
Juan pernah sempat terjatuh dari jembatan, saat dia berumur sepuluh tahun. Saat itu, Juan menghidupi dirinya sendiri dan sekolahnya dengan mengamen. Tak sengaja saat berjalan di jembatan Juan tersenggol orang, yang berlari terburu buru mengejar seseorang. Juan terjatuh dan kritis, saat Juan terjatuh bertepatan dengan Shilla melewati jembatan setelah berbelanja ke supermarket, yang tak jauh dari rumahnya.
Shilla membawa Juan ke rumah sakit dan menungguinya, sampai Juan benar benar sembuh dan keluar dari rumah sakit. Semenjak itu Shilla kadang-kadang mampir ke rumah kontrakan Juan dan membawakan makanan untuknya. Juan bekerja keras sembari meneruskan sekolahnya, hingga tamat SMA dan Juan mendapat beasiswa kuliah di Kuala lumpur. Juan bekerja sembari kuliah dan menabung sisa biaya hidupnya. Dia menjadi pria sukses murni dari jerih payahnya sendiri.
Saat Juan berkunjung ke rumah Denis, Juan melihat Daisy yang saat itu masih kelas sepuluh SMA. Selain karena balas budi pada Shilla yang sudah menyelamatkannya, juga karena Juan jatuh cinta pada Daisy. Saat itu Juan pikir Shilla hanya bercanda ingin menjodohkan Juan dengan Daisy. Saat ini Daisy hanya berambisi untuk mengejar cita-citanya karena itu dia merasa Juan akan menghambat impiannya. Daisy mulai beraksi mengerjai Juan.
"Hentikan mobilnya!" ucap Daisy secara tiba-tiba. Juan yang kaget langsung mendadak menginjak pedal rem.
"Dais! jangan menyuruh berhenti tiba-tiba, bahaya!" ucap Juan dengan lembut.
"Kenapa? marah? gak suka? Kalau gitu putuskan saja aku," ucap Daisy dengan jutek.
"Aku gak marah! aku cuma takut kamu kenapa-kenapa. Memangnya ada apa kamu suruh aku berhenti?" tanya Juan dengan sabar.
"Aku mau kopi caffucino!" ucap Daisy yang ternyata menyuruh berhenti didepan caffe.
"Ok, akan kubelikan untukmu. Panas atau dingin?" tanya Juan tetap sabar.
"Panas lah! kalo dingin aku pasti bilangnya es kopi caffucino!" jawab Daisy.
Juan turun dari mobilnya dan masuk kedalam caffe. Daisy tersenyum karena merasa tak lama lagi Juan pasti bakal ilfeel pada Daisy.
"Yess! semoga saja kamu menyerah om Juan, hahaha!" Daisy bergumam pelan didalam mobil. Juan kembali dan memberikan kopi caffucino pesanan Daisy.
"Ini apa?" tanya Daisy dengan sinis.
"Kopi caffucino!" jawab Juan.
"Aku tahu! tapi masa siang-siang minum yang panas. Aku maunya yang dingin! jadi seger diminum siang hari kaya gini!" ucap Daisy. Juan tak menjawab dan kembali keluar dari mobilnya. Juan mengantri kembali di caffe.
"Selamat siang, mau pesan apa? Eh bapak yang barusan beli kopi caffucino kan. Kurang banyak ya pak belinya?" tanya penjaga meja orderan.
"Tidak! tapi tunangan saya berubah pikiran dan ingin es kopi caffucino," jawab Juan.
__ADS_1
"Bapak ini benar-benar tunangan yang sempurna. Sudah dikerjai sama tunangannya juga masih kalem aja, tunggu sebentar ya pak! pesanannya sedang dibikin!" ucap pelayan caffe.
Setelah pesanannya siap, Juan membayar lalu kembali ke dalam mobil.
"Ini esnya!" Juan menyodorkan esnya pada Daisy.
"Lama banget sih! aku jadi gak pengen. Buang aja!" ucap Daisy. Juan hanya mendesah pelan.
"Kesal sama aku?" tanya Daisy dengan galak. Juan hanya menatap Daisy dengan kedua mata bulatnya. Tatapan yang tak bisa Daisy artikan.
Juan merasa sayang jika kedua gelas kopi itu dibuang. Juan melihat ada seorang pemulung setengah baya dan anaknya sedang mengais sampah. Juan memberikan kopi caffucino panas pada pria paruh baya dan es kopi caffucinonya untuk anak laki laki itu. Daisy memandang kagum pada Juan, yang sedang memberikan kopi pada pemulung yang berada disamping mobilnya.
(ni cowok baik juga) gumam Daisy. Juan masuk kedalam mobil dan melaju kembali menuju rumah. Daisy langsung turun dari mobil dan berlari ke kamarnya. Shilla menghampiri Juan.
