
Pagi hari, Juan dan Daisy pergi ke boutiqe setelah sarapan. Boutiqe itu belum buka, tapi Juan sudah membuat janji sebelumnya. Sampai di boutiqe Juan dan Daisy masuk ke dalam boutiqe karena Esti sudah menunggu mereka di luar pintu.
"Ayo masuk!" ucap Esti mempersilahkan mereka masuk.
"Tante sebenarnya sedikit kecewa, karena tante hanya dijadikan pelarian oleh tunanganmu ini!" ucap Esti sedikit cemberut.
"Maaf, tante!" ucap Juan. Mereka semua tersenyum.
Juan awalnya ingin menggunakan WO dari luar kota. Juan mencarinya di internet, ada satu WO yang menyediakan tempat pesta di hutan, dengan pemandangan yang sangat indah. Tapi karena Juan ingin memajukan tanggal pernikahan, jadi dia berpikir untuk memakai WO dari dalam kota saja. Dan pilihan mereka tentu saja tante Esti, orang yang dulu membuatkan gaun untuk pertunangan Daisy.
Esti memberikan katalog gaun pengantin rancangannya. Ia juga memberikan berkas konsep pesta.
"Kalian ingin konsep pestanya seperti apa? Kalian pilihlah dulu, tante ke belakang sebentar," ucap Esti.
"Ya, silahkan tante!" jawab Daisy.
Daisy dan Juan berdiskusi untuk konsep pesta mereka. Juan ingin pesta yang megah tapi Daisy hanya ingin pesta sederhana.
"Tapi, sayang!" ucap Juan berusaha menolak.
"Kak Juan, buat apa pesta yang megah dan menghabiskan banyak uang? Aku tahu kak Juan sanggup! Tapi aku hanya ingin pesta sederhana."
"Baiklah, Kita adakah pesta di rumah!" Juan akhirnya mengalah. Tapi Juan memesan gaun pengantin termewah dan termahal diantara semua rancangan Esti.
"Ini terlalu mewah!" tolak Daisy.
"Aku sudah mengalah dengan konsep pesta jadi sekarang kamu yang harus mengalah. Yang ini saja atau aku akan marah," ucap Juan. Daisy menghela nafas dan mengalah pada Juan.
"Minumlah!" ucap Esti menyodorkan teh kepada mereka. Esti kemudian duduk kembali.
"Bagaimana? Sudah ada yang cocok?" tanya Esti. Mereka menunjukan pilihan mereka. Esti mencatat dan mengukur tubuh Juan dan Daisy. Setelah selesai, mereka pergi ke kantor. Untungnya Daisy menyimpan beberapa pasang baju di apartement Juan, jadi setelah mampir ke boutiqe Esti, mereka langsung berangkat ke kantor.
Di kantor
__ADS_1
Herman sedang mengobrol dengan Koko soal kerja sama mereka di kota Y. Juan menghampiri mereka di ruangan Herman.
"Pak Juan, saya pikir anda belum kembali!" ucap Koko.
"Aku baru datang semalam. Apa yang sedang kalian diskusikan?" tanya Juan sambil menghempaskan dirinya duduk di sofa.
"Ini, soal kerja sama kita dengan perusahaan minuman herbal. Mereka ingin memasarkan produk mereka di supermarket kita yang berada di kota Y!" jawab Koko.
"Em, begitu. Bagaimana pembangunan supermarket itu, apa sesuai dengan target yang kita berikan?" tanya Juan.
"Benar, pak! Semua sudah sesuai target kita. Jika tidak ada kendala, bulan depan kita sudah bisa membuka supermarket itu. Pembangunan sudah 90% dan sekarang mereka sedang melakukan pengecatan!" terang Koko.
"Bagus, kalau begitu! Aku punya berita untuk kalian," ucap Juan sengaja menggantung ucapannya.
"Apakah itu?" tanya Herman penasaran.
"Pernikahanku dan Daisy dimajukan, jadi dua minggu lagi!"
"Selamat! pak Juan. Akhirnya bapak dan nona Daisy menikah." Koko memberi selamat pada Juan.
Juan pergi menemui Daisy di klinik kantor. Daisy sedang mencatat stok obat-obatan yang mulai menipis, saat Juan datang dia menoleh.
