Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Kakak sepupu


__ADS_3

Daisy menghabiskan masa skorsingnya dengan melamun dikamar. Seringkali Daisy mendesah berat, nafasnya terasa sesak setiap kali melihat cincin dengan permata berwarna biru itu. Hanya sebuah cincin tapi bisa memenjarakan kebebasan Daisy. Cincin itu laksana pagar pembatas yang amat tinggi bagi Daisy.


tok tok tok..


"Daisy, boleh mama masuk?"


"Masuk saja, mah!" jawab Daisy lesu. Dia berbaring sambil menatap ke arah kaca jendela. Dia tak bersemangat melakukan apapun.


"Sayang! ada Juan dibawah. Hari ini kan hari sabtu, Juan libur dan ingin mengajakmu jalan jalan!"


"Males mah!"


"Daisy, kamu dan Juan sudah bertunangan. Dan kamu juga janji sama mama, akan menuruti semua keinginan mama! kamu lupa?" ucap Shilla.


"Pesta pertunangan akan diadakan setelah kamu lulus SMA empat bulan lagi. Selama waktu empat bulan itu, gunakanlah untuk saling mengenal!" tambah Shilla.


Meski dengan enggan, tapi Daisy tetap bangun dan mencari baju ganti di lemari. Shilla keluar dan membiarkan Daisy berdandan. Daisy hanya menggunakan dress pink tangan panjang polos tanpa motif, dress pendek selutut itu membuat Daisy terlihat sangat cantik. Dia menyapukan sedikit bedak di wajahnya, dan memoles bibirnya dengan lipgloss strawberry. Daisy malas memakai highthells, jadi dia memakai Sepatu kets warna pink.


Setelah selesai berdandan, dia turun dan hanya membawa ponselnya. Daisy malas membawa tas karena sedang tak bersemangat.


"Daisy! sudah siap?" tanya Juan. Daisy hanya mengangguk tanpa senyum. Shilla menghampiri Daisy lalu berbisik.


"Sayang! senyumlah sedikit. Kasihan nak Juan didiemin gitu!" bisik Shilla. Daisy tersenyum tipis dengan terpaksa. Daisy dan Juan pergi dengan mobil sedan biru milik Juan. Juan memakai kaos putih polos dibalut kemeja kotak kotak biru sebagai luaran dan tidak mengancingkannya. Juan berusaha mengajak Daisy bicara selama perjalanan.

__ADS_1


"Terpaksa ya, jalan sama kakak?" tanya Juan.


"Om kali, bukan kakak!" jawab Daisy dengan jutek dan memandang jalanan disampingnya.


"Hahaha ... setua itu ya aku dimatamu?" Juan sama sekali tidak marah ataupun tersinggung. Dia menatap Daisy yang bersandar ke sandaran jok mobil dengan mata terpejam. Dia sudah jatuh cinta pada Daisy saat pertama kali dia melihat foto Daisy yang ditunjukan Shilla di ponselnya. Di tambah saat melihatnya secara langsung, saat Daisy kelas sepuluh.


"Kita mau pergi ke mana?" tanya Juan


"Kau ingin kemana?" tanya Daisy tanpa membuka mata.


"Bagaimana kalau kita pergi nonton!" awab Juan dengan semangat.


"Kau ingin menonton film?" tanya Daisy


"Em, sepertinya akan sangat bagus menonton diakhir pekan. Karena itu kurasa kita pergi nonton saja!" ucap Juan.


"Baiklah, kita ke perpustakaan saja!" jawab Juan


"Aku tidak mengajakmu! turunkan aku sendiri di perpustakaan!" jawab Daisy.


Juan memarkir mobilnya di depan perpustakaan. Daisy turun sendiri, Juan memilih menunggu Daisy didalam mobil. Juan tahu Daisy sangat tidak menyukainya, tapi Juan akan berusaha sekeras mungkin, untuk menarik hàti Daisy.


Didalam perpustakaan Daisy mengambil buku pendidikàn kedokteran dan membacanya sebentar, lalu menempelkan wajahnya di meja. Zahrà dan Roni ternyata pergi ke perpustakaan yang sama dan melihat Daisy, yang menopang dagunya di meja dengan sedih. Diluar Juan memperhatikan kedalam perpustakaan yang sengaja dibuat hanya di kelilingi dinding kaca. Dia melihat Daisy yang duduk bertopang dagu dimeja dengan lesu.

__ADS_1


Juan memutuskan menyusul Daisy kedalam. Sebelum Juan sampai ke tempat duduk Daisy, temannya Zahra dan Roni sudah lebih dulu menyapa Daisy. Mereka berbicara berbisik bisik.


"Dais, kamu sudah dari tadi?"tanya Zahra. Daisy hanya mengangguk lemah.


"Kenapa sih, Dais? loyo amat!" bisik Roni.


Juan sampai ditempat duduk Daisy, dan langsung duduk dikursi samping Daisy. Juan menempelkan pipinya dimeja, menghadap ke arah Daisy. Daisy mengangkat wajahnya dari meja, dan kembali duduk tegak. Roni dan Zahra bertanya.


"Siapa?" mereka bertanya dengan isyarat.


"Kakak sepupu!" jawab Daisy pelan. Juan mengangkat wajahnya dan tersenyum manis kepada teman teman Daisy, yang duduk didepannya. Sejenak Daisy terpukau melihat senyuman Juan. Tapi dengan segera Daisy memalingkan wajahnya, dan menarik kedua temannya keluar dari perpustakaan.


"Aku ingin pergi main dengan teman temanku. Kamu pulanglah sana!" Setelah berkata begitu Daisy masuk ke mobil Roni bersama Zahra. Mereka berkeliling mall lalu ke pasar malam. Saat Daisy sudah lelah berkeliling dia memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taxi. Karena Daisy tidak mau pulang bersama Roni dan Zahra. Tapi sebelum masuk kedalam taxi tangannya dicekal oleh seseorang. Dia memberikan uang pecahan lima puluh ribu pada supir taxi, dan menutup pintu taxi.


"Kamu!" ucap Daisy dengan pandangan tak percaya. Ternyata Juan mengikuti mereka sedari siang sampai malam. Saat mobil Roni pergi tanpa Daisy, Juan mencari Daisy dan menemukannya sedang menyetop taxi.


"Kamu keluar rumah denganku, jadi pulanglah denganku juga!" Juan menarik tangan Daisy dan membawanya ke mobil. Mereka pulang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Sampai di rumah, Daisy segera turun dan masuk kedalam rumahnya. Shilla yang duduk diruang tamu itu melihat Daisy masuk ke rumah, disusul Juan yang mengikuti Daisy dibelakangnya.


"Nak Juan! sudah makan malam?" sapa Shilla. Daisy lalu naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.


"Sudah tante! saya permisi pulang kalau begitu. Daisy pasti capek setelah berkeliling!"

__ADS_1


"Memangnya, nak Juan dan Daisy berkeliling kemana saja?" tanya Shilla penasaran.


"Daisy dan saya berkeliling mall dan pergi kepasar malam juga!" jawab Juan. Juan tidak berbohong karena dia memang kesana, tapi bukan untuk ngedate melainkan mengikuti Daisy dibelakangnya tanpa Daisy tahu.


__ADS_2