"Nak Juan, harap sabar ya dengan kelakuan Daisy!" ucap Shilla.
"Tidak apa apa tante. Kalau gitu Juan pamit karena harus mengajar" ucap Juan. Daisy mendengarkan obrolan Juan dan ibunya.
"Oh ... mau ngajar ya! lihat aja aku bakal kerjain kamu!" gumam Daisy. Juan pergi dari rumah Daisy setelah berpamitan pada Shilla. Daisy masuk ke kamarnya untuk berganti baju dan turun ke ruang makan.
"Siapa juga yang mau dijemput om om. Aku tuh sampe dibilang simpanan om om tahu gak mah!" jawab Daisy. Shilla hanya terdiam, tak mau berdebat dengan Daisy dan menyuruh Daisy untuk segera makan siang.
Satu jam kemudian Daisy meminta nomor telepon Juan pada Shilla. Shilla memberikannya tanpa rasa curiga. Daisy menelpon Juan saat Juan sedang mengajar.
"Jadi saat kalian bicara harus dengan nada yang lembut tapi tidak dibuat-buat. Ramah adalah sifat dari wanita jadi usahakan juga saat bicara, bicaralah dengan diakhiri senyum tipis" ucapan Juan terjeda dengan getaran disaku kemejanya. Juan melihat ponselnya.
"Nomor tidak dikenal?" gumam Juan pelan.
"Saya permisi sebentar untuk menerima telpon" Juan keluar dari kelasnya. Para murid wanita heboh membicarakan Juan saat Juan keluar.
"Oh ya ampun. Pria lembut dan tàmpan seperti itu benar-benar membuatku terpesona," ucap salah satu murid.
"Kapan ya punya kekasih seperti pak Juan?" timpal yang lain. Kebanyakan dari murid Juan adalah wanita berumur dua puluhan tahun yang sedang sekolah model.
__ADS_1
"Halo, siapa ini?" sapa Juan.
"Calon istrimu" jawab Daisy.Juan tersenyum simpul mendengar jawaban dari seberang telpon.
"Ada apa, calon istri?" tanya Juan dengan senyum yang terus terkembang.
"Jemput aku sekarang!" jawab Daisy.
"Tapi kelasku belum selesai!" ucap Juan.
"Jemput sekarang atau batalkan pertunangannya. Silahkan pilih!" ucap Daisy lalu mengakhiri panggilannya. Juan menghela nafas berat.
"Hem ... sepertinya dia sengaja ingin membuatku membatalkan pertunanganku dengannya!" gumam Juan. Dia tersenyum misterius, "Baiklah, kita lihat siapa yang akhirnya akan kalah dalam perang ini. Aku tidak akan kalah darimu sayang!" gumam Juan kembali. Juan masuk ke kelasnya dan membubarkan kelas hari ini.
Segera Juan melajukan mobilnya ke rumah Shilla. Saat datang ke rumah Shilla, ternyata Daisy malah sedang tertidur. Shilla mencoba membangunkan Daisy, tapi Daisy berpura pura terus tertidur.
"Nak Juan! tante sudah membangunkan Daisy, tapi Daisy tak mau bangun!" ucap Shilla.
"Em ... boleh Juan coba bangunin, soalnya ada hal penting yàng mau Juan omongin sama Daisy, tante!" ucap Juan.
"Oh silahkan!" Shilla membawa Juan ke kamar Daisy, lalu meninggalkannya.
Juan masuk ke kamar Daisy dan duduk di sofa.
"Aku tunggu kamu disini! sampai kamu bangun!" ucap Juan yang tahu jika Daisy berpura pura tidur. Dia duduk bersandar disofa dengan tangan bersedekap dan bertumpang kaki.
"Ini cowok gila kali! masa mau nungguin orang tidur?" gumam Daisy dalam hati. Sampai satu jam kemudian Daisy benar benar tertidur karena lelah menunggu Juan pergi.
Melihat nafas Daisy yang naik turun perlahan dengan teratur, Juan tahu Daisy tertidur sungguhan. Juan menghampiri Daisy dan menaikkan selimut Daisy, lalu mengecup kening Daisy.
"Selamat tidur, calon istriku!" ucap Juan pelan. Juan keluar dan menutup pintu kamar Daisy.
Deg deg deg deg
__ADS_1
Jantung Daisy berdebar dengan cepat. Ternyata saat Juan mencium keningnya, Daisy terbangun tapi tak berani membuka matanya.
"Dia barusan nyium kening aku!" gumam Daisy. Daisy menepuk-nepuk kedua pipinya, berharap bahwa tadi hanyalah mimpi. Tapi Daisy kesakitan saat dia menepuk kedua pipinya. Daisy bersembunyi dibalik selimut, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Daisy merasa malu sendiri dengan kejadian tadi.