Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Cek kehamilan


__ADS_3

Pukul 11:00 siang, Koko tak henti melirik jam di ponselnya. Ruangannya berada tepat disamping ruang kantor Juan.


Kriing kriing


Suara pesawat telpon mengalihkan perhatian Koko.


"Ko, tolong kosongkan jadwal saya dari pukul 11:00 sampai pukul 14:00, saya ada perlu!" ucap Juan.


"Baik, Pak. Maaf kalau saya boleh tahu, ada perlu apa ya, Pak. Supaya kalau Pak Herman menanyakan bapak, saya bisa memberitahunya,"


"Hari ini Daisy harus ke rumah sakit, kontrol kehamilan!"


"Oh. Baik."


Juan menutup telponnya dan menyusul Daisy yang sudah menutup kliniknya.


"Sudah siap?" tanya Juan.


"Sudah, yuk berangkat!"


Mereka pergi ke rumah sakit tempat Aurora bertugas.


***


Karena sang Bos tidak ada di tempat, Koko segera pergi mencari Elis. Ia ingin mengajak Elis makan siang bersama. Koko merapikan jas dan dasinya lalu setelah merasa cukup rapi, Koko melangkah keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Herman. Meja Elis berada di samping ruangan Herman. Tiba didepan meja Elis, Koko mengetuk meja karena Elis sedang menerima telpon.


Tok tok


Elis mengangkat tangan, menyuruh Koko menunggu sebentar. Koko berdiri menunggu sambil menatap Elis yang tersenyum menjawab telpon. Setelah panggilan berakhir, Elis menaruh gagang pesawat telpon dan menatap Koko lalu bertanya.


"Ada yang bisa saya bantu Pak Koko?" tanya Elis dengan senyum yang paling manis. Pekerjaannya mengharuskan Elis bersikap ramah, sebagai sekertaris dirinya tidak diperbolehkan bersikap judes atau sombong, tetapi memang pada dasarnya itu adalah kepribadian asli dari Elis. Ramah, sopan, cantik, mandiri, tegar dan semua kepribadian itu yang membuat Koko ingin mengenal Elis lebih dekat.


"Aku ingin mengajakmu makan siang, apa kau bersedia?" tanya Koko.


Elis melihat jam dinding, pukul 11:15 menit.


"Tapi ini belum jam istirahat!" jawab Elis.


"Jawab saja, mau atau tidak?" tanya Koko kembali.


Herman melihat Koko dan Elis dari dalam ruangannya, ia keluar untuk bertanya ada masalah apa.


"Ko, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, cuma mau mengajak Elis makan siang!" jawab Koko tersenyum.


"Pergilah," ucap Herman.

__ADS_1


"Tapi ini belum jam makan siang!" ucap Elis.


"Kalau Koko sudah lapar, ya harus makan. Jadi pergilah temani dia, ini perintah dariku!" pungkas Herman. Elis tak bisa lagi menolak ataupun mengelak.


"Baik, Pak."


Elis hanya bisa mengiyakan ucapan Herman, karena ucapan itu ditambahi kata perintah. Elis merapikan mejanya dan mengambil ponselnya. Ia pikir Koko akan mengajaknya makan di kantin, karena itu ia tidak membawa tasnya.


"Mari, Pak Koko."


"Tidak dibawa tasnya?"


"Memang mau kemana, kita cuma ke kantin kan?" tanya Elis.


"Aku ingin membawamu ke suatu tempat, supaya lebih nyaman!" jawab Koko.


"Oh."


Elis menenteng tasnya, mereka pergi ke parkiran. Di parkiran sebuah motor melaju meninggalkan parkiran dengan kecepatan tinggi, dan hampir saja menyenggol Elis. Koko menarik Elis ke pelukannya.


Deg


Jantung Elis berdebar kencang dalam pelukan Koko. Koko juga merasakan hal yang sama karena Elis, jantungnya berdebar-debar kencang. Ini pertama kalinya Koko merasakannya setelah sekian lama tunangannya meninggal. Elis mendorong pelan tubuh Koko.


"Em ... maaf tadi aku," ucapan Koko dipotong Elis.


Sikap malu-malu Elis begitu menggemaskan dimata Koko. Ia tersenyum melihat Elis, sambil melangkah menuju mobilnya.


