
Daisy menghampiri dan duduk di samping Juan. Ia mencoba mengecek suhu tubuh Juan dengan menyentuh kening Juan.
"Ada apa? Apa kak Juan marah soal tadi?" tanya Daisy.
"Dais, bolehkah aku bertanya?"
"Tanyalah!"
"Apa...Satya menyentuhmu? Aku tidak peduli walaupun kau sudah ternoda, aku tetap mencintaimu!"
"Dia tidak menodaiku! Meski dia pernah menyentuhku, tapi itu hanya sebatas tangan dan rambutku. Hanya itu yang dia sentuh." Daisy tadinya ingin menyimpan cerita itu sendiri. Tapi ķarena Juan bertanya, Daisy akhirnya menceritakannya.
"Aku hanya khawatir jika dia benar-benar menyakitimu!"
"Kak Juan hanya takut jika aku sudah kotor! Benarkan?" tanya Daisy dengan sedih. Dia bangun dan hendak pergi, tapi Juan menahan tangan Daisy.
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak peduli!!" jawab Juan dengan tegas.
Juan bangun dan memeluk Daisy dari belakang. Dia mengecup rambut panjang Daisy dengan lembut.
"Sayang, aku tidak peduli seperti apa dirimu. Aku hanya takut kehilanganmu! Dais, kita menikah saja secepatnya!" ucap Juan serius.
"Kita juga sudah lama bertunangàn dan saling mengenal. Kamu mau kan, sayang?" tambahnya lagi.
Daisy melepaskan tangan Juan yang mendekapnya. Kemudian Daisy berbalik menghadap Juan. Daisy melingkarkan tangannya di leher Juan, sedang Juan memeluk pinggang Daisy. Daisy memajukan wajahnya hendak mencium Juan dan kembali wajah Satya terbayang. Daisy menundukkan wajahnya di dada Juan.
"Pelan-pelan saja! Tak perlu terburu-buru. Aku tahu kamu pasti ingin melawan rasa traumamu. Mau aku bantu?" tanya Juan.
Daisy mengangguk. Juan menarik lepas dasi yang di pakainya. Lalu mengikatkannya untuk menutup mata Daisy.
"Sebentar, aku tutup pintu dulu!" ucap Juan pelan. Juan menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu kembali mendekati Daisy.
Juan menuntun tangan Daisy untuk memegang pundaknya. Kemudian Juan berbisik dengan lembut di telinga Daisy.
__ADS_1
"Saat kau merasakan panik, kau bisa mencengkram pundakku. Lawan ketakutanmu, aku yakin kamu bisa!" bisik Juan. Juan kemudian mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Daisy.
Bibir Juan baru menempel dan serangan panik Daisy kembali menyerang. Daisy mencengkram kuat pundak Juan dan Juan semakin memperdalam ciumannya. Keringat Daisy mulai mengalir di pelipisnya. Juan menghentikan ciumannya lalu memeluk Daisy.
"Sepertinya tidak sepanik tadi?" tanya Juan. Daisy mengangguk dalam pelukan Juan.
"Sekarang kau harus bertanggung jawab!" ucap Juan
"Tanggung jawab?" tanya Daisy sambil menjauhkan diri dari Juan, dan membuka dasi yang menutup matanya.
"Aku akan keluar bertemu kolega, jadi pasangkan lagi dasi itu di leherku." Juan tersenyum. Daisy juga tersenyum geli.
"Baiklah." jawab Daisy.
Juan membuka pintu dan pergi dari klinik kantornya. Dia mencari Koko di samping ruangannya.
"Ko, sudah kamu siapkan berkasnya?" tanya Juan.
"Sudah, pak!" jawab Koko.
Mereka menemui seorang klien di sebuah caffe. Sopian, pria berusia dua puluh lima tahun pemilik gedung di seberang gedung kantor Juan. Dia adalah pemilik online shop yang paling banyak di gunakan di Indo.
"Selamat sore, pak Sopian," sapa Juan.
"Selamat sore, pak Juan! Silahkan duduk!" Sopian mempersilahkan Juan duduk. Juan duduk di samping Sopian.
"Silahkan pesanlah dulu, supaya kita bisa bicara dengan santai." Sopian memanggil pelayan. Juan dan Koko memesan menu yang sama, teh matcha. Setelah memesan mereka pun membicarakan proyek kerja sama mereka.
