Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Hari kelulusan


__ADS_3

Tiga hari setelah pesta pertunangan, pengumuman hasil ujian sudah tertempel di mading sekolah.


"Yeeyyy, aku lulus!" Zahra bersorak riang. Roni juga senang saat melihat namanya tertera disana, tapi dia juga merasa sedih dan sedikit murung.


"Hai Ron, Za! kalian sudah melihat namaku tidak?" tanya Daisy yang baru tiba di sekolah.


"Kamu bercanda apa! namamu sudah pasti ada! Tidak mungkin rangking pertama di kelas tidak lulus!" jawab Zahra antusias. Zahra menoleh ke arah Roni yang terlihat murung. ahra merasa heran, kenapa Roni murung. Padahal namanya tertera diantara siswa yang lulus.


"Beib, kamu kenapa? Kenapa murung?" tanya Zahra. Zahra tidak tahu apa yang sedang Roni pikirkan. Wajah Roni bak langit mendung yang membawa air hujan. Sungguh membuat siapa pun yang melihatnya merasa kasihan.


"Aku senang aku bisa lulus, tapi itu berarti aku akan segera berangkat ke Australia, dan kuliah disana seperti rencana awal! Dan aku harus berjauhan denganmu!" jawab Roni.


Ucapan Roni seketika itu juga menyentuh perasaan Daisy. Tiba-tiba dia juga ingat, bahwa dia belum mengatakan pada Juan tentang rencananya kuliah di USA. Daisy terlalu takut untuk membicarakannya dengan Juan. Daisy takut Juan tak mendukung keinginan Daisy.


"Beib, baik aku ataupun kamu, kita sama-sama masih muda! Kuliah di luar negeri hanya tiga tahun, aku juga akan berkuliah di sini selama tiga tahun. Lalu kenapa harus sedih, percayalah jika memang berjodoh meski LDR tapi kita tetap akan bersama!" ucap Zahra.


"Mereka seumuran, karena itu tak masalah untuk mereka jika menunggu lulus kuliah baru menikah! Tapi aku dan kak Juan, terpaut usia sepuluh tahun. Jika aku kuliah di luar negeri selama tiga tahun, apa mungkin kak Juan mau menungguku selama tiga tahun?" Daisy berjalan keluar dari sekolah sambil bergumam dalam hatinya. Karena mereka hari ini tidak ada kegiatan, jadi Daisy memilih pergi dari sekolah setelah melihat pengumuman.


Daisy menyusuri sepanjang jalan dari sekolah menuju arah taman yang tak jauh dari sekolah. Taman yang bisa ditempuh dua puluh menit jika berjalan kaki. Daisy melamun sepanjang perjalanan. Ternyata Juan yang tadinya akan pergi ke supermarket itu berpapasan dengan Daisy. Juan melihat wajah muram Daisy, dan dia memilih menepikan mobilnya lalu mengikuti Daisy yang sedang berjalan lunglai.


"Kenapa dia murung seperti itu? Tidak mungkin jika Daisy tidak lulus, jadi apa yang membuatnya murung?" Juan bertanya-tanya dalam hati sambil terus berjalan di belakang Daisy. Juan ingin tahu kemana arah tujuan Daisy.

__ADS_1


Daisy berhenti di pintu taman sejenak, kemudian melangkah memasuki taman. Daisy menapaki jalan menuju arah danau buatan di area taman. Setelah sampai di sana, Daisy duduk di salah satu bangku taman. Dia menatap lurus ke arah danau buatan yang dipenuhi bunga teratai.


Di belakang Daisy, Juan bersedekap sambil bersandar di sebatang pohon besar. Pohon albasia yang sedang berbunga, bunga berwarna orange kemerahan itu sangat mirip dengan warna matahari saat akan tenggelam.


"Apa yang membuatmu berwajah sendu seperti itu, sayang? Apa kau tidak bisa bercerita padaku? Apa hubungan kita masih sejauh itu?" pikiran Juan terus berkelana, mencoba mencari jawaban atas sikap Daisy saat ini. Tapi Juan sama sekali tak menemukan jawabannya.


