Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Tumben


__ADS_3

Sehari setelah Juan kehujanan, dia sedikit merasa tidak enak badan, tetapi Juan masih bisa mengantar jemput Daisy. Hari kedua Juan mulai merasa jika dia sakit, dia mengantar Daisy kesekolah tapi tidak menjemputnya pulang.


Daisy menunggu di gerbang selama setengah jam dan Juan menelpon Daisy bahwa dia tidak bisa menjemputnya. "Tumben!" hanya satu kata singkat yang Daisy katakan lalu dia menutup telponnya. Hari ketiga dan seterusnya hingga hampir satu minggu, Juan tidak mengantar jemput Daisy, berangkat ataupun pulang sekolah. Daisy merasa ada yang hilang tapi entah apa.


Disekolah, Daisy yang biasanya bercanda dengan Zahra dan Roni kini lebih cenderung diam. Hingga kedua sahabatnya itu bingung.


"Hey, Dais. Ada apa? sudah beberapa hari ini kamu kelihatan murung?" tanya Zahrana. Daisy menelungkupkan wajahnya dimeja dengan ditopang telapak tangannya.


"Za, seharusnya aku merasa senang kan? tapi selama lima hari kak Juan tidak datang ke rumah ataupun menelpon dan memberi kabar, kenapa aku malah merasa aneh. Aku terkadang berpikir dia kenapa? apakah dia baik baik saja? Aku merasa khawatir, karena aku pernah mengerjainya menyuruhnya membeli siomay hujan-hujanan. Aku merasa sangat bersalah, Za!" jawab Daisy lalu mengangkat wajahnya, dan duduk kembali di kursinya dengan tegak. Zahrana tersenyum mendengar curhatan Daisy.


"Za! kok malah ngetawain sih!" rungut Daisy.


"Dais, kamu yakin kamu hanya merasa bersalah? Apa mungkin sebenarnya kamu mulai menyukai Juan?" tanya Zahrana dengan perlahan. Zahrana melihat Daisy kebingungan sendiri, dengan jawaban yang akan dia berikan pada Zahrana.

__ADS_1


"Aku yakin kok. Aku cuma gak enak hati aja kalau dia sampai sakit karena ulahku," jawab Daisy dengan senyum canggung.


"Tapi yang kulihat adalah kamu bukan merasa bersalah. Tapi kamu merasa kehilangan dan ... " Zahrana menggantung ucapannya. Daisy menunggu Zahrana melanjutkan ucapannya, tapi Zahrana tak mau segera melanjutkan ucapannya.


"Dan ... apa, Za?" tanya Daisy dengan rasa penasaran. Zahrana bangun dari kursinya dan sedikit menjauh lalu dengan tawa renyah Zahrana menjawab.


"Dan ... merindukannya," Zahrana segera berlari keluar dan tak mendengar teriakan Daisy yang memanggil namanya dengan kesal, karena Zahrana malah meledeknya.


Daisy memikirkan kembali celotehan Zahrana yang sebenarnya hanya meledeknya. "Apa iya aku merindukannya?" Daisy bertanya tanya sendiri dalam hatinya. Lalu Daisy menggeleng gelengkan kepalanya "Tidak, tidak mungkin. Masa aku merindukan dia? Cinta juga enggak sama dia. Kalau kehilangan sih memang aku merasa sedikit kehilangan. Tapi aku tidak mungkin merindukannya!" ucap Daisy dengan suara pelan sekali.


Shilla memperhatikan raut wajah putri semata wayangnya, yang terlihat tak bergairah. Daisy bahkan tak melihat dan menyapa Shilla, yang sedang merangkai bunga mawar diruang tamu. Daisy melewatinya begitu saja jika saja Shilla tidak menegurnya, mungkin Daisy tidak akan menyapa Shilla sama sekali.


"Daisy, sudah pulang," sapa Shilla lalu melangkah mendekati Daisy yang berhenti di anak tangga kedua. Daisy memaksakan senyumnya dan menjawab Shilla.

__ADS_1


"Eh, iya mah. Maaf Daisy gak lihat mama tadi!" ucap Daisy.


"Ada apa, sayang?" tanya Shilla dengan lembut menarik dan menuntun Daisy, untuk duduk disofa ruang tamu. Daisy bingung, apakah dia harus jujur dengan mamanya atau tidak. Tapi Daisy sungguh merasa terganggu dengan perasaan aneh yang dia rasakan saat ini. Shilla perlahan mengusap rambut panjang Daisy dan mencoba menenangkan kegundahan yang Shilla lihat dari mata Daisy.


"Daisy bisa anggap mama teman Daisy jika Daisy merasa butuh teman cerita! Ceritakan pada mama, apa yang mengganggu pikiran Daisy?" tanya Shilla sambil merapikan anak anak rambut Daisy kebelakang telinga.


"Kak Juan mah!" ucap Daisy dengan ragu-ragu.


"Kenapa dengan Juan. Apa dia menyakitimu?" tanya Shilla. Daisy menggeleng lemah.


"Kak Juan, kenapa sekarang jarang kesini mah?" tanya Daisy dengan menunduk sedih.


"Juan sedang sibuk. Itu juga kata pak Herman asisten Juan. Kalau Daisy merasa kangen kenapa tidak pergi ke rumahnya saja, hum?" ucap Shilla. Wajah Daisy memerah digoda seperti itu oleh ibunya. Shilla kemudian mencatatkan alamat Juan di ponsel Daisy. "Pergilah, sore nanti. Siapa tahu Juan sudah pulang mengajar. Sekarang jangan murung lagi, ganti bajumu dan makan siang. Sore nanti ibu buatkan makanan untuk Juan, Daisy bawakan buat Juan ya!" ucap Shilla. Daisy mengangguk dan pergi ke kamarnya lalu mengganti baju seragam sekolahnya.

__ADS_1


Ada sedikit perasaan lega dan bahagia, saat Daisy menatap alamat rumah yang ada dilayar ponselnya. Daisy merasa tak sabar menunggu sore hari. Setelah makan siang Daisy sibuk dikamarnya, memilih baju apa yang akan dia pakai untuk pergi menemui Juan. Setelah hampir satu lemari Daisy mengacak acak baju di lemari pakaiannya. Akhirnya Daisy memilih dress pendek sepaha dengan warna kuning muda dan kerah kerut dan dress tanpa lengan itu begitu cantik saat Daisy memakainya di sore hari. Daisy menjepit sedikit rambut sebelah kanannya kebelakang dan sisanya dia biarkan tergerai indah disisi depan pundak kirinya.


Shilla sudah menyiapkan bekal, untuk makan malam Daisy dan Juan nanti di rumah Juan. Jam lima sore Daisy pamit pada Shilla dan memesan taxi online. Taxi itu sudah berada didepan gerbang rumah Daisy, saat Daisy keluar dari rumahnya. Daisy pun masuk kedalam taxi yang akan membawanya ke rumah Juan. Senyum cerah tercipta dari bibir Daisy, yang sudah hampir seminggu ini tak semangat untuk tersenyum. Taxi itu membelah jalanan sore di ibu kota dengan kecepatan standard, karena jalanan yang dilalui untuk ke rumah Juan sedang ramai meskipun tak sampai macet. Daisy berharap Juan sudah pulang bekerja.


__ADS_2