
Juan kembali ke ibu kota setelah semua urusannya dengan para pekerja dikota Y selesai. Dia langsung ke kantor, karena Herman menunggunya di sana.
Brakk
Juan membuka pintu dengan tergesa-gesa.
"Pak Herman, kenapa Daisy bisa sampai di culik? Siapa orang yang menyamar menjadi karyawanku?" tanya Juan meradang, emosinya naik seketika.
"Dia menghack CCTV satu blok gedung perkantoran ini. Maaf, saya tidak menjaga Nona Daisy dengan baik!" jawab Herman dengan penuh penyesalan.
"Itu bukan salah Pak Herman! Apakah ada petunjuk lain?" tanya Juan. Mereka semua hanya menggeleng.
Praang
Juan membanting gelas yang ada di mejanya.
"Telpon Tante Shilla, katakan padanya, jika Daisy sementara tinggal denganku!" perintah Juan.
Herman segera melaksanakan tugas dari Juan.
"Kalian semua keluar, kecuali pak Herman!" ucap Juan. Para bodyguard dan Koko keluar dari ruangan Juan.
"Pak Herman, kira-kira siapa yang bapak curigai?" tanya Juan sambil menopang dagunya di meja.
Herman duduk di depan Juan dan berpikir.
"Entahlah Pak Juan, karena saingan bisnis kita selama ini, selalu mengincar CEO 'Zabrani' jadi saya pikir mungkin ini sesuatu di luar bisnis!" jawab Herman mencoba mengungkapkan pemikirannya.
__ADS_1
"Maksud Pak Herman diluar bisnis?"
"Maksud saya, mungkin ini seperti balas dendam masa lalu, atau orang yang tidak suka pada Non Daisy. Seperti itu kurang lebih," ucap Herman.
"Jika seseorang yang tidak suka pada Daisy, saya yakin tidak ada. Karena Daisy sangat di sukai oleh teman-temannya saat sekolah. Bahkan mereka menjuluki Daisy sebagai Dewi di sekolah. Jika orang yang ditolak cintanya itu mungkin saja!" jawab Juan.
Tiba-tiba dia teringat dengan satu orang. Orang yang pernah ditolak Daisy mentah-mentah.
"Pak Herman, besok tolong sewa detektif swasta, untuk mengawasi seseorang bernama Satya. Entah kenapa, aku teringat dia."
Setelah mengucapkan itu, Juan menyuruh Herman pulang. Karena sudah larut malam. Koko juga dia suruh pulang, sedang Juan dia menginap di kantor.
"Dimana kamu, sayang?" gumam Juan.
*********************************
Di rumah Satya
"Ini makan malammu," ucap Satya.
Daisy hanya menatap tajam ke arah Satya.
"Makanan yang kau bawakan kau bubuhi obat bukan?" tanya Daisy dengan emosi.
"Hahaha, kau mengetahuinya!" jawab Satya.
Darah Daisy bergolak mendengar tawa menjijikan dari bibir Satya, jika saja Daisy memiliki tenaga, ingin rasanya Daisy mencakar wajah Satya.
__ADS_1
"Obat itu hanya untuk jaminan, agar kau tidak larikan diri."
Satria meraih rambut panjang milik Desi dan menciumnya.
"Jangan menyentuhku sedikitpun, aku tidak sudi kau sentuh!" ucap Desi.
"Baiklah, selamat tidur," ucap Satya. Dia pun berlalu, meninggalkan kamar tempat dia menyekap Daisy. Daisy mencoba turun dari ranjang, meski dengan susah payah. Daisy mencoba mencari sesuatu untuk bisa membantunya berdiri.
Daisy merangkak di lantai yang dingin, yang terbuat dari marmer berwarna hitam.
Ceklek
Satya masuk kembali membawa makanan yang baru, dia terkejut melihat Daisy tergeletak di lantai.Dia segera membopong Daisy ke ranjang.
"Kamu ngapain tiduran di lantai? Itu kan dingin, kalau kamu sakit bagaimana?" bentak Satya dengan khawatir.
"Sepertinya dia hanya depresi karena ku tolak cintanya dulu, tapi dia begitu khawatir jika aku sakit, dia sangat takut aku terluka. Sepertinya aku tahu cara untuk keluar dari sini!" gumam hati Daisy.
"Kau memberikan obat pada makan siangku! Apa kau pikir aku boneka, yang tidak BAB atau buang air kecil! Badanku lemas karena obat yang kau berikan, karena itu aku merangkak ke kamar mandi!" ucap Daisy dengan nada yang dibuat senormal mungkin.
"Maaf, kau mau ke kamar mandi? biar ku gendong kamu ke sana!" ucap Satya.
"Berhasil! Sepertinya aku hanya bisa berpura-pura baik, agar dia lengah dan mengira aku menerimanya," gumam Daisy dalam hatinya.
"Aku ingin mandi air hangat, dari pagi aku belum mandi!" ucap Daisy.
"Baiklah, aku siapkan dulu airnya!" Satya pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Daisy mandi. Setelah siap dia menggendong Daisy ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mandilah, setelah itu makan! Aku bawakan makan malam yang baru untukmu. Kali ini tidak ada obatnya, aku bersumpah."
Satya keluar dari kamar mandi setelah mendudukkan Daisy di kloset. Setelah yakin Satya pergi, barulah dia mandi. Saat ini Daisy hanya ingin berendam sambil memikirkan cara untuk meloloskan diri. Dan sand