Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Selamat jalan, Pak Herman


__ADS_3

Juan, Koko dan putri Herman mengantarkan Herman ke peristirahatan terakhirnya. Daisy dan Elis juga mendampingi Koko dan Juan. Mereka terlihat sangat terpukul atas kepergian Herman. Sosok pria lembut yang mereka kenal itu kini telah pergi untuk selama-lamanya.


Setelah pemakaman Herman, putri Herman diantar ke bandara oleh Juan. Karena ia tinggal di Singapura bersama suaminya.


"Terima kasih, sudah membantuku memakamkan Ayah." Putri Herman terlihat begitu tegar, tapi Juan yakin di dalam hatinya pasti sangat kehilangan.


"Akulah yang seharusnya berterima kasih, dan meminta maaf padamu. Karena ingin menyelamatkanku, ia mengorbankan nyawanya sendiri. Padahal aku bukanlah siapa-siapa, aku hanya ... hiks." Juan terisak, mengingat Herman.


"Ayahku, setiap minggu ia menelpon dan menggodaku. Ia berkata bahwa 'walaupun kau jauh, tapi aku sudah memiliki dua anak laki-laki dan mereka tidak akan meninggalkanku' selalu saja ayah menggodaku seperti itu. Bagi ayahku Kak Juan, dan Kak Koko sudah ia anggap sebagai anak, jangàn bersedih berlarut-larut. Ayahku Herman Sanjaya adalah pria hebat, ia bisa kalian kenang dengan bangga, jangan jadikan almarhum ayahku sebagai beban pikiran kalian. Aku yakin ayahku ingin kalian dan juga aku agar hidup bahagia," tutur putri Herman.


"Dia sudah berkorban sangat banyak untukku, tetapi aku belum sempat membalas semua kebaikannya."


"Pesawatku segera takeoff, selamat tinggal dan semoga kalian bahagia. Bye bye!" ucap putri Herman.


Juan kembali ke rumah dinas milik Herman yang terletak di samping gedung kursus komputer. Di sana Koko, Elis dan Daisy sedang berkumpul di sofa ruang tamu. Baju bernuansa hitam yang mereka kenakan, menambah suasana muram selepas mengantar kepergian Herman.


"Minum dulu, Mas." Elis menyodorkan gelas berisi air putih pada Koko. Ia benar-benar tidak tega melihat Koko.


"Terima kasih." Koko hanya menerima gelas itu tanpa meminum air di dalamnya.


Elis mengusap lembut punggung Koko. Ia tidak tahu harus menghiburnya seperti apa. Elis masih ingat saat Herman sengaja mendorongnya agar menabrak Koko. Hermanlah yang mendekatkan Elis dan Koko, Herman yang selalu tersenyum ramah kepadanya, saat ia lupa membawa berkas yang harusnya dibawa keruang rapat. Semua yang Elis ingat tentang Herman hanyalah kebaikan, keramahan dan jiwa kebapakan yang ia miliki. Tak ada keburukan satu pun dimata Elis, Herman baginya adalah sosok pria yang sangat, sangat, sangat baik.


Begitu juga dimata Koko, Herman baginya adalah sosok pengganti ayahnya. Sosok yang bijak, tegas, berwibawa. Koko masih mengingat dengan jelas ucapan Herman, ketika ia mencurahkan kegundahan hatinya tentang Elis. Kata 'Anggaplah saya sebagai pengganti ayahmu' terus terngiang di telinga Koko. Ia kembali terisak sedih.


Diantara mereka yang bersedih, Juanlah yang paling merasa kehilangan, merasa bersalah. Herman sudah ikut dengannya hampir 15 tahun. Pertemuan pertama Juan dan Herman adalah ketika Juan mencari seseorang yang bisa membantunya mengelola bisnis minimarket. Kala itu Juan baru mempunyai dua buah minimarket dan sebuah sekolah etika. Sejak pertama bertemu, Herman memang sudah memperlakukan Juan seperti anaknya sendiri. Tetapi Juan tak pernah menyangka jika ayah angkatnya itu sampai mengorbankan nyawanya.