"Ada apa?" tanya Daisy kembali fokus pada etalase kaca, tempat ia menyimpan obat-obatan. Dia memeriksa satu persatu box obat yang isinya sudah berkurang.
"Aku ingin memandangmu di sini!" jawab Juan lalu duduk di sofa.
"Pak Juan, anda sungguh tidak bertanggung jawab! Anda menyerahkan pekerjaan anda pada pak Herman dan juga asisten anda. Padahal anda sungguh senggang dan tidak ada kegiatan!" gerutu Daisy.
"Siapa bilang aku senggang? Aku ini sedang sangat sibuk!" ucap Juan tersenyum.
"Oh, ya. Kesibukan apa yang bapak lakukan di klinik ini?" tanya Daisy menyindir Juan.
"Sibuk melihatmu!" jawab Juan.
__ADS_1
Daisy berbalik dan menatap tajam ke arah Juan. Pandangan Daisy seolah mengisyaratkan bahwa dia kesal sekali dengan kelakuan Juan.
"Bagaimana bisa ada seorang Presdir yang begitu cuek dan kekanak-kanakan seperti ini!" gumam hati Daisy. Dia memilih kembali menyelesaikan catatannya.
*************************
3 Hari sebelum pernikaha****n
Juan dan Daisy sudah mulai libur dari aktifitasnya. Selama tiga hari kedepan, Juan dan Daisy dilarang saling bertemu. Juan hanya makan, tidur, makan, tidur. Saat merasa kesal, Juan menelpon Daisy dan menggerutu.
Tuttt tuttt tutt
Ponsel Daisy berdering, ia mengambil ponselnya dan melihat ID pemanggil.
"Ya, ampun. Apa dia benar-benar harus menelpon satu jam sekali?" Daisy bertanya pada diri sendiri dengan kesal. Dia memilih mengabaikan panggilan telpon dari Juan. Dia kembali melihat para DR (room decoration) yang sedang menghias kamar Daisy.
Daisy dan Juan sepakat untuk membagi waktu, seminggu tinggal di rumah Shilla dan seminggu di apartement mereka. Setelah berdiskusi berdua, mereka pun memutuskan setelah menikah mereka akan tinggal di rumah Shilla.
Juan yang sedang merasa rindu itu uring-uringan di apartement. Semua yang dilakukannya terasa salah baginya. Juan akhirnya mempunyai ide, dia pergi ke rumah Daisy dengan menggunakan taxi. Juan sampai di seberang jalan rumah Daisy, ia hanya menatap rumah Daisy dan tidak berani turun.
"Anda ingin saya panggilkan pemilik rumahnya, tuan?" tanya supir taxi itu.
"Tidak perlu, saya akan tinggal di sini 3 hari lagi!" jawab Juan.
"Oh, tuan pengantin prianya. Tenda pernikahannya sudah terpasang, jadi kenapa tidak sabar menunggu 3 hari lagi?" tanya supir taxi itu.
"Aku rindu sekali ingin melihat pengantin wanitaku, tapi kenapa dia tidak keluar rumah?" gumam Juan. Supir taxi hanya tersenyum geli melihat penumpangnya, yang terus menatap ke gerbang rumah Daisy.
Dari jendela kamarnya, Daisy melihat mobil taxi yang tak mau pergi. Daisy yakin bahwa itu adalah Juan. Dia mengirimkan pesan teks pada Juan.
*Pergi, atau kita batal menikah!*
Juan melihat pesan di ponselnya dan dengan segera ia menyuruh supir itu menjalankan mobilnya. Daisy tertawa melihat mobil taxi itu pergi. Karena berarti tebakannya benar, dan juga berarti ancamannya bekerja. Terbukti taxi itu langsung pergi. Daisy menggeleng dan tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Para RD itu jadi tersenyum, menertawakan Daisy yang tersenyum sendiri. Daisy memergoki mereka yang menertawakannya, Daisy jadi malu sendiri. Dia memilih keluar dari kamarnya dan duduk di ruang tamu bersama Shilla dan Denis.
Shilla dan Denis sedang sibuk mencatat undangan untuk para kolega bisnisnya. Termasuk asisten dan sahabat setianya Dito beserta keluarga. Daisy cemberut karena kedua orang tuanya tak menyapanya dan sibuk mencatat undangan.