Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Kisah Satya


__ADS_3

Keesokan harinya, Herman membawa Satya keluar dari Rumah Sakit. Herman sudah menyiapkan rumah dan segala yang Satya butuhkan. Juan membelikan rumah yang dekat dengan tempat wisata. Tujuan Juan adalah agar Satya bisa segera melupakan Daisy. Juan membeli sebuah Villa di tepi pantai Carita-Anyer. Villa itu Juan beli dengan yang hasil penjualan rumah Satya.


Juan dan Herman membantu Satya menjual rumahnya, dan mobil Satya saat ini sedang dikendarai oleh Herman untuk mengantar Satya. Herman akan kembali menggunakan alat transportasi umum. Satya merogoh saku kemejanya, ia memberikan sesuatu pada Herman.


"Tolong berikan ini pada Daisy, hadiah perpisahan dariku!" ucap Satya.


"Baik."


"Kenapa kalian tidak membuangku sejauh mungkin, tetapi hanya ke Anyer. Tahukah kalian jarak Anyer-Jakarta hanya beberapa jam!" ucap Satya kembali.


"Pak Juan hanya ingin anda berlibur, siapa tahu anda suka tinggal di tepi pantai," jawab Herman.


Tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut Satya. Villa yang akan ditempati Satya itu sudah Herman isi dengan perlengkapan rumah tangga, elektronik, dan juga studio fhoto di lantai atas. Herman menyediakan studio fhoto dan kamera karena dia tahu Satya hobby fhotography. Herman mencari tahu semua tentang Satya dari sekolah tempatnya mengajar dulu. Juan berharap dengan menggeluti hobinya, Satya akan segera melupakan Daisy.


4 jam kemudian mereka sampai di depan sebuah halaman yang asri, halaman yang di penuhi pot-pot bunga yang berbaris rapi, dan rumput hijau yang terawat.


Herman membuka pintu villa dan membawa Satya berkeliling. Satya hanya tersenyum getir, membayangkan bahwa ia akan tinggal seorang diri di tempat yang asing.


"Tugas saya sudah selesai, ini kunci rumah dan kunci mobil anda," ucap Herman sambil menyodorkan kunci mobil dan kunci rumah Satya. Satya menerimanya.


"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Tuanmu," ucap Satya.


"Akan saya sampaikan, kalau begitu ... saya permisi!" Herman pamit pergi. Herman memesan taksi online untuk mengantarnya kembali ke ibu kota.


Satya naik ke lantai atas, lanta yang menurut penuturan Herman adalah studio fhoto. Satya berdiri di dekat jendela, dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya. Wajah tampan yang begitu sendu, dan di mata yang bermanik hitam pekat itu tergambar luka yang begitu dalam. Luka yang hanya bisa di sembuhkan oleh waktu. Ia kemudian berbalik dan mengambil kamera digital yang tergeletak di meja.


Satya pergi ke pantai, ia membawa kamera itu bersamanya. Ia memotret suasana pantai yang sedang ramai. Satya punya ide untuk menjadi fhotographer keliling di pantai, tetapi dia harus membeli kamera polaroid agar lebih mudah dalam mencetaknya. Kamera polaroid hanya perlu ditunggu beberapa menit sampai gambarnya muncul di kertas fhoto. Memang, uang hasil penjualan rumahnya masih ada, tetapi ia juga harus punya pekerjaan.


Satya merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Seorang gadis kecil berusia 10 tahun berlari dan menabraknya, hingga ponselnya terjatuh. Gadis kecil itu pun jatuh tersungkur di pasir pantai. Satya menunduk mengambil ponselnya.


"Hei nak, tidak apa-apa?" tanya Satya sambil mengulurkan tangan, dan membantu gadis kecil itu berdiri. Tak jauh dari tempat Satya dan gadia kecil itu berdiri, datang seorang gadis berusia 18 tahun yang menarik gadis kecil itu menjauh dari Satya.

__ADS_1


"Kamu apakan baju Kakak?" omel gadis itu pada si gadis kecil.


"Cuma di coret-coret pakai spidol, Kak!" jawab gadis itu, enteng.


"Itu kan baju sekolah Kakak, kenapa di coret-coret, Dek?" gadis berusia 18 tahun itu terus marah-marah pada gadis kecil itu, yang ternyata adalah adiknya. Ia tidak memperhatikan Satya. Saat Satya bertanya pada mereka, barulah gadis itu menoleh dan terpesona menatap Satya. Gadis itu tak berkedip, terua menatap wajah Satya.


"Maaf, apa kalian penduduk asli di sini?" tanya Satya.


"Gantengnya ...," gumam sang gadis. Gumaman pelan yang masih bisa terdengar oleh Satya. Satya tersenyum tipis.


"Nona, apakah kau penduduk asli di sini?" Satya mengulang pertanyaannya.


