Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Ulang tahun pertama (2)


__ADS_3

“Za, mampirlah ke rumah. Aku akan mengadakan pesta ulang tahun untuk kedua putraku.”


“Aku ingin, tetapi jadwalku sangat padat, dan aku akan pergi. Lima menit lagi supirku akan datang. Jadi, Maafkan aku. Aku sangat ingin mampir, tapi aku tidak bisa.” Zahra menyatukannya tangan dan meminta maaf. Daisy masih sangat ingin berbincang dengan teman lamanya itu, tapi Daisy sadar bahwa Zahra memang harus segera pamit.


Daisy mengantar Zahra sampai di depan cafe, saat Zahra sudah berlalu dari pandangannya, Daisy menyetop taksi dan pulang ke rumah.


***


Mobil-mobilan pesanan Juan sudah sampai di rumah. Juan menyuruh supir meletakkannya di halaman depan.


“Di sebelah sana saja, Pak,” ucap Juan saat supir menurunkan mobil-mobilan itu. Juan memberi uang tip pada supir sebelum supir itu pergi.


“Nak, istirahatlah. Semua persiapan pesta sudah beres, hanya tinggal menunggu sore. Masih ada waktu dua jam sebelum pesta, istirahatlah.” Shilla menyuruh Juan beristirahat karena Shilla tahu, Juan sebenarnya sedang tidak enak badan.


“Ya, Ma. Mama juga beristirahat, Mama sudah sibuk sejak pagi.” Juan menuntun Shilla masuk ke dalam rumah. Shilla tersenyum pada Juan. Shilla merasa senang karena pria yang ia pilih sebagai menantu, adalah pria yang sangat baik.


Shilla terbatuk dan mulutnya mengeluarkan sedikit darah di telapak tangannya, tapi Shilla segera menyembunyikannya. Shilla tak mau membuat Juan dan yang lain cemas. Shilla lupa bahwa putrinya seorang dokter.


***


Lilis bersama Koko sudah bersiap pergi ke pesta ulang tahun Raffa dan Raffi. Tak lupa mereka membawa serta putri mereka yang berusia sepuluh bulan, dan juga Via. Sebuah kado tersimpan rapi di dalam bagasi mobil. Koko bingung untuk memilih hadiah yang tepat, jadi Koko memilih dua pasang sepatu untuk mereka.


“Via, sudah selesai, sayang?” Lilis menunggu di depan pintu kamar Via. Tak lama Via keluar.


“Sudah, Ma.”

__ADS_1


Mereka pun berangkat ke rumah Shilla. Sejak berbaikan dengan sang ayah, hidup Lilis begitu damai dan bahagia. Seminggu sekali ayahnya menginap dan bermain bersama Via. Dulu ayahnya begitu membenci Via, bahkan tidak mau mengakui Via sebagai cucu. Kini semua berubah seratus delapan puluh derajat.


***


Daisy sudah memakai gaun yang begitu indah, ia juga berdandan dengan sangat cantik. Juan yang duduk di tepi ranjang memperhatikan Daisy, jika saja tidak ada acara penting, maka Juan sudah pasti menerkam Daisy.


“Sayang, kamu cantik sekali. Aku jadi sedikit bergairah melihatnya,” goda Juan.


“Kamu itu memang selalu bergairah, sampai setiap malam tak pernah absen untuk soal itu,” jawab Daisy.


“Masih saja pakai kata ‘itu’. Kenapa tidak katakan saja bercinta, haha,” Juan paling suka dengan wajah Daisy yang memerah saat mereka membicarakan hal itu. Namun Daisy selalu cemberut jika Juan mulai menggodanya.


“Sudahlah, sudah waktunya turun. Kita harus menyambut tamu,” ucap Daisy sambil merapikan sedikit make up diwajahnya. Setelah rapi, ia menggandeng Juan yang masih duduk di ranjang.


“Sayang, setelah pesta, ya?”


“Apa sih, Kak.” Daisy mencubit pinggang Juan. Juan hanya meringis sambil tersenyum.


Ketika Daisy dan Juan turun, di sana sudah ada Lilis dan Koko serta kedua putrinya. Mereka menyapa Koko dan para tamu yang lain. Pesta sederhana itu berjalan lancar, hingga semua orang pulang, Shilla hanya duduk di ruang tamu. Dadanya semakin sesak, ia terus terbatuk saat menghirup nafas.


Shilla pergi ke kamarnya, dan merebahkan diri di ranjang. Dia tahu kondisi penyakit paru-paru yang dideritanya semakin parah, tapi Shilla tetap tidak mau memberitahukan siapapun.


“Tuhan, apakah sudah waktunya aku bertemu Papa. Sungguh, aku sudah tidak kuat menahannya lagi. Uhukk uhuukk,” Shilla bergumam lirih.


Denis di ruang tamu melihat cucu kembarnya bermain mobil-mobilan, setelah semua tamu pergi. Sedangkan Shilla sudah tergeletak di lantai, dengan tangan menggenggam sapu tangan yang penuh dengan darah.

__ADS_1


“Dais, Mamamu mana?” Denis celingukan mencari Shilla.


“Mungkin di kamar, Pa.”


“Ya, sudah. Papa ke kamar duluan.”


Denis pergi ke kamarnya, dan matanya terbelalak lebar melihat Shilla. Denis berteriak memanggil Daisy.


“Daisy!!” teriak Denis memanggil.


Daisy yang mendengar Denis berteriak, segera berlari disusul Juan. Saat Daisy masuk, ia tertegun melihat sang ayah yang menangis histeris menangisi Shilla dalam dekapannya.


“Pa, Mama kenapa? Hiks, apa yang terjadi dengan Mama?” Daisy segera bersimpuh di hadapan tubuh Shilla yang terbaring di lantai dengan tubuh bagian atas dalam dekapan Denis. Daisy memeriksa denyut nadi Shilla dan seketika Daisy menjerit.


“Mama… Ma bangun, tidak… hiks hiks. Mama, jangan tinggalkan Daisy, Mama bangun!!” Daisy berteriak histeris. Juan mendekap Daisy, ia meneteskan air mata.


Shilla sang penyelamat hidup Juan, telah berpulang. Shilla pergi tanpa pamit, dia menyimpan rapat penyakitnya sendiri. Hari ini Shilla telah terbebas dari penyakitnya. Di hari ulang tahun cucunya, Shilla menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah tersenyum.


Tangisan Denis dan Daisy begitu memilukan. Iyah, juga menangis melihat majikannya yang telah berpulang. Sedangkan kedua putra Juan hanya terdiam heran melihat semua orang dewasa di rumah itu menangis.


***


Shilla segera dimakamkan keesokan harinya. Tadinya Denis ingin memakamkan Shilla semalam, tapi karena gerimis jadi mereka menundanya hingga pagi. Malam itu gerimis turun diantara sinar rembulan, seolah bulan juga menangisi kepergian Shilla.


Setelah pulang dari pemakaman, Denis dan Daisy mengurung diri di kamar. Mereka tidak ingin berbicara dengan siapapun. Kehilangan Shilla sungguh pukulan terbesar dalam hidup Denis dan Daisy. Juan duduk bersandar di sifat ruang tamu, tak dapat dipungkiri Juan juga sangat kehilangan orang yang sudah dianggap ibu oleh Juan, jauh sebelum Juan menjadi menantunya. Suasana rumah Denis hari ini begitu sepi, kecuali suara Raffa dan Raffi yang belum mengerti apapun.

__ADS_1


__ADS_2