Online shop milik Sopian ingin bekerja sama untuk memasarkan baju dari perusahaan baru milik Juan.
"Kenapa anda tertarik memasarkan produk fashion dari pabrik kecil saya?" tanya Juan.
"Pak Juan ini merendah saja. Semua orang tahu, produk fashion milik perusahaan bapak itu paling banyak diminati kaum muda jaman sekarang. Jadi saya rasa, suatu kehormatan bagi saya bila pak Juan bisa bekerja sama dengan kami."
__ADS_1
"Baiklah. Semoga kerja sama ini berjalan lancar kedepannya." Ucap Juan. Lalu mereka berdua saling menandatangani surat kontrak. Lalu Juan segera kembali ke kantor karena sudah jam pulang kantor.
Koko dan Herman sudah pulang lebih dulu, sedang Juan menunggu Daisy membereskan peralatannya. Lalu mereka pulang bersama.
Di rumah Daisy
Juan dan Daisy sudah sampai dan ikut menemui orang tua Daisy.
"Mama, ada kak Juan di ruang tamu. Katanya ingin bicara dengan papa dan mama!" ucap Daisy.
Shilla mencari Denis di kamarnya. Denis baru saja selesai mandi setelah pulang dari kantor.
"Mas, sudah selesai mandi? Juan ingin bicara dengan kita berdua!" ucap Shilla.
"Baiklah, kita turun sekarang," ajak Denis. Mereka berkumpul di ruang tamu.
"Begini, om dan tante, Juan bermaksud untuk segera menikah dengan Daisy. Jika om dan tante tidak keberatan!" ucap Juan.
"Benarkah? Tante sangat senang jika kalian segera menikah. Kapan rencananya nak Juan ingin menikahi Daisy?" tanya Shilla.
"Bulan depan, tante! Juan akan mempersiapkan semuanya mulai besok."
"Kami setuju! benarkan mas?" tanya Shilla menoleh ke arah suaminya. Denis berwajah muram mendengar penuturan Juan.
"Mas, mas tidak gembira mendengar Daisy akan menikah?" tanya Shilla kembali.
"Mas senang, sangat senang. Tapi itu berarti kita akan melepas putri kita dari rumah ini. Mas hanya tak percaya, anak kita sudah dewasa dan akan segera menikah. Rasanya baru kemarin kita menimang dan menina bobokan Daisy."
Daisy terenyuh mendengar ucapan Denis. Daisy bangun dan bersimpuh di pangkuan Denis. Ia tak sanggup menahan tangis haru. Shilla dan Denis memeluk putri mereka dengan isak tangis penuh haru dan bahagia. Juan merasa seolah akan merebut paksa Daisy dari kedua orang tuanya. Juan merasa tak tega melihat mereka bertiga terisak.
"Nak Juan, sini!" panggil Shilla. Juan bangun dan menghampiri mereka. Juan bersimpuh di samping Daisy dan Shilla memeluk mereka berdua. Denis dan Shilla memberikan restu pada mereka berdua. Mereka berpelukan cukup lama, hingga Denis mengatakan hal yang biasa dikatakan orang tua ketika putri mereka di pinang.
"Nak Juan, om titipkan Daisy pada nak Juan. Jaga dia dengan baik setelah menjadi istrimu. Jika kau menyakitinya, om akan menjewer telinga nak Juan sampai melar seperti kelinci!" ancam Denis. Dan ancaman Denis sontak membuat Daisy, Shilla dan Juan tertawa.
__ADS_1
"Terima kasih, om, tante. Juan janji akan menjaga Daisy dengan sepenuh hati."
Juan pulang ke apartementnya setelah acara pinangan penuh haru. Juan sudah mulai mencari WO (wedding organizer) di internet. Dia ingin menyiapkan pesta pernikahan yang megah untuk Daisy. Dia terus menatap layar laptop hingga rasa kantuk menyerang. Dia menutup laptopnya dan beranjak naik ke ranjangnya. Memejamkan mata dan tubuhnya yang sudah lelah beraktifitas. Juan tertidur tak lama kemudian. Rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya membuatnya dengan cepat terlelap, pergi ke alam mimpi yang menantinya.