Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Malam pertama


__ADS_3

Setelah Juan menarik turun resleting gaun Daisy, Juan memeluk Daisy dari belakang dan berbisik di dekat telinga.


"Malam ini tidak akan ada bantal guling yang akan memisahkan!" ucap Juan.


Daisy berjingkat kaget saat Juan mengecup telinganya. Ia maju dua langkah dan berbalik menatap Juan. Wajah Daisy memerah bak tomat cherry yang telah matang. Melihat wajah Daisy yang memerah membuat senyum Juan merekah.


"Mandi sana. Jangan membuatku menunggu lama!" ucap Juan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Daisy menjadi salah tingkah karena kata godaan yang Juan ucapkan. Ia memilih segera pergi ke kamar mandi, atau Juan akan terus menggodanya. Daisy melepas gaun pengantinnya dan menaruhnya di keranjang. Saat dia membuka celana dalamnya, Daisy jadi bingung. Karena ternyata hari ini adalah tanggal bulanannya. Daisy bingung bagaimana cara ia mengatakannya pada Juan. Hari ini harusnya adalah malam pertama mereka, tapi tamu tak diundang datang tepat di hari ini.


"Aduh, bagaimana ini? Kenapa harus hari ini datangnya?" gumam Daisy dalam kebingungan. Daisy melamun setelah mencuci dalamannya. Ia tidak berani keluar dari kamar mandi. Ia takut Juan akan marah karenanya.


Juan sudah tidak mendengar suara kran shower, tapi Daisy tak kunjung keluar. Juan menjadu cemas.


"Daisy kenapa tidak keluar-keluar?" gumam Juan.


Juan memanggil Daisy dan mengetuk pintu kamar mandi. Juan takut Daisy pingsan di kamar mandi karena kelelahan. Daisy sebenarnya mendengar panggilan Juan, tapi ia bingung untuk menjawabnya.


Tok tok tok


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tànya Juan. Ini sudah yang ketiga kalinya Juan bertanya.


Daisy sadar dia tak bisa selamanya berada di kamar mandi, ia pun akhirnya membuka pintu kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Juan saat Daisy keluar dari kamar mandi


Daisy menunduk dan tak berani menatap Juan. Juan jadi heran, kenapa Daisy tak berani menatapnya. Karena sebelum masuk kamar mandi, Daisy baik-baik saja.


"Ada apa?" tanya Juan kembali dwngan lembut. Tapi Daisy malah mundur dan menghindar, saat tangan Juan akan menyentuh pundak Daisy. Juan mengernyit heran menatap Daisy.


"Kak Juan, aku berhalangan!" ucap Daisy dengan cepat, lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi. Akhirnya Juan mengerti atas sikap aneh Daisy. Juan tersenyum dan dengan lembut membujuk Daisy untuk keluar.


"Karena berhalangan, kamu mau semalaman di kamar mandi? Keluarlah!" bujuk Juan lembut.


Daisy pun keluar dengan wajah yang masih tertunduk.


"Aku takut kak Juan marah. Tapi aku tudak berbohong, sungguh!" ucap Daisy menjelaskan pada Juan.


"Kenapa kakak harus marah. Kamu sudah menjadi istri kakak. Jadi kita akan tetap melakukannya meski tidak sekarang, ok!" ucap Juan. Daisy mengangguk.

__ADS_1


Daisy kemudian mengambil pembalut dan celana dalam serta baju tidurnya. Dia berganti baju di kamar mandi. Semua model baju tidur Daisy berbahan satin tipis. Dan Daisy sudah terbiasa tidur tanpa bra, kecuali saat menginap di apartement Juan dulu.


Juan sudah memakai piyama tidurnya dan berbaring di ranjang. Saat Daisy keluar dari kamar mandi, sontak naluri kelaki-lakian Juan bergejolak. Melihat Daisy yang keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur pink yang menerawang. Terlihat bukit kembar Daisy yang masih mengkal itu bergerak-gerak seiring langkah Daisy. Juan segera berpaling, sebelum akal sehatnya hilang tergerus nafsu.


"Malam pertama gagal, tapi dia malah memakai baju tidur sexy seperti itu. Sungguh sangat menyiksa untuk juniorku," gumam Juan dalam hati.


Rasa lelah yang menghinggapi tubuh Daisy, segera membawa Daisy pergi ke alam mimpi. Daisy tertidur dengan sangat pulas. Di sisi ranjang yang lain, Juan tidak bisa tidur. Ia terus gelisah karena hasrat yang tak bisa ia salurkan. Apalagi jika Juan melirik ke arah Daisy, hati Juan makin gelisah menatap dada Daisy yang naik turun bersama helaan nafasnya .


