
Taxi yang Daisy naiki akhirnya sampai juga didepan gerbang rumah sederhana milik Juan. Rumah Juan berbanding terbalik dengan rumah Daisy, yang memiliki banyak ruangan dan empat kamar, juga memiliki halaman depan yang luas. Rumah Juan sangat sederhana dengan sebuah taman kecil didepan rumah, yang walaupun kecil tapi sangat indah, dan garasi yang hanya cukup untuk satu buah mobil. Rumah sederhana yang lebih terlihat seperti sebuah kost-kostan. Daisy turun dari taxi setelah membayar ongkos. Jantung Daisy berdebar debar sangat kencang sampai dia harus menarik nafas dalam berulang ulang, sebelum melangkah memasuki gerbang yang terbuka lebar.
Daisy melangkah perlahan, sambil menenangkan hatinya yang gugup. Daisy sampai didepan pintu, dia bersiap mengetuk pintu tapi sebelum tangan Daisy sampai didaun pintu, Juan sudah membuka pintu. Daisy menunjukkan senyumnya saat melihat Juan membuka pintu, tapi senyum Daisy lenyap saat melihat wanita yang menggandeng lengan Juan.
"Daisy!" sapa Juan tak percaya jika yang berdiri dihadapannya adalah gadis pujaannya.
"Maaf ganggu! aku cuma mau mengantarkan makanan dari mama, permisi" Daisy meletakkan box plastik berisi makanan dari Shilla di bangku, dan Daisy segera berbalik lalu pergi berlari.
"Dais, hey tunggu dulu. Kamu salah faham, heh" Juan mendesah kecewa karena Daisy tak mau berhenti. Ratih yang berdiri disamping Juan jadi merasa tak enak hati. Sebenarnya Juan digandeng oleh Ratih karena sedang sakit tapi memaksa ingin mengantar Ratih keluar sampai didepan pintu. Ratih adalah dokter pribadi Juan, dia adalah teman sekampus beda jurusan dengan Juan. Ratih sudah menikah dan menjadi seorang dokter di rumah sakit swasta ternama di ibu kota.
"Maaf, aku sepertinya membuatnya salah faham," ucap Ratih.
"Kamu gak salah, terima kasih sudah bolak balik merawatku," ucap Juan.
"Sudah tugasku, masuklah. Kau bisa jelaskan padanya nanti, kalau kau sudah lebih segar. Banyak-banyaklah istirahat untuk dua atau tiga hari kedepan. Aku pulang dulu," Ratih menyuruh Juan masuk dan beristirahat. Ratih pulang dengan taxi karena suaminya sedang tugas shift sore, di rumah sakit yang sama dengan Ratih. Suami Ratih seorang dokter bedah umum, sedang Ratih dokter spesialis penyakit dalam. Dalam taxi Ratih melihat Daisy yang sedang duduk di halte, yang berjarak seratus meter dari rumah Juan. "Berhenti pak!" Ratih turun dari taxi. Ratih menghampiri Daisy dan duduk disebelah Daisy.
"Ngapain sih ni cewek nyamperin, gak tahu apa kalau aku lagi kesel banget lihat dia," gumam Daisy dalam hati. Daisy diam tak menoleh pada Ratih. Ratih mengulurkan tangannya pada Daisy.
__ADS_1
"Hai, Daisy. Kenalin aku Ratih dokter pribadi Juan. Dan aku sudah menikah, jadi tak perlu cemburu padaku. Aku menggandeng Juan karena dia masih belum bisa berjalan dengan baik. Katanya masih sedikit pusing!" ucap Ratih panjang lebar. Daisy meyambut uluran tangan Ratih dan memberanikan diri bertanya.
"Kak Juan sakit apa?" tanya Daisy. Daisy menatap wajah Ratih dengan seksama. Daisy melihat tak ada kebohongan dalam ucapan Ratih. Mata yang begitu teduh dan indah, dengan bulu mata lentik dan panjang itu begitu pas diwajah tirus berparas cantik. Ratih menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Daisy.
"Seminggu yang lalu Juan demam tinggi, pak Herman menelponku malam malam dan mengatakan Juan sakit. Setelah kuperiksa ternyata dia terkena gejala tiffus. Sepertinya karena kehujanan. Aku ingin membawa Juan untuk dirawat di rumah sakit tapi dia menolak, akhirnya aku merawat dan memberikan infusan di rumah. Dia pria yang baik kau tidak perlu ragu padanya. Aahh ... badanku pegal bolak balik pagi sore merawat tunanganmu. Karena hari ini infusannya sudah aku lepas, bisakah aku minta tolong padamu untuk menggantikanku merawat Juan?" tanya Ratih dengan tatapan berharap.
