
Seusai makan Daisy mencuci piring dan Juan yang menaruhnya di rak. Bagai sepasang pengantin baru, mereka mencuci piring berdua sambil sesekali saling curi curi pandang, dan tersenyum saat pandangan mereka berdua bertemu.
"Kamu tidurlah di dalam kamar, biar kakak di sofa depan. Kakak sudah lebih baik jadi tak apa jika kakak tidur di sofa," ucap Juan. Mereka selesai mencuci piring, dan bersiap tidur kembali" Daisy melangkah ke ruang tamu, dan bersiap tidur di sana kembali.
"Kakak saja yang tidur di kamar jadi biar Daisy tidur di sini!" ucap Daisy merebahkan tubuhnya di sofa. Juan membopong Daisy ke kamar sambil berucap.
"Kalau begitu tidur bareng saja!" ucap Juan sambil tersenyum. Daisy langsung berontak mendengar ucapan Juan yang mengatakan tidur bersama.
"Aku gak mau! ... turunin aku kak Juan. Kita memang sudah tunangan tapi kita belum menikah, aku gak mau membuat orang tuaku malu!" ucap Daisy terus berontak dalam gendongan Juan. Juan membaringkan Daisy di ranjang.
"Kamu itu masih kecil! apa yang ada di otak kamu ini?" ucap Juan sambil menekan dahi Daisy dengan telunjuknya.
"Sudah malam tidurlah, aku akan memberi pembatas di tengah dengan bantal guling. Aku tidak akan macam macam, ok!" ucap Juan. Dia lalu berbaring disebelah Daisy dan menaruh bantal di tengah-tengah mereka. Mereka tidur saling membelakangi hingga pagi tiba.
*********************************
Keesokan harinya Daisy terbangun jam lima pagi, dan saat Daisy akan duduk Daisy merasa tangannya tersangkut. Daisy menoleh dan ternyata tangan Daisy bukan tersangkut tapi digenggam oleh Juan dibawah bantal guling. Daisy kembali berbaring dan kali ini Daisy tidur menghadap Juan, yang sedang tertidur telentang dengan pulas sambil menggenggam tangannya.
"Maaf kak Juan, aku sudah keterlaluan karena menyuruhmu hujan-hujanan. Sekarang kamu jadi sakit, aku benar benar merasa bersalah" gumam Daisy dengan suara pelan. Daisy memperhatikan wajah Juan lekat-lekat.
"Wajahmu tidak setua usiamu. Masih tampak seperti usia dua puluh satu tahun. Kurasa aku bisa mempertimbangkanmu untuk jadi suamiku kelak. Tampan tapi juga bodoh, sudah tahu hujan kenapa tidak menolak permintaanku! apa kau juga akan terjun kalau aku menyuruhmu terjun ke jurang?" gumam Daisy kembali dengan wajah menatap ke arah wajah Juan. Daisy terlonjak kaget saat Juan tiba tiba membuka mata dan menatap ke arah Daisy disampingnya.
"Aku akan melakukannya, aku akan melakukan apa pun untukmu, termasuk jika kau ingin aku terjun ke jurang!" ucap Juan. Daisy menatap tak berkedip ke arah Juan. Juan mengulurkan tangannya mengusap rambut Daisy dan menyelipkan anak rambut Daisy ke arah belakang telinganya.
deg deg deg ... Daisy takut Juan mendengar detak jantungnya yang berdebar debar dengan sangat cepat, Daisy menarik tangannya dan bangkit dari ranjang dan berlari keluar kamar. Daisy pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dibawah kran shower.
Juan juga memutuskan bangun dan pergi ke dapur. Juan memasak nasi goreng untuknya dan Daisy. Daisy keluar dari kamar mandi tak lama kemudian.
"Kak Juan sedang apa?" tanya Daisy.
"Kakak sedang masak nasi goreng, ini sudah selesai tinggal ditaruh di piring!" jawab Juan sambil menaruh nasi ke atas piring lalu membawanya ke meja makan.
__ADS_1
"Sarapanlah terlebih dulu, kakak mau mandi dulu, ok. Nanti kakak antar kamu pulang!" ucap Juan lalu masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, Juan keluar hanya memakai handuk. Daisy menundukkan wajahnya saat tak sengaja melihat Juan keluar dari kamar mandi, dengan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya menggunakan handuk biru. Juan masuk ke kamarnya dan berganti baju, selesai berganti baju, Juan menghampiri Daisy di meja makan.
"Kok belum dimakan?" tanya Juan lalu Juan duduk didepan Daisy.
"Nunggu kakak!" jawab Daisy tanpa menatap Juan. Daisy malu untuk menatap Juan karena tadi dia melihat tubuh telanjang dada Juan. Rasanya wajah Daisy memanas dan memerah bak tomat cherry. Ini adalah pertama kalinya Daisy terbangun di rumah orang lain selain rumahnya. Ditambah pemandangan yang baru saja terlihat olehnya, Daisy merasa benar-benar malu. Juan terus memperhatikan Daisy yang terus menundukkan wajahnya. Mereka sarapan dalam diam.
