. Juan ingin menelpon lebih dulu, tetapi Juan masih ingat peringatan Daisy kemarin.


Juan kembali mengingat tubuh sintal Daisy yang kemarin tak sengaja dia lihat.


"Hah, bahaya nih! gara-gara kemarin, aku jadi terus membayangkan tubuh Daisy. Dan kenapa sampai jam segini, Daisy belum juga menelponku! Apa dia benar-benar marah padaku?" Juan bertanya-tanya sendiri dengan khawatir. Juan sangat khawatir jika Daisy marah padanya. Karena percayalah, lelaki saat mencintai seorang wanita, sekuat dan setangguh apa pun. Dia akan ketakutan kehilangan wanita yang dicintai.

__ADS_1


__ADS_2