"Kak Novi, ditanya malah bengong!" tegur sang adik.


"Oh, kenalkan saya Novianti, saya bukan asli penduduk sini tapi saya sudah 8 tahun tinggal di sini," ucap Novi sambil tersenyum malu-malu.


"Begitu rupanya, Saya Satya. Bisakah saya bertanya?" tanya Satya.


"Bisa, bisa!" jawab Novi antusias.


"Disini toko yang menjual kamera biasanya di Mall, tapi Mall di sini jauh, sekitar dua jam jaraknya!" jawab Novi.


"Sejauh itu?" tanya Satya tak percaya.


"Iya, Kak. Niken saja tak pernah diajak ke Mall sama Kakak, karena sangat jauh!" ucap gadis berusia 10 tahun yang ternyata bernama Niken.


"Kakak ganteng, Novi bisa kok mengantar kesana!" ucap Novi.


Novi ini gadis cuek yang tak ragu mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Ia merasa jatuh hati pada Satya, dan ia berusaha agar bisa lebih dekat dengan Satya.


"Kalau Novi bisa mengantar, Kakak sangat berterima kasih. Dimana kalian tinggal?" tanya Satya.

__ADS_1


Novi menunjuk villa disebelah villa milik Satya, dan Satya menunjuk villa yang di sebelah mereka adalah miliknya. Novi dan Satya pun membuat janji untuk pergi ke Mall besok sore. Niken memohon pada Satya agar di perbolehkan ikut, Satya mengangguk memperbolehkan Niken untuk ikut. Niken bersorak gembira.


Satya dan kedua Kakak beradik itu berjalan pulang bersama-sama. Satya dan Novi mengobrol sepanjang jalan menuju villa, dan berpisah di pintu gerbang villa Satya.


"Sampai besok, Kakak ganteng," ucap Novi sambil melambaikan tangan. Satya tersenyum dengan nama panggilan yang diberikan Novi untuknya.


"Sampai besok," Satya masuk tanpa menoleh lagi. Novi masih memperhatikan Satya, hingga Satya hilang di balik pintu, barulah Novi dan Niken pulang.


Keesokan harinya, sore hari Novi dan Niken datang ke rumah Satya, sesuai janji mereka kemarin. Sore itu mereka mengantar Satya ke Mall untuk membeli kamera, mereka pergi menggunakan mobil Satya. Setelah memperoleh apa yang dicarinya, Satya mengajak mereka makan malam di restoran fried chicken sebelum pulang.


Setelah sore itu, mereka hampir setiap hari bertemu dan berbagi cerita. Satya jadi merasa tertarik pada Novi. Satya tidak mau lagi mengejar seorang gadis. Dia tidak percaya diri, karena gadis yang disukainya dulu tak membalas cintanya. Satya takut untuk kembali sakit hati. Semakin lama, Satya semakin menjauhi Novi. Satya selalu menghindar saat Novi mencarinya. Hingga Novi nekat duduk menunggu Satya malam-malam di depan pintu villanya.


"Pulang, sedang apa kamu di sini?" ucap Satya yang dengan terpaksa membuka pintu. Novi bangun dan bertanya dengan isak tangis.


"Kakak ganteng, kenapa selalu menghindari Novi. Apa Novi punya salah?" tanya Novi di sela isak tangisnya.


"Tidak ada, pulanglah ini sudah larut malam. Orang tuamu pasti khawatir mencarimu!" ucap Satya.


"Aku tidak punya orang tua, mereka meninggal akibat tsunami tahun kemarin. Aku tak punya siapapun selain Adikku dan Kakak ganteng, tapi Kakak ganteng sekarang membenciku, hiks hiks," Novi menangis sesenggukkan.


Satya tidak tega melihat Novi menangis. Satya menarik Novi ke dalam pelukannya, kemudian ia mengungkapkan perasaannya.


"Kakak tidak membenci Novi. Kakak cinta sama Novi, tapi Kakak tahu Novi hanya menganggapku sebagai Kakak. Kakak takut menjadi gila, jika cinta Kakak kembali tak berbalas. Karena itu Kakak lebih baik menjauh," ucap Satya, sambil memeluk Novi dengan erat.


"Siapa bilang aku hanya menganggap Kakak ganteng, sebagai seorang Kakak. Novi jatuh cinta pada Kakak ganteng, sejak pertama kali kita bertemu di tepi pantai."


Satya melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata sembab Novi. Satya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Novi maju dan mengecup bibir Satya secepat kilat.


"I love you, Kakak ganteng," ucap Novi.


Satya menarik tengkuk Novi dan mencium bibir ranum Novi. Mereka pun berciuman setelah mengungkapkan perasaan cinta masing-masing.

__ADS_1


*********************************


Akhirnya Satya punya seseorang yang tulus mencintainya.


__ADS_2