Daisy mengeluarkan ponselnya dan memasangkan earphone di telinganya, lalu Daisy menyambungkan ujung earphone ke lubang dibagian bawah ponsel. Dia memutar lagu kesukaannya, ost anime favoritnya 'Every Heart'. Entah kenapa dia sangat menyukai lagu itu. Daisy memejamkan matanya, sambil mendengarkan lagu yang diputar dari ponselnya.


Juan menghampiri Daisy dan duduk di sebelahnya. Daisy tidak mengetahui ada orang yang duduk disebelahnya, karena Juan sengaja duduk dengan perlahan agar tidak mengganggu Daisy. Juan menatap Daisy dengan senyum yang sangat manis.


Setelah lagu yang diputarnya berhenti, Daisy membuka mata dan melihat ada sepasang sepatu lain di samping kakinya. Daisy menoleh ke samping lalu tersenyum dan melepas earphone yang terpasang di telinganya.


"Kak Juan, kakak kok ada di sini?" tanya Daisy.


"Apaan sih, kak! masih pagi udah ngegombal!" ucap Daisy dengan wajah bersemu merah.


"Jadi! Kenapa Daisy murung? Ini kan masih pagi! masa udah kehabisan baterai, hahaha," Juan menggoda Daisy kembali.


"Ih... kak Juan nyebelin! masa aku dibilang kehabisan baterai, emang aku robot, huuhh!" Daisy merengut kesal.


"Ikut kakak yuk! dari pada bengong sendiri di depan danau kaya gini!" Juan menarik tangan Daisy agar bangun.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Daisy bingung.


"Kerja!" jawab Juan singkat.


"Tidak mau, ah! sama saja bete kalau ikut kak Juan kerja. Nanti kak Juan duduk dan sibuk bekerja aku bengong sendiri!" jawab Daisy. Dia membayangkan CEO seperti dalam drama korea yang ditontonnya. CEO yang duduk di belakang meja kerja. Mengamati, membaca dan menandatangani berkas-berkas yang menumpuk.


"Kamu bayangin pekerjaan kakak ya?" tebak Juan.


"Kok kakak tahu? kakak punya ilmu membaca pikiran ya? Oh, atau kakak bisa mendengar suara hati orang lain?" tanya Daisy dengan semangat.


"Apa sih yang ada di otak kamu? Korban drama, begini nih! Udah cepetan ikut aja!" Juan lalu menarik Daisy berjalan ke tempat dia memarkir mobilnya. Sampai di tempatnya memarkir mobil, Juan menyuruh Daisy masuk ke dalam mobil.


Juan mengajak Daisy pergi ke supermarket terlebih dulu, Juan mengecek para pekerja yang selesai merenovasi supermarket itu dan sedang melakukan pengecatan. Kemudian Juan mengajak Daisy menyapa karyawan mini market dan mengecek pembukuan bulan lalu. Setelah selesai, Juan mengajak Daisy makan siang. Mereka pergi ke warung soto betawi milik bang Ucup.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Juan dan Daisy mengobrol sambil bercanda ria.


"Aku pikir kak Juan punya kantor seperti presdir pada umumnya!" ucap Daisy.


"Kakak kan hanya pengusaha kecil, buat apa harus punya kantor! Lagi pula, semua urusan sudah di pegang pak Herman. Kakak hanya mengecek beberapa hari sekali, seperti tadi!" ucap Juan.


"Oh, begitu. Terlihat seperti pengangguran tapi ternyata usahanya dimana-mana. Calon suami idaman semua wanita!" ucap Daisy dengan wajah tersenyum. Juan juga tersenyum lalu mengusap rambut Daisy dengan lembut.

__ADS_1


Pesanan mereka datang. Dua porsi soto betawi dan dua gelas es teh manis. Daisy dan Juan segera menyantap makanan mereka. Selesai makan siang, Juan mengantar Daisy pulang ke rumahnya. Seharian menemani Juan, membuat perasaan Daisy sedikit lebih baik. Juan pulang ke rumahnya setelah mengantar Daisy dengan selamat kembali ke rumahnya.


__ADS_2