
Juan langsung menaiki taxi ketika sampai di Bandara Soeta.
Daisy selesai memasak dan sedang merebahkan dirinya di sofa. Tanpa terasa Daisy tertidur, karena waktu sudah menunjukan pukul 11:00 malam. Daisy lelah karena belum sempat istirahat. Bahkan saat Juan masuk ke dalam apartement, Daisy tak terbangun.
Juan menatap sekeliling dan tak menemukan Daisy saat dia pergi le dapur, Juan melihat pepes jamur kesukaannya sudah terhidang di meja.
"Dia ada di sini, tapi kenapa di kamar tidak ada, di balkon juga tidak ada."
Juan ingat masih dua ruangan yang belum dia lihat, yaitu ruang baca dan tengah. Juan mencarinya di sana tapi tak ada juga.
"Sepertinya dia pulang!" Juan mendesah kecewa. Dia kembali ke ruang tamu untuk melihat rekaman CCTV apartementnya. Dan dia menemukan Daisy tertidur di sofa. Saat Juan melewati ruang tamu, Juan lewat di belakang sofa dan karena Daisy berbaring jadi Juan tak melihatnya.
"Pantas saja aku tidak melihatmu!" gumam Juan. Dia lalu berjongkok di depan wajah Daisy.
Daisy merasakan hembusan nafas di depan wajahnya. Ia terbangun dan menjerit kaget, melihat wajah Juan di depan matanya dengan jarak dua centi.
"Aakkhhh...," Daisy berteriak dan Juan menjauhkan wajahnya sambil tersenyum geli.
"Selamat malam, sayang!" ucap Juan.
"Kamu sudah datang, sayang?" tanya Daisy sambil menggeliat lalu bangun untuk duduk. Juan lalu duduk di samping Daisy. Juan berubah murung, dia menatap lurus ke depan dan tak mau jika Daisy melihat wajah sedihnya.
Daisy memegang kedua pipi Juan dan menarik ke arahnya agar Juan mau menatapnya. Daisy melihat jelas, raut kesedihan di kedua mata bermanik coklat milik Juan. Daisy mengerti kesedihan Juan, ia menarik Juan ke dalam pelukannya.
"Dia...!" Daisy tak melanjutkan pertanyaannya. Tapi Juan mengerti arah pertanyaan Daisy, dan dia mengangguk.
Juan menceritakan semuanya dalam pelukan Daisy. Dengan isak tangis yang tak pernah Daisy lihat sebelumnya. Ia begitu rapuh saat ini. Di mata Daisy, Juan saat ini seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Juan adalah anak yatim piatu yang tinggal dan besar di panti. Dia tak punya saudara dan keluarga. Keluarga Sultan sudah seperti keluarganya sendiri, dan Ros bagai adik kandungnya sendiri.
Kepergian Rosdiana di depan matanya, sangat membuat dia bersedih. Daisy terus mengusap punggung Juan dengan lembut. Kemudian Juan melepas pelukannya dan dengan air mata yang masih mengalir, Juan menarik tengkuk Daisy dan menciumnya sekilas.
"Kau tidak takut lagi, sayang?" tanya Juan, yang tak lagi melihat kepanikan di wajah Daisy. Daisy menggeleng pelan.
"Selama empat hari kamu di KL, aku menjalani terapi di Psikiater. Dokter Psikiater itu bilang, jika aku merasakan hal yang seperti kemarin, maka aku hanya perlu memejamkan mata dan memikirkan orang yang aku cintai, dan berhasil!" Daisy menceritakan panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi, sudah siap?" tanya Juan.
"Siap untuk apa?" Daisy bertanya heran.
"Menikah!"
"Oh," jawab Daisy singkat. Daisy bangun dan menarik Juan ke meja makan. Mereka makan bersama, Daisy hanya memakan buah karena sudah makan bersama orang tuanya.
"Kamu tidak makan?"
"Aku sudah makan, aku temani kamu saja!" ucap Daisy sambil tersenyum manis.
Juan selesai makan dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia membawa underwear dan celana pendek tapi ia lupa membawa handuk.
"Dais, sayang. Tolong ambilkan aku handuk dong!" Juan memanggil Daisy.
Daisy masuk ke kamar dan mengambilkan Juan handuk.
"Kak Juan, ini handuknya." Ucap Daisy di depan pintu kamar mandi. Juan membuka sedikit pintunya, ia menjulurkan tangannya dan menarik tangan Daisy pelan.
Setelah Juan selesai mandi, dia melihat tak ada Daisy di kamarnya. Juan masih memakai handuk dan mencari Daisy ke sofa ruang tamu tapi ia tak di sana. Juan mencari ke kamar di sebelah kamarnya, dan ia melihat Daisy sudah tertidur. Daisy belum terlalu pulas, karena itu saat Juan membuka pintu Daisy terbangun dan duduk.
