Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Wedding Days


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba, hari yang mereka nanti-nantikan itu akhirnya datang. Hari ini mereka akan mengikat janji cinta mereka, dalam sebuah ikrar suci pernikahan. Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan cinta mereka, melainkan awal baru dari kehidupan cinta mereka.


Daisy sedang dirias di dalam kamarnya. Esti sedang menata rambut Daisy. Septi juga sedang berada di kamar Daisy bersama Shilla. Septi dan Shilla mengobrol sambil melihat Daisy yang sedang di tata rambutnya.


"Selamat ya, Shil. Kau akan segera mempunyai menantu. Jika saja aku bisa mempunyai anak, pasti aku juga sudah mempunyai menantu!" ucap Septi dengan sedih. Shilla merasa kasihan melihat Septi bersedih.


"Bukankah, Daisy juga putrimu? Kenapa harus merasa sedih. Hari ini bukan hanya aku yang akan mempunyai menantu, tapi kau juga!" ucap Shilla menghibur Septi.


Daisy berkaca-kaca mendengar perbincangan mereka. Daisy mengingat kenangannya bersama Septi ketika Daisy SMA. Betapa nakalnya ia, yang selalu membuat repot Septi. Karena tingkahnya yang selalu membuat masalah, dengan murid laki-laki di sekolahnya.


"Hei, karena cerita melankolis kalian, Daisy jadi menangis, dan make up Daisy luntur. Kalian membuatku harus bekerja ekstra!" gerutu Esti. Shilla, Septi, dan Daisy jadi tertawa.


Esti kembali merapikan riasan Daisy. Setelah rapi, Esti memakaikan sepatu di kaki Daisy. Shilla menghampiri Daisy, ia menatap Daisy dengan perasaan bahagia.


"Putri mama sangat cantik. Semoga kau dan Juan selalu bahagia," ucap Shilla sambil memeluk putrinya.


"Terima kasih, ma. Terima kasih karena mama dan papa sudah merawat dan membesarkan Daisy. Terima kasih karena sudah mempertemukan Daisy dan kak Juan. Terima kasih karena mama sudah memilihkan jodoh terbaik untuk Daisy. Mama adalah mama terbaik sedunia."


"Sudah, sudah. Nanti menangis lagi," ledek Esti.


"Kamu itu, mengganggu moment mengharukan saja!" ucap Septi.


Di apartement Juan


Herman menunggu sang pengantin pria yang sedang berganti baju. Koko juga ada di sana. Koko dan Herman sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Mereka akan menjadi pendamping dari pihak pengantin pria. Karena Juan tak memiliki siapa pun.


Akhirnya, setelah mereka lelah menunggu, Juan keluar juga dari kamarnya. Setelan jas berwarna putih itu sangat pas di tubuh Juan. Membuat Juan hari ini terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Selama itu? Hanya untuk memakai jas dan celana. Kalau kau terlambat, bisa-bisa pengantinmu di bawa lari oleh orang lain!" ledek Koko.

__ADS_1


"Berani kau meledekku? Mau aku turunin pangkatmu jadi tukang parkir?" jawab Juan.


Dan mereka bertiga tertawa. Juan menatap mereka berdua bergantian. Herman dan Koko jadi saling melempar pandangan heran.


"Aku pikir, aku akan sendirian saat menikah. Tapi kalian membuatku merasa memiliki keluarga. Terima kasih kalian bersedia menemaniku!" ucap Juan.


"Sejak dulu aku sudah menganggapmu putraku, jadi mana mungkin aku tidak mendampingi saat putraku menikah," ucap Herman.


"Terima kasih pak Herman."


"Ayo berangkat. Hari ini aku akan menjadi supir pribadi sekaligus pendamping pria. Sebelum pengantinmu kabur denganku, haha!" goda Koko. Dia mendapat tinju pelan dari Juan.


Mereka turun ke basement dan pergi dengan mobil mewah berwarna putih. Mobil itu sudah dihias dengan pita dan bunga di bagian depan. Mobil itupun pergi menuju rumah Daisy.


