
Denis berbaring di ranjang sambil memeluk foto Shilla yang tersenyum manis.
“Kau jahat, kau sama sekali tidak mengucap kata perpisahan denganku. Kau jahat, sayang, sangat jahat.” Denis mengenang almarhum Shilla, airmata Denis terus mengalir.
Denis terlalu mencintai sang istri, yang telah menemaninya begitu lama. Denis sudah lupa berapa lama dirinya dan Shilla hidup bersama. Selama mereka berumah tangga, tidak ada satu masalah pun yang bisa merubah perasaan mereka berdua. Denis turun dari ranjangnya, melihat lihat sekeliling kamar. Dia melihat sebuah surat terselip diantara album foto yang tertata rapi di bawah meja kecil di sudut kamarnya.
Denis menghampiri lalu mengambil surat dengan amplop berwarna merah muda. Denis membukanya perlahan, dia duduk di sofa samping meja.
Surat itu berisi ucapan selamat tinggal dari Shilla.
‘Dear, suamiku tercinta.
Aku tahu, jika kamu pasti akan sehancur ini. Namun perlu kamu tahu, tidak ada hal abadi di dunia ini. Begitu juga kehidupan yang kita miliki. Aku tidak bisa berpamitan kepada kalian semua, aku tidak ingin pergi dengan melihat tangis kalian semua. Aku tidak bisa melihatnya, aku takut jika aku tidak bisa ikhlas pergi dari kalian. Penyakit paru-paru yang ku alami sudah semakin parah, tapi aku tidak memberitahukan kepadamu dan semuanya. Aku hanya ingin berterima kasih kepada kalian, terima kasih telah menjadi suami, putri, menantu dan cucuku. Kalian boleh bersedih tapi tidak boleh terpuruk, aku pergi dengan bahagia, jadi tersenyumlah, Mas Denis, aku mencintaimu. Tetaplah tersenyum untukku. Hei, kenapa masih menangis. Ayo tersenyum. Aku cinta kalian semua. Selamat tinggal,’
Denis menangis semakin pilu. Daisy berdiri di depan pintu kamar Denis, ia membawakan makanan untuk sang ayah. Mendengar ayahnya menangis, Daisy tak sanggup berdiri ia berjongkok lalu terduduk di lantai. Daisy berusaha tegar demi Denis, tapi tangisan kehilangan dari sang ayah membuat pertahanan Daisy runtuh.
__ADS_1
Juan menghampiri Daisy dan bersimpuh memeluk istrinya yang menangis tertahan. Sungguh hatinya sakit melihatnya.
***
Setahun kemudian, hari ulang tahun Raffa dan Raffi yang kedua tiba. Kali ini mereka tidak merayakannya, Shilla sang ibu pergi tepat di hari ulang tahun kedua cucunya. Mereka hanya pergi berziarah ke makam Shilla dan Reva.
“Halo sayang, Mama dan Papa kembali berkunjung. Kamu pasti bahagia, karena sekarang di sampingmu ada nenek.” Daisy menaruh bunga mawar putih di makam Shilla dan Reva.
“Sayang, apa kau bahagia disana? Aku harap kau bahagia, suatu saat kita akan bersama lagi. Mas pergi dulu, beristirahat dengan tenanglah disana.” Denis mengecup batu nisan dengan nama Shilla Anggila binti Suwarman. Kemudian mereka berempat pergi meninggalkan area pemakaman.
Kehilangan memang sangat menyakitkan, tetapi hidup harus tetap berjalan. Daisy kembali praktik di klinik kantor Juan, Denis sibuk mengurus bisnis ekspedisi miliknya, dengan bantuan Fadil, putra pertama Gito sang mantan asisten. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan, agar tidak terus menerus bersedih hati. Karena Shilla sudah meminta Denis untuk tetap tersenyum untuknya.
Semua berjalan seperti biasa hanya saja kali ini, tanpa kehadiran Shilla.
-------------------------------------------------
__ADS_1
Hai reader
Akhirnya kisah ini berakhir.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua.
Terima kasih pada admin mangatoon yang sudah dengan sabar mereview novelku.
Terima kasih banyak juga atas like. Komen. Dan favorit kalian. Author bukanlah apa-apa tanpa reader,
Kisah mereka berakhir. tapi masih ada kisah yang lain.
MAMPIR JUGA YA di lapak yang lain.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1