"Silahkan!" Koko membukakan pintu mobil untuk Elis, Koko masuk dan duduk dibelakang kemudi. Mobil Koko pun meluncur meninggalkan parkiran kantor Juan.


***


Daisy sedang duduk dikursi antrian bersama Juan. Hari ini ternyata pasien Aurora cukup banyak.


"Hari ini ternyata sangat ramai!" keluh Daisy.


"Sabar, sayang!"


"Ya, tinggal lima orang lagi. Tolong belikan minum, Kak!"


"Baiklah, tunggu sebentar."


Juan pergi ke kantin rumah sakit dan membelikan Daisy air mineral. Ia membeli dua botol air mineral, satu botol yang dingin dan satu yang biasa. Juan kembali ke tempat Daisy tetapi dia tidak ada di tempatnya. Juan bertanya pada suster.


"Sus, istri saya yang duduk disini pergi kemana?" tanya Juan.


"Oh, Nyonya Daisy. Dia di dalam ruang Dokter," jawab suster.

__ADS_1


"Bisakah saya masuk?"


"Tentu, silahkan!" suster itu mempersilahkan.


Juan mengetuk pintu lalu masuk.


"Pak Juan, silahkan duduk," ucap Aurora.


"Terima kasih, Dok. Bagaimana kandungan istri saya?"


"Sehat, semuanya tidak ada masalah. Saya heran, usia kehamilan Daisy baru 4 minggu, tetapi berat badan Daisy naik begitu drastis,"


"Soalnya nafsu makanku juga naik, Ra. Bagaimana aku tidak jadi gendut!" jawab Daisy.


"Biasanya jika ibu hamil nafsu makannya naik itu ada kemungkinan janinnya kembar. Bagaimana kalau kita melakukan USG?" tanya Aurora. Dia menawarkan Daisy USG, agar bisa memastikan dugaan Aurora.


"Aku senang jika memang anakku ini kembar, tapi aku tidak mau USG!"


"Dais, USG bukan hanya untuk melihat jenis kelamin dan berapa bayi yang kamu kandung, tetapi juga untuk melihat janin bermasalah atau tidak. Kamu juga tahu itu kan!" ucap Aurora.


"Aku tahu. Hanya saja, aku tidak mau nanti jadi cemas berlebihan, setelah USG dan melihat foto hasil USG. Aku harap kamu mengerti, Ra!"


"Baiklah, yang penting jaga kandunganmu baik-baik sampai waktunya melahirkan, ok!"


"Siap Dokter!" jawab Daisy.


"Terima kasih, Dokter. Kami permisi."


Juan pamit dan keluar bersama Daisy. Ia menyodorkan dua botol minuman. Daisy mengambil yang biasa dan yang dingin diminum Juan. Demi menjaga agar Daisy tak marah, Juan selalu membeli dua macam minuman, yang dingin dan yang biasa. Juan dan Daisy kembali ke kantor.


***


Koko sampai di parkiran tempat makan pinggir danau. Ia memesan tempat di gazebo yang dibangun diatas danau buatan. Ada beberapa gazebo yang terapung diatas danau itu. Mereka melewati jembatan papan untuk menuju ke gazebo itu. Koko menggenggam tangan Elis agar tidak terjatuh, karena Elis memakai sepatu hak tinggi.


"Hati-hati," ucap Koko penuh perhatian.


Elis merasa tersentuh dengan perhatian Koko. Dia adalah pria pertama yang memberikan perhatian, bagi Elis itu sangat membahagiakan. Tak hentinya senyum bahagia terukir dibibir tipis Elis, yang dipoles lipstik berwarna merah maroon itu.


"Maaf membawamu ke tempat seperti ini!" ucap Koko.


"Tempatnya bagus kok, Pak. Sejuk dan nyaman,"


"Syukurlah kalau kau menyukainya!"


Sepuluh menit kemudian, makanan pesanan Koko datang.


"Ini pesanan anda Tuan dan Nyonya, dua porsi ayam bakar madu plus nasi, dua porsi es buah, selamat menikmati," ucap pelayan itu.

__ADS_1


Koko dan Elis segera menyantap makan siang mereka. Saus madu dari ayam bakar itu menempel disudut bibir Elis, dan Koko mengusapnya menggunakan jarinya. Mereka berpandangan lalu saling melempar sebuah senyuman yang begitu manis.


__ADS_2