Di rumah Daisy


Semua tamu undangan sudah datang. Esti juga sudah memakaikan cadar transparan untuk menutup wajah Daisy. Daisy semakin gugup setelah waktu pernikahan semakin dekat. Denis masuk ke kamar Daisy. Shilla, Septi dan Esti keluar meninggalkan mereka berdua.


"Terima kasih, pa. Daisy sayang papa!" ucap Daisy.


Shilla, Septi dan Esti sudah duduk di kursi paling depan. Semua tamu undangan juga sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan. Mobil Juan masuk ke halaman rumah Daisy. Pendeta sudah berdiri di altar menunggu kedua mempelai. Juan berjalan di atas karpet merah menuju altar. Ia berdiri di sana menunggu pengantin wanita.


Suara pembawa acara terdengar oleh Denis dan Daisy dari kamar. Daisy berdiri saat nama mempelai wanita di panggil.


"Ayo!" Denis membuka lengannya, dan Daisy menggamit lengan Denis. Mereka turun dan melangkah di atas karpet merah. Di belakang Daisy, Zahra dan dua orang wanita kasir minimarket, menjadi pengiring sambil menaburkan bunga ke arah Daisy. Juan mengulurkan tangannya, setelah Denis dan Daisy sampai di depannya. Daisy menyambut uluran tangan Juan.


Mereka berdiri saling mengucap sumpah pernikahan di depan pendeta dan para tamu undangan. Shilla meneteskan air mata setelah Daisy dan Juan bertukar cincin pernikahan.


"Silahkan cium pasangan kalian!" ucap pendeta mengakhiri prosesi pernikahan.

__ADS_1


Juan membuka cadar yang menutup wajah Daisy dan mengecup keningnya.


Setelah itu para tamu undangan bergiliran mengucapkan selamat kepada kedua pengantin. Herman dan Koko juga memberikan selamat kepada mereka berdua.


Senyum lega terpancar dari wajah Daisy. Ia yang semula sangat gugup kini menjadi tenang. Semua prosesi berjalan lancar tanpa hambatan.


Juan juga tak hentinya menebar senyum bahagia. Setelah perjuangan panjang untuk mendapatkan hati Daisy, menunggunya selama tiga tahun. Kini Juan telah memiliki Daisy seutuhnya. Wanita yang begitu dicintainya, kini resmi menjadi istrinya.


Selesai pesta


Setelah menjamu para tamu undangan hingga malam hari. Kini Juan dan Daisy sudah berada di kamar pengantin mereka. Juan dan Daisy duduk berdampingan di tepi ranjang.


"Akhirnya selesai, lelahnya."


"Ya," jawab Daisy singkat. Daisy lalu bangun dan duduk di depan meja rias. Dia melepaskan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Daisy membuka anting dan kalungnya.


Juan menghampiri dan membuka jasnya. Meninggalkan kemeja putih yang melekat menutup dada bidangnya. Ia membantu Daisy melepas mahkota yang menyatu dengan cadar.


"Aku mau mandi dulu, tunggu aku!" ucap Juan di telinga Daisy kemudian mengecup pipi Daisy. Daisy tersenyum malu.


Daisy melanjutkan membuka kepangan rambutnya. Daisy membuka gaun pengantinnya tapi malah resletingnya menyangkut.


"Eh, tersangkut! Tunggu kak Juan deh," ucap Daisy. Dia melepas sepatunya. Daisy menatap cincin yang melingkar di jarinya. Di jari manis adalah cincin pernikahan dan di jari tengah adalah cincin pertunangan mereka tiga tahun lalu. Daisy melepas cincin pertunangannya, dan menyimpannya dalam kotak cincin di laci meja riasnya.


Juan keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan memakai handuk kimono. Juan tertegun melihat Daisy masih menggunakan gaun pengantinnya.


"Kenapa belum di buka bajunya?" tanya Juan. Dan senyum canggung terlihat di bibir Daisy.


"Aku tidak bisa membukanya! Bisakah kak Juan membantuku. Zippernya tersangkut baju dalamanku!" ucap Daisy dengan malu.

__ADS_1


"Bilang saja kalau kamu mau aku yang membuka bajumu!" goda Juan.


Daisy cemberut dan kesal karena bukannya membantu, Juan malah menggodanya. Juan mendekat dan membantu Daisy menurunkan resleting gaunnya.


__ADS_2