"Kak Juan, apa butuh sesuatu?" tanya Daisy sambil menguap.
"Aku butuh kamu!" jawab Juan. Ia masuk ke kamar dan menguncinya.
"Apa maksud kak Juan? Jangan macam-macam atau aku akan sangat membenci kak Juan!" ancam Daisy.
Juan berjalan mendekat dengan senyum menyeringai. Daisy menatap tak percaya, dia duduk terpaku menatap seringai mengerikan dari bibir Juan.
"Tidakkah kau ingin melihatnya, sayang?" tanya Juan tersenyum mesum sambil memegang handuknya dan melepaskannya.
"Tidak! Kak Juan tutupi itu atau ku hajar kau dengan taekwondo yang kumiliki!" ancam Daisy sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Juan seketika tergelak, melihat Daisy yang ketakutan.
"Hei, buka matamu! haha," ucap Juan sambil tertawa. Juan duduk di tepi ranjang dan menarik kedua tangan Daisy. Daisy menahannya sekuat tenaga, tapi tenaganya kalah oleh Juan dan tangannya berhasil ditarik oleh Juan. Daisy memejamkan matanya dengan kuat.
"Hei, buka matanya. Lihatlah aku!" ucap Juan.
"Tidak mau...Kak Juan mesum!" tolak Daisy. Ia tetap menutup mata dengan rapat.
"Mesum apanya? Aku hanya menggodamu, lihatlah!" ucap Juan.
Daisy membuka matanya sedikit dan mengintip, setelah melihat bahwa Juan memakai celana pendek, barulah Daisy membuka mata.
"Kak Juan ini kebiasaan jahilnya tidak pernah hilang! Aku hampir saja kena serangan jantung tahu!" rungut Daisy.
Juan mendorong Daisy hingga berbaring. Tangàn Daisy di perangkap di atas kepalanya. Juan kemudian mengecup kening Daisy.
"Aku sangat merindukanmu!" ucap Juan. Kemudian ia mengecup hidung Daisy, lalu turun mencium bibir Daisy dengan lembut. Daisy membalas pagutan mesra dari bibir Juan, hingga mata Daisy terbuka lebar karena Juan menyentuh benda kenyal di bawah leher Daisy. Juan juga menurunkan kecupannya ke arah leher.
Ada sensasi lain dari kecupan Juan kali ini. Mereka biasanya hanya berciuman sebatas bibir, tapi kali ini kecupan Juan merambah ke leher. Tangan Juan juga berani menyentuh bukit kembarnya. Daisy ingin mendorong Juan tapi kedua tangannya diperangkap Juan, serta tubuhnya tak bisa bergerak di bawah Juan.
"Kak Juan, hentikan! Ku mohon hentikan!" ucap Daisy di tengah nafasnya yang mulai tersengal. Daisy merasakan birahinya naik, dan dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu diantara mereka sebelum menikah.
"Kakak tidak akan melakukannya, percayalah!" ucap Juan. Ia melepaskan tangan yang sedang bermain di bukit kembar Daisy. Kemudian mengecup kembali kening Daisy dan melepaskan cekalannya pada kedua tangan Daisy.
"Kak Juan, kenapa kakak jadi mesum begini?" tanya Daisy setelah Juan bangun dari atas tubuhnya.
"Entahlah, tubuhmu itu seperti madu bunga yang membuat kumbang ingin mereguknya. Dan aku adalah kumbang yang sangat ingin mereguknya. Tapi aku tidak akan melakukannya sebelum kita sah menjadi suami istri!" jawab Juan sambil mengusap rambut Daisy.
"Dulu kak Juan tidak seperti ini?" tanya Daisy cemberut.
"Karena kamu masih SMA! Atau jangan-jangan kamu yang mengharap kak Juan sentuh!" goda Juan.
"Tidak. Kak Juan ini asal aja kalau bicara! Sudah sana pergi!" usir Daisy. Tapi Juan justru berbaring di samping Daisy. Daisy bangun hendak pergi, dan Juan menarik tangan Daisy hingga Daisy terjatuh dan berbaring di samping Juan.
__ADS_1
"Tidurlah, besok kita akan pergi ke boutiqe tante Esti untuk memesan baju pengantin kita. Lagipula, aku sangat lelah, jadi jangan berdebat lagi!" ucap Juan memeluk Daisy dan memejamkan matanya.
"Dia bisa tidur, nah aku mana bisa tidur nempel di dadanya begini! Mana tidak pakai baju," gumam hati Daisy. Tapi rasa kantuknya menyerang dan ia pun tertidur berpelukan dengan Juan. Rasa canggungnya hilang dan kalah oleh rasa kantuk. Daisy tidak merasa takut tidur seranjang dengan Juan, karena dia tahu Juan adalah pria sejati yang bisa memegang ucapan dan janjinya.