
Tengah malam Daisy merasakan ada sesuatu yang berjalan merayap di pinggangnya. Daisy terbangun dan menyadari, ternyata yang merayap di pinggang Daisy adalah tangan nakal Juan.
"Sayang, yuk!" ucap Juan.
"Apa?" tanya Daisy pura-pura tidak mengerti.
Juan merajuk, ia berbalik membelakangi Daisy. Daisy tersenyum simpul melihat Juan merajuk. Daisy mencolek pundak Juan.
"Kak Juan!" panggil Daisy.
Juan tak mau berbalik, dan Daisy mengeluarkan ancaman.
"Baiklah, Kak Juan bisa terus marah padaku dan aku akan pulang sekarang!" ancam Daisy sambil beranjak dari ranjang. Juan berbalik dan menarik lengan Daisy.
"Akan aku ikat kamu, kalau berani mencoba pergi!" ucap Juan.
"Tidak buruk!" goda Daisy.
"Aku tidak suka berbuat kasar di ranjang," jawab Juan.
"Apa Kak Juan tidak bisa tidur?"
"Rasanya sudah puas tidur, tetapi masih juga belum pagi. Maaf mengganggumu," ucap Juan.
"Bagaimana kalau kita bermain game, atau menonton film?" tanya Daisy.
"Kita nonton saja, aku sedang malas main game. Kalau main game sama kamu, baru aku mau, haha," ucapan Juan sontak membuat Daisy gemas dan mengelitiki pinggang Juan.
"Ampun, ampun sayang!" Juan meminta ampun sambil terus tertawa.
Dan rencana menonton film pun berubah, jadi acara saling mengelitiki yang berakhir dengan acara memadu cinta. Juan dan Daisy terjaga sampai pagi hari tiba. Mereka mengobrol setelah ritual suami istri.
"Kak Juan, apa Kak Juan pernah ke Paris sebelumnya?" tanya Daisy.
"Belum, kenapa?"
"Sudah pagi, kita jalan-jalan yuk!" ajak Daisy.
"Tunggu dulu, kamu belum jawab pertanyaanku!" ucap Juan.
"Kita berdua belum pernah ke Paris sebelumnya, bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain nanti!" jawab Daisy.
__ADS_1
"Kita bisa gunakan bahasa Inggris."
Daisy tersenyum, tadinya ia bingung karena tak bisa bahasa Prancis. Sekarang ia jadi semangat dan berjalan-jalan. Daisy segera pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Daisy sudah siap tetapi Juan malah tertidur. Ia membangunkan Juan. Dengan setengah sadar, Juan bangun dan masuk ke kamar mandi.
Setelah Juan rapi, mereka pun pergi ke pusat wisata yang terkenal di kota Paris. Mereka mengunjungi satu persatu tempat wisata seperti Museum Louvre, Notre Dame de Paris, Istana Versailles, Tuileries secara bertahap, dengan satu tempat wisata setiap harinya. Juan takut Daisy akan kelelahan jika mereka mengunjunginya sekaligus, karena tidak mungkin juga bisa terjangkau dalam sehari.
Malam terakhir mereka di Paris, mereka menghabiskannya di bawah menara Eiffel. Mereka duduk di bangku yang tersedia di sekitar Menara. Lalu mereka pergi ke sebuah toko parfum yang cukup besar. Karena bingung ingin membelikan apa untuk orang tuanya, Daisy memilih membeli parfum.
Setelah membeli parfum, mereka kembali ke hotel dan check out dari hotel. Daisy dan Juan membeli tiket penerbangan malam hari. Daisy menatap Menara Eiffel dari balkon hotel untuk terakhir kalinya. Seminggu di Paris rasanya terlalu singkat untuk mereka, tetapi mereka punya kewajiban masing-masing yang tak bisa mereka abaikan begitu saja.
"Ayo, sayang," ajak Juan setelah merapikan baju mereka ke dalam koper. Juan tahu Daisy sepertinya masih betah di Paris.
"Suatu saat nanti, kita berlibur lagi ke sini!" ucap Juan.
"Hem," Daisy menjawab dengan gumaman pendek. Dan merekapun kembali ke Indo, dengan membawa kenangan manis mereka dari Paris.
