Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Pesta pertunangan (2)


__ADS_3

Juan dan Daisy sampai di boutiqe milik saudara Septi. Juan membuka pintu mobil, Daisy keluar lalu merekapun melangkah ke dalam boutiqe. Esti pemilik boutiqe menyambut mereka dengan senyum ramah.


"Silahkan mas, mba! mau pesan gaun pernikahan ya?" tanya Esti. Juan dan Daisy tersenyum malu.


"Kamu mau fitting baju atas nama Daisy dan Juan!" ucap Daisy.


"Daisy dan Juan!" ulang Esti. Dia mencari-cari nama Daisy dan Juan di buku agenda.


"Ok, ini dia!" gumamnya setelah menemukan nama Daisy dan Juan.


"Silahkan ikut saya, nanti akan ada pelayan saya yang membantu mba Daisy mengganti bajunya!" Esti membawa mereka ke ruang ganti yang berbeda.


Juan masuk ke ruang ganti sebelah kanan, dan Daisy masuk ke ruang ganti sebelah kiri bersama Esti.


"Daisy, sayang! kamu anak angkat Septi ya?" tanya Esti.


"Iya, tante! Tante kenal dengan tante Septi?" tanya Daisy sambil mengganti baju.


"Tante adiknya! apa kau akan menikah di usia dini? Apa kau yakin jika pasanganmu itu bisa selamanya setia padamu?" tanya Esti memastikan perasaan Daisy.


"Itu... Daisy juga tidak tahu tante!" jawab Daisy.


Tanpa mereka tahu, Juan berdiri di depan ruang ganti untuk wanita. Juan mendengar pembicaraan mereka. Dia sedikit kecewa dengan jawaban Daisy yang tak yakin untuk menikah dengannya.


"Daisy, tidak ingin menikah muda tante! Daisy ingin kuliah dan menjadi dokter! Lalu tinggal di pedesaan yang jauh dari fasilitas kesehatan," ucap Daisy. Dia selesai memakai kebayanya dengan bantuan pelayan wanita.

__ADS_1


"Cita-cita yang mulia! Apa pasanganmu mendukung keinginanmu?" tanya Esti kembali.


Di luar Juan masih berdiri mendengarkan mereka. Daisy tak menjawab hanya mengangkat bahu dan menggeleng pelan. Juan jadi tak tahu jawaban Daisy. Esti melihat baju yang dipakai Daisy dari atas sampai bawah, untuk memastikan apakah bajunya sudah pas atau ada yang perlu diperbaiki.


"Bajunya pas sekali, sayang! Tidak ada yang kebesaran atau kekecilan, semuanya sempurna! kamu cantik sekali!" ucap Esti. Daisy tersenyum malu mendengar pujian dari Esti. Pelayan Esti membuka pintu ruang ganti dan memanggil Juan yang ternyata sudah berdiri di pintu. Daisy sedikit gugup, dia takut Juan mendengar semua ucapannya dan marah.


"Wah cantik sekali, sayang!" puji Juan dengan senyum kagum.


"Kakak juga tampan pakai tuxedo itu!" jawab Daisy. Juan berjalan menghampiri Daisy. Mereka saling pandang dan terus tersenyum malu-malu.


"E, kkheemm," Esti menginterupsi acara pandang-pandangan mereka. Juan dan Daisy kembali mengganti baju mereka dan pergi meninggalkan boutiqe setelah berpamitan pada Esti.


Sejak keluar dari boutiqe, Juan terus diam sepanjang perjalanan. Daisy menjadi resah, dia takut Juan mendengar semuanya.


***************************


Seminggu berlalu, hari ini akhirnya Juan dan Daisy akan bertunangan secara resmi. Zahra dan Roni tak henti menggoda Daisy.


"Dais, nikahnya kapan?" tanya Zahra.


"Apa sih, Za! ijazah aja belum dibagikan masa aku dah kamu tanyain nikah! Ya nanti lagi lah!" jawab Daisy dengan cemberut.


Septi datang dan mengucapkan selamat pada Daisy. "Hai sayang, selamat ya!" ucap Septi.


" Terima kasih tante!" jawab Daisy.

__ADS_1


Juan sedang menyambut Ratih dan suaminya, mereka mengobrol cukup lama. Daisy memperhatikan Juan dari jauh.


"Kenapa kak Juan akhir-akhir ini seperti berubah?" Daisy bertanya-tanya sendiri dalam hati. Sejak pulang dari boutiqe seminggu yang lalu, Juan memang sedikit menjaga jarak dari Daisy.


Karena semua tamu undangan sudah hadir, acara pertunangan pun dimulai. Juan dan Daisy bertukar cincin di depan semua tamu undangan. Selesai acara tukar cincin, para tamu undangan menikmati hidangan yang disediakan. Daisy menarik tangan Juan dan mengajaknya duduk di meja paling ujung. Daisy sengaja menarik Juan jauh dari keramaian tamu undangan.


"Kak Juan marah?" tanya Daisy.


"Tidak! marah kenapa?" jawab Juan sambil melihat teman-temannya yang sedang berkumpul. Daisy memegang kedua pipi Juan agar mau menatap Daisy.


"Kenapa tidak menatapku?" tanya Daisy dengan mata berkaca-kaca. Juan tak tega melihat Daisy bersedih.


"Sayang, kakak tidak marah. Kakak cuma lelah karena sedang banyak pekerjaan! Jangan menangis, ini hari bahagia kita! Kakak tidak mau melihat air mata kamu terjatuh!" ucap Juan dengan lembut. Juan menarik Daisy ke dalam pelukannya.


"Aku sangat takut, aku takut kakak tidak menyayangiku lagi!" isak Daisy.


"Jangan berkata hal yang mustahil! Kakak akan selalu mencintai dan menyayangi kamu! Tidak ada yang bisa menggantikan kamu di hati kakak!" jawab Juan. Juan mengusap pipi Daisy dan tersenyum manis.


"Apa kakak harus menciummu di sini!" goda Juan. Daisy mendorong Juan agar menjauh.


"Enak saja! sembarangan!" rungut Daisy. Juan tersenyum. Daisy merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Juan. Pesta pertunangan mereka berakhir dengan lancar tanpa ada halangan.


*********************


tinggalkan jejakmu ya readers..

__ADS_1


see you next chapter..


jngn lupa like ya😘


__ADS_2