"Tapi aku cuma anak SMA mana tahu soal pengobatan orang yang sakit tifus!" jawab Daisy.
"Kau hanya perlu memberikan obat yang aku berikan untuk Juan. Dan pastikan dia untuk jangan terlalu banyak bergerak serta banyak istirahat. Pastikan dia makan sesuatu yang lunak, seperti bubur dan jus, aku yakin kamu bisa. Pergilah temui dia. Ini sudah waktunya dia meminum obatnya," Ratih bangun dan menyetop taxi. Dia melambaikan tangannya ke arah Daisy dan berlalu pergi meninggalkan Daisy di halte.
Daisy merasa bersalah karena ternyata dugaannya benar bahwa Juan mungkin sakit karena kehujanan. Daisy berlari secepat yang dia bisa untuk kembali ke rumah Juan. Dia sudah salah menilai Juan berselingkuh. Meskipun Daisy belum mengerti kenapa dia harus merasa marah melihat Juan dengan wanita selain dirinya. Daisy sampai didepan pintu rumah Juan.
Didalam rumah Juan sedang berbaring di sofa ruang tamu. Saat mendengar bunyi ketukan pintu, Juan memaksakan diri bangun meskipun kepalanya terasa berputar putar. Dia memutar kunci lalu membuka pintu. Senyum sumringah tercipta di bibir pucat Juan saat dia melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
"Boleh aku masuk?" sapa Daisy dengan canggung.
"Hem," Juan membuka lebar pintunya dan mempersilahkan Daisy masuk, lalu menutup kembali pintunya setelah Daisy didalam rumah. Juan mempersilahkan Daisy duduk disofa panjang ruang tamu. Juan duduk disamping Daisy dengan jarak dua jengkal. Daisy merasa kikuk duduk disamping Juan. Sedang Juan tak hentinya mengumbar senyum manis.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah pulang. Soal wanita tadi, dia ... " ucapannya terpotong oleh kata kata Daisy.
"Aku tahu, dia dokter kak Juan kan!" ucap Daisy menatap ke arah Juan disampingnya. Juan menatap dua manik bola mata coklat milik Daisy. Pandangan mereka bertemu satu sama lain, Juan kemudian mencondongkan tubuhnya semakin dekat ke arah Daisy. Daisy hanya memandang tak berkedip dengan degupan jantung yang semakin cepat. Juan melihat peluh menetes dipelipis Daisy. Juan menjauhkan kembali tubuhnya dan tersenyum geli melihat Daisy yang begitu gugup.
"Huufftt ... dia ngapain dekat dekat mukaku. Hampir aja aku kehabisan nafas, karena tegang tadi aku malah tahan nafas," gumam hati Daisy.
"Ekheemm, kenapa tidak memberitahu kalau sakit. Buat orang lain cemas saja!" ucap Daisy dengan ketus pada Juan. Juan tersenyum manis membuat Daisy kesal.
"Malah ketawa lagi, bukannya mikir!" gerutu Daisy karena sebal melihat Juan justru terus tersenyum.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Juan.
"Hah ... tentu saja tidak. Aku cuma takut kalau kamu mengadu sama mama!" ucap Daisy menyembunyikan kekhawatirannya pada Juan.
"Takut jika aku mengadu sama tante Shilla bahwa kau sudah mencuri sesuatu dariku!" jawab Juan dengan pandangan menggoda.
"Aku tidak kekurangan apapun jadi untuk apa aku mencuri darimu, dan memangnya apa yang sudah kucuri? aku tidak merasa per ... " ucapan Daisy terhenti karena Juan memotong ucapannya.
__ADS_1
"Hatiku yang sudah kau curi!" jawab Juan. Mereka saling pandang.
deg deg deg ... jantung Daisy berdegup dengan cepat karena beradu pandang dengan Juan. Daisy segera berpaling ke arah lain sebelum Juan melihat wajahnya yang merona karena malu. Daisy sampai lupa kalau dia datang karena Ratih bilang Juan harus minum obat, dan Daisy ingin membuatkan bubur untuknya. Mereka hanya saling berdiam diri hingga langit senja berubah hitam dan gelap menandakan malam telah menyapa. Langit malam itu begitu cerah secerah hati Juan yang sedang bahagia karena Daisy mulai memperhatikannya.