Indo 3 hari kemudian
Daisy dan Juan kembali menjalankan aktifitas mereka. Seminggu lagi Supermarket di kota Y akan di buka. Juan dan Koko sibuk dengan persiapan pesta pembukaan Supermarket.
Daisy sedang menata obat-obatan yang baru saja di kirim. Herman masuk setelah mengetuk pintu.
"Selamat pagi, Dokter. Sepertinya saya sudah semakin tua, akhir-akhir ini saya sering merasa sesak nafas," keluh Herman.
"Duduklah, biar Daisy periksa."
Daisy memeriksa Herman dengan teliti, Daisy menganggap Herman selayaknya ayahnya, karena Juan sudah dianggap Herman sebagai anaknya sendiri.
"Apa Bapak juga sering merasa mual, atau pusing berputar-putar?" tanya Daisy.
"Benar, Dokter!" jawab Herman.
"Sepertinya, Pak Herman menderita penyakit Maag kronis. Jadi saat asam lambung Bapak tinggi bisa membuat vertigo dan sesak di dada juga. Saran saya, Bapak harus makan dengan teratur dan hindari makanan yang banyak mengandung gas dan minuman bersoda," Daisy menerangkan dengan perlahan agar mudah dipahami. Daisy memberikan obat untuk Herman. Kemudian Daisy ingat dengan salah satu pasiennya.
"Terima kasih, Dokter. Saya akan ingat pesan Dokter," jawab Herman.
"Pak Herman, Cleaning service yang biasa di sini, kemana?" tanya Daisy.
"Ibu Enah, meninggal seminggu yang lalu dalam kebakaran rumahnya!" jawab Herman dengan prihatin.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kasihan sekali," ucap Daisy.
"Saya permisi kalau begitu, Dokter!" pamit Herman.
Daisy tidak menyangka selama dirinya tidak bekerja, ada kejadian seperti itu.
Jam pulang kantor, Daisy pulang naik taksi karena Juan harus lembur. Hari ini Daisy menginap di rumah orang tuanya.
"Mama, aku pulang!" ucap Daisy saat masuk ke dalam rumah. Shilla menghampiri Daisy.
"Sayang, kok pulang sendiri. Juan mana?" tanya Shilla.
"Kak Juan lembur, Ma!" jawab Daisy.
"Oh, ya sudah. Kita makan bersama," ajak Shilla.
"Papa mana?"
"Biasa, keluar kota dengan Fauzan!" jawab Shilla.
"Fauzan?"
"Asisten baru Papa, Dito sedang sakit-sakitan, jadi dia mengundurkan diri dan Papa merekrut Asisten baru!" jawab Shilla. Daisy dan Shilla akhirnya hanya makan berdua, karena para suami mereka sedang sibuk.
Setelah makan malam, Daisy masuk ke kamarnya. Dia mandi dan memakai gaun tidurnya. Kemudian Daisy mulai merebahkan tubuh lelahnya.
"Setelah menikah selama 3 minggu dengan Kak Juan, aku sama sekali belum datang bulan. Sepertinya aku harus check lab," gumam Daisy pelan.
Rasa kantuk mulai menyerang Daisy. Tak lama kemudian, ia pun sudah terbang ke alam mimpi.
Di kantor Juan
"Sudah selesai?" tanya Juan pada Koko.
"Sudah, Pak. Kita tinggal berangkat ke kota Y. Saya sarankan kita berangkat sehari sebelum pesta pembukaan Supermarket," usul Koko.
"Baiklah, kita pulang sekarang!" ucap Juan.
Juan pulang ke apartement, karena tidak mau mengganggu istri dan mertuanya. Sudah hampir tengah malam, Juan tak enak hati jika pulang ke rumah mertuanya. Jadi Juan memilih pulang ke apartement. Baru saja Juan membaringkan tubuhnya ke ranjang, dering ponsel mengganggu niatnya untuk tidur.
"Halo, sayang. Masih di kantor?" tanya Daisy dari seberang telpon.
__ADS_1
"Sudah pulang ke apartement, Kakak tidak enak mengganggu kalian tengah malam begini. Besok pagi, Kakak jemput kamu untuk berangkat ke kantor bersama, ok."
"Baiklah, selamat tidur," ucap Daisy. Ia lalu menutup panggilan suara itu. Daisy kembali tidur, begitupun dengan Juan.