Seusai sarapan Juan mengantar Daisy pulang ke rumahnya. Diperjalanan Juan mengajak Daisy mengobrol.
"Dais, semenjak di ruang makan sampai sekarang kamu diam saja. Apa kamu marah padaku?" tanya Juan. Daisy menggeleng pelan .
"Tidak sama sekali. Daisy hanya takut kalau mama marah!" jawab Daisy asal asalan. Juan hanya tersenyum. Juan tahu dengan jelas jika Shilla mengijinkan Daisy menginap, saat Daisy menelponnya semalam untuk minta ijin menginap di rumah Juan. Melihat dari merahnya pipi Daisy saat ini, Juan jadi berpikir.
"Apa dia malu melihatku keluar dari kamar mandi tadi? atau dia malu karena semalam kami tidur di ranjang yang sama? Entahlah apa yang sedang Daisy pikirkan saat ini. Selangkah lagi aku akan bisa mendapatkan hatinya Daisy, aku sangat yakin Daisy bisa mencintaiku. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi!" Juan menggumam dalam hati, sampai tak terasa mobil Juan sudah memasuki halaman rumah Shilla. Juan keluar membukakan pintu mobil untuk Daisy. Mereka masuk ke dalam rumah bersama sama. Mereka menghampiri Denis dan Shilla yang baru saja turun dari tangga.
"Selamat pagi tante, om!" sapa Juan.
"Pagi mah, pah! Daisy pamit ke kamar dulu" ucap Daisy.
"Nak Juan, kata Daisy sakit! kenapa harus repot-repot mengantarkan Daisy. Daisy kan bisa naik taxi!" ucap Shilla.
"Benar. Harusnya nak Juan istirahat saja di rumah," timpal Denis.
"Terima kasih om, tante sudah mengkhawatirkan Juan. Juan hanya flu karena kehujanan. Juan sudah merasa lebih baik sekarang, berkat Daisy yang merawat Juan!" jawab Juan. Kemudian Shilla yang tadinya duduk di depan Juan kini berpindah disamping Juan dan bertanya dengan sangat pelan.
"Nak Juan, bagaimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Shilla.
"Jauh lebih baik tante, sepertinya Daisy sudah bisa menerima bahwa Juan adalah tunangannya. Semoga Daisy bisa mencintai Juan kedepannya!" jawab Juan.
Shilla dan Denis tersenyum lega mendengar hal itu. Daisy selesai memakai baju seragamnya lalu menghampiri mereka di ruang tamu. Daisy sudah menenteng tas sekolahnya.
"Hayo, mama ngomongin aku ya?" tanya Daisy yang heran karena mereka semua terdiam saat Daisy sampai di ruang tamu. Juan bangun dan berpamitan pada Shilla dan Denis. Lalu Juan dan Daisy pun berangkat ke sekolah. Daisy penasaran dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
"Kak Juan, kalian membicarakan apa sih?" tanya Daisy penuh rasa penasaran.
"Kakak tadi ijin untuk mengajakmu kencan sepulang sekolah nanti. Jadi tante bilang buat ngomong langsung sama kamu, jadi mau tidak Daisy kakak ajak kencan nanti siang?" tanya Juan.
Daisy malu untuk menjawab, dan hanya diam dengan gugup sambil memainkan kedua telapak tangannya. Juan merasa ajakannya ditolak oleh Daisy.
"Kalau tidak mau, tak apa!" ucap Juan.
"Mau kok!" jawab Daisy tiba tiba. Lalu dia berpaling ke arah jendela mobil untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Juan tersenyum geli dan faham jika Daisy pasti malu, karena dulu dia selalu berusaha membuat Juan menjauhinya. Saat sudah tiba di sekolah, Daisy turun. Sebelum Daisy masuk kedalam gerbang, Juan melambaikan tangan sambil berkata.
"Aku jemput nanti siang, belajarlah dengan giat!" ucap Juan. Daisy hanya mengangguk dengan malu-malu.
Daisy tak hentinya tersenyum sepanjang perjalanannya menuju kelas. Dia merasa malu,senang,gugup secara bersamaan.
(mungkinkah ini yang orang bilang jatuh cinta.jika iya,apakah itu artinya aku sudah jatuh cinta pada kak Juan?) Daisy bergumam sampai di depan kelasnya. Walaupun masih belum menyadari perasaannya dengan pasti tapi Daisy mulai merasa jika saat dia bersama dengan Juan dia merasa nyaman dan bahagia.
**************************
hello readers bentar lagi tahun baru nih.
yuk kasih ucapan sama author
klik ucapan selamat tahun baru dikolom warna orange ya.
dan maaf ya kalo author agak lama upnya.maklum musim liburan,lagi banyak acara di rumah heheππ
πππππππππππ
met natal n tahun baru ya readers.
jangan lupa like n krisan'y selalu author tunggu
__ADS_1
makasihπ