
Juan akhirnya diperbolehkan pulang dua hari kemudian. Setelah insiden di rumah sakit, Daisy selalu merasa malu jika bertemu dengan Herman. Rasanya seperti Daisy terciduk oleh ayahnya sendiri, karena memang usia Herman yang sudah kepala lima. Seperti hari ini, ketika Herman mencarinya di klinik kantor.
Tok tok tok
Herman mengetuk pintu klinik yang terbuka. Daisy menoleh dan langsung menunduk malu ketika melihat Herman yang mencarinya.
"Dokter Daisy, apa anda demam? Wajah anda begitu merah, haha."
"Pak Herman sama seperti kak Juan!" Daisy merengut di ledek Herman.
"Sepertinya pak Juan sedikit tidak enak badan. Bisakah Dokter periksa?" tanya Herman.
"Tadi pagi baik-baik saja!" ucap Daisy.
"Sepertinya karena masalah pekerjaan yang menumpuk! Dia bilang butuh obat, tapi saya tidak tahu obat apa yang harus saya ambil dari Dokter! jadi lebih baik Dokter periksa saja di ruangannya."
"Baiklah, saya akan ke sana sekarang!" jawab Daisy. Herman pergi ke kantin karena itu sudah jam istirahat. Daisy membawa stetoskopnya ke ruangan Juan, sampai disana Daisy tak melihat Juan di meja kerjanya. Hingga tiba-tiba Daisy terlonjak kaget.
Brakk
Ternyata Juan menutup pintu lalu menguncinya. Ia mulai melangkah maju mendekati Daisy. Daisy hanya berdiri mematung sambil bersedekap.
"Kak Juan ngerjain aku lagi!" rungut Daisy.
__ADS_1
"Aku sakit, makanya aku suruh pak Herman panggilkan kamu ke sini!" ucap Juan.
"Duduklah! biar ku periksa," ucap Daisy sambil berjalan dan duduk di sofa.
"Sini, duduk!" ulang Daisy. Dia menepuk tempat di sampingnya.
Juan menurut dan duduk di samping Daisy. Daisy menempelkan stetoskopnya dan merasa tak ada yang aneh. Semuanya normal, karena Juan hanya ingin berdua dengan Daisy.
"Sepertinya kak Juan sehat dan tak ada masalah kesehatan apa pun!" ucap Daisy.
"Kamu yakin? Coba kamu tempelkan lagi!" perintah Juan. Daisy menurut dan kembali menempelkan stetoskopnya pada dada Juan.
"Tidakkah kamu dengar, hatiku sakit rindu!" ucap Juan lalu mendorong Daisy berbaring di sofa. Juan menatap dengan pandangan menggoda ke arah Daisy.
Deg
Juan mendekat dan bertanya dengan khawatir.
"Sayang, kamu kenapa?" Juan memeluk Daisy. Perlahan-lahan nafas Daisy mulai kembali teratur.
"Maaf kak Juan, aku tidak sengaja mendorongmu!" ucap Daisy merapikan rambutnya.
"Apa pria kurang ajar itu melakukan sesuatu yang buruk padamu? Kau sepertinya trauma?" tanya Juan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa! Aku akan mengatasinya! Kak Juan tak perlu khawatir. Bisakah kak Juan jangan seperti tadi?" tanya Daisy menatap kedua manik mata coklat teduh milik Juan.
"Maaf, kakak tidak akan melakukannya lagi. Sudah makan siang? Kita makan siang dulu, ayo kakak temani!" ucap Juan.
Dalam hatinya meradang, dia membayangkan hal yang tidak-tidak. Dia mencoba menebak-nebak, apa sebenarnya yang Satya lakukan pada Daisy. Kenapa Daisy bisa sampai trauma. Mereka makan siang berdua di kantin.
Selesai makan siang, Daisy kembali menjaga klinik kantor. Sedangkan Juan pergi menaiki mobil birunya dan pergi ke rumah sakit jiwa, tempat dimana Satya berada. Juan ingin menanyakan apa yang diperbuat Satya pada Daisy.
Juan pergi ke ruang perawatan Satya. Di dalam ruang rawatnya, Satya diam melamun. Dia tidak keluar dari ruangannya seperti yang lain, ataupun mengamuk. Ya, karena Satya tidak gila. Dia hanya terobsesi pada Daisy, dia melamun tak bisa melihat wajah Daisy.
"Oh, lihat! kunjungan pertama keluarga yang menjebloskanku ke rumah sakit jiwa, haha. Kau mengurungku di rumah sakit ini dan mengaku sebagai keluargaku, ternyata kau pria yang memiliki hati kejam seperti diriku!" Satya mengoceh panjang lebar.
"Aku akan langsung bertanya. Apa kau menodai Daisy? Dia trauma dengan sentuhan intim! Katakan!!" bentak Juan.
"Kenapa tidak kau coba saja, haha!" Satya malah tertawa lebar membuat Juan rasanya ingin sekali menghajarnya. Jika saja tidak di rumah sakit, maka Juan pasti akan menghajarnya habis-habisan. Juan pergi dengan tangan terkepal, rahangnya mengeras.
"Sial!!" Juan memukul kemudi mobil dengan geram. Juan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tak peduli jika seandainya Daisy sudah tak suci, tapi dia tidak mau Daisy menderita trauma di sepanjang hidupnya.
Juan menjalankan mesin mobilnya dan kembali ke kantor.
Daisy sedang kedatangan pasien, dia adalah pegawai supermarket yang mengalami kram perut.
"Jangan terlalu banyak pikiran, tidak ada penyakit berat, sepertinya akhir-akhir ini kamu tertekan?" tanya Daisy.
__ADS_1
"Ya, Dokter benar. Saya sedang dikejar-kejar rentenir. Saya coba meminjam ke kantor, tapi Manager tidak berani meminjamkan. Dia bilang dia baru menjabat beberapa hari!" ucap karyawan itu.
"Semoga masalahmu segera selesai!" Daisy memberikan obat untuknya. Di luar, Juan sedang berdiri mendengarkan keluhan karyawannya. Juan menunggu karyawan itu pergi, barulah dia masuk menemui Daisy. Juan hanya duduk diam di sofa sambil bersandar dan memejamkan matanya. Daisy hanya menatap dari mejanya.