Juan akhirnya memilih berendam di air dingin, padahal sudah lewat tengah malam. Setelah merasa lebih baik, Juan pun pergi tidur.


Pagi hari


Daisy terbangun pagi hari dan segera membasuh tubuhnya. Selesai mandi dan memakai baju, Daisy turun ke dapur dan membantu Shilla menyiapkan sarapan. Anehnya, Daisy biasanya merasakan sakit di perutnya. Tapi datang bulan kali ini ia tidak merasakan apapun. Sedang Juan masih tertidur karena semalam tak bisa tidur.


Setelah selesai memasak nasi goreng dan menatanya di meja, Daisy kembali ke kamar untuk membangunkan Juan.


"Kak Juan bangun, sudah pagi."


Juan menggeliat dan bangun dari tidurnya. Ia kemudian duduk di tepi ranjang menyapa Daisy.


"Selamat pagi, sayang."


"Pagi, sayang. Cepat bangun dan mandi, papa sama mama sudah menunggu untuk sarapan bersama," ucap Daisy.


Juan pergi ke kamar mandi dan Daisy menyiapkan baju untuk Juan. Selesai mandi, Juan memakai bajunya. Daisy sedang merapikan ranjang, merapikan seprei dan selimut yang berantakan.


"Sayang, boleh tanya tidak?" tanya Juan.


"Tanya apa, katakan saja!" ucap Daisy.


"Biasanya kalau datang bulan berapa hari?" tanya Juan.


Daisy tertegun sejenak dari kegiatannya melipat selimut, kemudian dia menjawab.


"Tiga hari!" jawab Daisy singkat.


"Oh,"


Juan hanya mengucap oh. Mereka segera turun dan sarapan bersama Shilla dan Denis. Setelah sarapan, Shilla menyiapkan minuman dan camilan untuk para pekerja yang sedang membongkar tenda. Sedang Daisy dan Juan jalan-jalan santai di sekitar komplek perumahan.

__ADS_1


Mereka kadang berpapasan dengan warga sekitar komplek yang mengenal Daisy.


"Neng Daisy jalan-jalan? Padahal biasanya pengantin baru mah selalu mengurung di kamar berdua!" goda bu RT.


"Cari udara segar, bu RT!" jawab Daisy dengan tersenyum canggung.


"Oh, begitu!" ucap bu RT.


"Ya, permisi bu! Kami lanjut jalan lagi," ucap Daisy.


Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di taman komplek. Biasanya di taman itu ada kegiatan senam ibu-ibu komlpek, tapi di sore hari dan diadakan seminggu sekali. Juan dan Daisy duduk di salah satu bangku taman.


"Tadi itu RT komplek ini?" tanya Juan.


"Ya, lebih tepatnya ibu RT. Karena suaminya yang menjadi RT."


"Oh, begitu. Dia sungguh pandai menyindir. Dia tidak tahu kalau aku belum belah duren, tapi menyuruh kita mengurung diri di kamar!" ucap Juan cemberut.


"Kak Juan ini! Bu RT kan cuma menyapa dan berbasa-basi, mana dia tahu kalau aku masih di segel, haha."


"Kenapa datangnya tidak minggu depan saja, tidak tahu aturan!" gerutu Juan.


Daisy hanya tertawa terpingkal melihat Juan yang cemberut. Tentu saja Juan tidak benar-benar marah. Dia hanya bercanda. Sikap penyabar dan penyayang Juan telah membuat Daisy luluh. Padahal awalnya Daisy sangat membenci Juan, karena Juan terpaut usia 10 tahun dengan Daisy.


Saat ini usia Daisy baru 22 tahun dan Juan sudah berusia 32 tahun. Tapi Juan memang terlihat awet muda. Dia masih terlihat sama seperti saat mereka baru bertemu. Tak ada yang mengira jika Juan jauh lebih tua dari Daisy, semua beranggapan Daisy dan Juan sebaya.


Setelah cukup beristirahat, Daisy dan Juan kembali ke rumah.Karena mereka masih libur dari pekerjaan mereka, mereka bersantai di rumah sambil menonton tv. Terkadang Juan dan Daisy bermain game di ponsel.


*****************************


jangan timpukin author ya readers


soalnya ML mereka gatot wkwk


tunggu chapter selanjutnya ya


jangan ngambek kalo readers ngambek nanti cantiknya ilang loh


jangan lupa likenya ya

__ADS_1


komen, bintang, vote seikhlasnya aja.


tetap stay ya readers


__ADS_2