Daisy memeluk Juan yang masih saja terisak menyalahkan diri sendiri. Daisy sudah lupa dengan kesedihannya kehilangan bayi mereka. Kini kesedihan yang Daisy rasakan adalah melihat pria yang dicintainya itu terpuruk. Dimata Daisy, Herman memang sosok sempurna layaknya malaikat. Bagaimana tidak, ia bahkan rela mengorbankan nyawa untuk orang yang tak memiliki hubungan darah dengannya.


***


Sebulan kemudian


Juan, Koko dan juga Daisy sudah kembali ke rutinitas mereka kembali. Posisi wakil Direktur yang dulu diduduki oleh almarhum Herman, kini digantikan oleh Koko. Akhmad Fathir dihukum seumur hidup karena kasus pembunuhan Herman. Fathir ditangkap diatap gedung atas laporan Juan dihari itu.

__ADS_1


Karena Juan tidak mau memiliki asisten yang tidak dikenalnya, jadi Juan mengangkat Elis menjadi asistennya dan merekrut sekertaris baru untuk Koko.


Tok tok


"Masuk!"


Koko masuk ke ruangan Juan, ia duduk di depan meja Juan. Ia menunggu Juan selesai dengan berkas yang sedang di tanda tanganinya. Setelah selesai, barulah Koko bicara.


"Ada apa, Ko?" tanya Juan.


"Aku dan Elis akan menikah minggu depan. Elis ingin berhenti bekerja dan ia tidak berani mengatakannya padamu," ucap Koko.


"Tidak apa-apa, aku akan mengambil dari supermarket atau minimarket. Yang jelas aku tidak ingin asisten yang tidak pernah kukenal. Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Juan.


"Terima kasih, aku juga akan mengambil cuti, bisakah?" tanya Koko.


"Ya, akan kuatur liburan 2 minggu untukmu!" jawab Juan.


Koko keluar setelah mengatakan maksudnya. Ia lalu pergi ke kantin bersama Elis karena memang sudah jamnya makan siang.


"Sayang, makan siang yuk!"


"Aku tidak selera makan, Kak Juan saja yang pergi."


"Atau mungkin kau ingin mencari makanan yang lain?" tanya Juan.


"Empal gentong, tapi yang asli," ucap Daisy dengan mata berbinar.


"Yang asli itu seperti apa?"


"Empal gentong asli itu yang asli dimasaknya dalam gentong, asli penjualnya orang Cirebon, asli belinya di kota Cirebon sana gitu. Asli kan!" jawab Daisy.


Juan hanya menganga mendengar jawaban Daisy. Hanya untuk makan siang harus pergi ke Cirebon. Yang ada datang ke Cirebon bukan makan siang tetapi jadi makan malam. Juan merasa selera makan Daisy aneh sejak kemarin.

__ADS_1


Kemarin Daisy minta dibelikan sup iga sapi mang Ujang, dan harus mang Ujang sendiri yang membungkusnya. Karena mang Ujang sudah memiliki karyawan jadi karyawannya yang membungkuskan, dan Daisy bisa tahu bahwa itu bukan mang Ujang yang membungkusnya sendiri. Juan kembali lagi dan meminta tolong pada mang Ujang agar ia yang membungkusnya.


Lalu bagaimana dengan permintaannya kali ini. Juan merasa aneh dan dengan pandangan menyelidik ia bertanya pada Daisy.


"Sayang, kamu ngidam ya, hamil lagi?" tanya Juan.


"Entahlah!!"


"Ke Dokter yuk!" ajak Juan.


"Nanti saja kapan-kapan. Ayo kita berangkat ke Cirebon!


"Tapi, sayang. Aku ada rapat penting selepas jam makan siang. Kalau kita ke Cirebon sekarang, bagaimana dengan rapatnya?" Juan bicara dengan hati-hati.


"Ya, sudah. Aku akan menunggu Kak Juan selesai rapat. Sudah sana, aku akan menunggu di sini!"


Juan pergi ke kantin seorang diri, selepas jam makan siang rapat pun dilaksanakan. Daisy menungu Juan di klinik.


***********************


hi readers


maaf loh kalau author bawel dan selalu meminta kalian buat like,komen, ☆☆☆☆☆ buat author.


kasih vote juga seikhlasnya buat novel ini


dan buat yang sudah vote


Hanupis( hatur nuhun pisan)


Makesu( matur kesuwun)


buat yang baru membaca karya2ku

__ADS_1


semoga kalian suka dengan novel gajeku♡♡♡


__ADS_2