
Daisy bangun pagi-pagi sekali dan memasak sarapan untuk papa dan mamanya. Daisy berharap bisa membujuk orang tuanya, untuk membatalkan perjodohannya. Daisy masih ingin mewujudkan impiannya kuliah kedokteran. Daisy tak bisa membayangkan, jika dia harus bertunangan di usia 18 tahun, yang mungkin setelah dua atau tiga tahun atau mungkin juga lima tahun kemudian, dia harus menikah.
Dia bercita-cita kuliah kedokteran di USA. Daisy sangat ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam. Dia ingin membuka sebuah klinik yang bisa mengobati orang-orang yang tidak mampu. Daisy merasa cita-cita mulianya tak bisa dia korbankan begitu saja, untuk menuruti keinginan kedua orang tuanya. Meskipun Daisy tahu, itu semua untuk kebaikannya.
Shilla dan Denis turun dari lantai atas menuju ke meja makan. Shilla tadinya hanya akan sarapan dengan roti dan selai buah, tapi ternyata di meja makan sudah tersaji nasi goreng, kerupuk dan juga telur mata sapi. Daisy juga membuatkan jus wortel untuk papanya, serta jus jeruk untuk Shilla.
"Wah ... sarapannya enak sepertinya! kamu yang masak sayang?" tanya Denis pada Daisy. Daisy mengangguk dan menuangkan jus jeruk untuk Shilla. Daisy berusaha keras merayu Shilla, karena setiap keputusan dirumahnya selalu atas persetujuan Shilla. Karena Denis selalu berpikir apapun yang Shilla ucapkan, selalu demi kebaikan keluarga kecil mereka.
"Mah! bisakah mama memberi pilihan lain untuk Daisy? Daisy janji sama mama! Daisy tidak akan berkelahi lagi dengan laki-laki dan Daisy tidak akan buat masalah lagi!" Daisy menyatukan kedua tangannya, memohon agar sang mama membatalkan perjodohannya.
"Ada dua pilihan buat kamu!" jawab Shilla
"Apa mah? Daisy pasti akan patuh dengan salah satu pilihan dari mama!" jawab Daisy penuh harap. Daisy harap salah satu dari pilihan Shilla adalah perjodohan dibatalkan. Tapi Daisy dibuat tak bisa berkutik, dengan pilihan yang Shilla tawarkan.
"Bertunangan atau menikah! silahkan pilih salah satu!" jawab Shilla.
"Mahh!" rengek Daisy.
__ADS_1
"Berhenti merengek! kamu selalu janji untuk tidak lagi berkelahi dengan laki-laki dan juga akan menuruti mama! Tapi apa? kamu sudah lupa? selama sekolah SMP, sembilan kali mama dipanggil ke sekolah. Dan selama di SMA, ini sudah kelima kalinya mama dipanggil kesekolah. Memang mama akui nilai akademis kamu selalu diatas rata-rata, tapi kalau kamu sebagai wanita malah selalu berkelakuan layaknya pria, itu melanggar kodrat kamu sebagai wanita!" ucap Shilla panjang lebar.
"Daisy! ikut papa!" Denis bangun dan mengajak Daisy bicara berdua di halaman. Daisy duduk di bangku taman depan rumahnya.
"Daisy, papa rasa tidak ada salahnya kamu coba untuk mengenal calon yang mama pilih!" ucap Denis
"Tapi pah! Daisy ingin kuliah di USA saat lulus SMA. Hanya tinggal empat bulan lagi pah! empat bulan lagi Daisy ujian. Dengan perjodohan ini, Daisy merasa mama menghalangi impian Daisy!" jawab Daisy dengan terisak sedih. Denis memeluk putri semata wayangnya.
"Terima saja perjodohan ini, saat Daisy merasa tidak bisa berusaha mencintai calon suami Daisy, papa akan bantu Daisy buat membatalkan pernikahannya. Percayalah sayang, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke lembah derita!" ucap Denis. Daisy berusaha menerima apa yang Denis ucapkan. Dia mengusap air matanya.
(Benar apa yang papa bilang. Lebih baik aku terima saja dulu, nanti aku bisa beralasan jika kami tidak cocok!) gumam hati Daisy
"Tentu saja! papa sangat kenal. Papa sering bertemu dia dilapangan badminton. Namanya Juan Zabrani, usianya 28 tahun, lajang, yatim piatu, punya dua minimarket dan juga punya sekolah khusus kursus kepribadian untuk wanita!" ucap Denis dengan wajah berbinar bangga.
"Tetap saja! dia berbeda sepuluh tahun denganku pah!" Daisy merengut.
"Tapi dia tampan! banyak wanita yang mengelilinginya tapi dia tidak mau menanggapi!" ucap Denis
__ADS_1
"Lalu kenapa, dijodohkan dia malah mau? Tidakkah aneh?"
"Tentu saja tidak! karena mama sudah menyelamatkan nyawanya.Jadi dia bersedia dijodohkan denganmu, meskipun papa dan mama tidak menunjukan fotomu. Kami bahkan bilang kalau anak kami jelek, tapi dia tak masalah dengan itu! Papa punya fotonya, mau lihat tidak? Ini papa curi dari akun medsosnya!"
Daisy merasa memang benar Juan terlihat sempurna. Tapi bagi Daisy yang hatinya sama sekali tak tergerak, itu hanya tampang yang tampan. Tak ada rasa tertarik dalam hati Daisy.
"Tak ada salahnya dicoba dulu, untuk pendekatan. Cinta itu bisa datang tanpa diduga. Contohnya papa dan mama, dulu menikah karena dijodohkan kakekmu sebelum meninggal. Tapi seiring seringnya kami bersama, akhirnya cinta itu tumbuh, dan melahirkan buah cinta seorang putri yang cantik seindah bunga, 'Daisy' putri papa satu satunya!" ucap Denis mengusap rambut Daisy
"Kenapa papa dan mama tidak melahirkan seorang anak lagi atau seperti bu Rt yang anaknya enam orang hahaha!"
"Mama bukan tidak mau! tapi mama tidak bisa hamil lagi semenjak bangun dari koma! Saat mama mengandung kamu, itu karena baru sebulan mama koma. Setelah koma lima tahun, indung telur mama kering, setidaknya itu yang papa ingat, saat mama dan papa berkonsultasi ke dokter untuk program hamil anak kedua!" jelas Denis.
Daisy mengerti jika papa dan mamanya tak bisa lagi mempunyai anak. Daisy akhirnya bangun dari duduknya dan masuk mencari Shilla. Daisy akan mencoba membuat Shilla tidak lagi bersedih memikirkan dirinya.
"Mah Daisy pilih bertunangan saja! jika seandainya kami tidak cocok satu sama lain! Daisy mau, mama tidak menjodohkanku lagi dengan siapapun?"
__ADS_1
"Ok. Mama setuju!"
Dan akhirnya Daisy pun bertunangan dengan Juan, orang yang sama sekali tak dikenal baik oleh Daisy. Sore itu setelah Daisy setuju untuk dijodohkan, Shilla langsung memanggil Juan ke rumah untuk bertukar cincin. Karena Juan seorang yatim piatu jadi dia hanya ditemani asistennya, dari sekolah pribadinya saat melakukan pertunangan.