Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Titik Terang


__ADS_3

Aceng penasaran, siapa orang yang Juan suruh awasi. Dia menanyakan pada Juan. Karena si penculik melakukan penculikan dengan sangat rapi, jadi Aceng paling curiga dengan orang yang Juan maksud.


"Maaf, pak Juan. Saya ingin bertanya, siapa orang yang bapak curigai itu?" tanya Aceng.


"Satya, orang yang tergila-gila pada Daisy! Apa kau juga curiga padanya?" tanya Juan serius.


"Karena penculikan ini begitu rapi, jadi orang yang terlihat bersih malah mencurigakan bagi saya!" jawab Aceng.


"Benar juga! Kalau begitu pak Herman berikan hasil pengawasan anak buah pak Herman pada Aceng!" suruh Juan.


Herman memberikan berkas penyelidikan pada Aceng. Aceng memang melihat catatan kegiatan Satya begitu rapi, tak ada hal mencurigakan. Tapi entah mengapa, Aceng merasa perlu mengawasi Satya.


"Baiklah, saya permisi kalau begitu. Saya akan mulai mengawasi Satya," ucap Aceng pamit melaksanakan tugasnya.


Di rumah Satya


Daisy sudah menghabiskan makan siangnya. Daisy merasakan sakit di perutnya.


"Aaww, sepertinya sudah tanggalnya. Gimana ini?" Daisy kebingungan sambil memegangi perutnya. Dia melangkah keluar mencari Satya.


"Daisy! Apa kau mencariku?" tanya Satya yang sedang duduk di ruang tengah. Di meja ruang tengah itu tercecer kertas-kertas ulangan yang sedang dikoreksi olehnya.


"Sat, aahh. Bisakah aku meminta tolong padamu?" ucap Daisy sambil meringis menahan sakit.


Satya segera berlari menghampiri Daisy yang kesakitan.


"Kau sakit?" tanya Satya khawatir. Daisy menggeleng lemah.


"Ini jadwal bulananku, dan aku tidak punya pembalut dan juga hanya punya dua setel dalaman. Bisakah kau membelikannya untukku? Sekalian juga obat pereda sakit!" ujar Daisy.


"Baiklah, kau tunggu sebentar. Aku akan membelikannya untukmu!" ucap Satya. Dia masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Daisy semakin yakin jika pintu keluarnya ada di kamar itu, karena setelah Satya masuk cukup lama tapi tak kunjung keluar.


Satya keluar dari rumah sederhana itu, dan pergi ke supermarket menggunakan mobil merahnya. Di seberang jalan di dalam mobil hitam, Aceng melihat Satya keluar dengan terburu-buru.


"Mari kita lihat, apa yang membuatnya pergi dengan terburu-buru!" gumam Aceng, lalu dia mengikuti mobil Satya.


Satya berhenti di supermarket, dia masuk kedalam dan mengambil beberapa pack underwear dengan berbagai ukuran. Dia juga mengambil beberapa pack pembalut.

__ADS_1


Dari jauh, Aceng terus mengikuti kemana Satya melangkah.


"Pak Herman bilang dia tinggal sendiri? Tapi kenapa dia membeli keperluan wanita? dia juga sangat terburu-buru seolah ada wanita yang menunggu barang itu di rumah! Aku harus bisa menemukan celah untuk masuk ke dalam rumah itu!" gumam hati Aceng.


Satya selesai membayar di kasir dan setengah berlari ke mobilnya. Aceng kembali mengikuti mobil Satya.


Satya masuk ke dalam rumah. Aceng turun dan mengendap-endap mencari celah untuk masuk. Aceng menemukan jendela kamar yang terbuka di samping. Dia masuk perlahan dan mencari ke seluruh sudut ruangan di dalam rumah itu, tapi tak melihat siapa pun.


"Aneh! Aku yakin Satya masuk ke dalam rumah. Sepertinya ada ruang rahasia! Aku harus melaporkannya pada pak Juan," Aceng keluar dari rumah itu dan pergi ke kantor Juan.


Ceklek


Satya keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Daisy. Daisy hanya berbaring seraya mengusap perutnya yang terasa melilit.


"Dais, minum obatnya dulu!" ucap Satya.


Daisy bangun dan duduk di ranjang lalu meminum obat yang Satya berikan.


"Aku tidak tahu yang mana! Jadi aku membeli beberapa. Apa kau butuh sesuatu yang lain?" tanya Satya.


"Tidak, pergilah! Aku harus em," Daisy bingung bagaimana cara mengatakannya, jadi Daisy menunjuk pembalut yang tergeletak di ranjang.


Di kantor Juan


Aceng mencari Juan di kantor, dia berpapasan dengan Herman.


"Pak Herman, pak Juan dimana?" tanya Aceng.


"Dia sedang ada tamu. Apa ada berita baru?" tanya Herman


Herman membawa Aceng ke ruangannya. Herman meminta Aceng menceritakan semua hasil penyelidikannya. Herman mendengarkan dengan seksama.


"Jadi, menurut dugaanmu, Daisy ada disana? Dan di sekap di ruangan rahasia?" tanya Herman memastikan


"Itu hanya dugaan pak Herman! Tapi saya meyakini dugaan saya, bahwa di sana ada seorang wanita yang di sekap. Tapi, entah itu Daisy atau bukan saya tidak bisa memastikan!" jawab Aceng.


"Kita tunggu pak Juan selesai rapat. Kita tanyakan langkah selanjutnya!" ucap Herman.

__ADS_1


Tok tok tok


"Masuk!" jawab Herman.


Seorang wanita yang tak asing masuk ke ruangan Herman.


"Bu Shilla, sikahkan duduk!" ucap Herman dengan gugup.


Aceng menatap wajah tegang Herman. Dia duduk di sofa dan mendengarkan pembicaraan Herman dengan wanita yang di panggil Shilla itu.


"Pak Herman, saya ingin bertemu Daisy!" ucap Shilla.


"Maaf bu Shilla, Non Daisy sedang mengecek klinik di kota Y. Dia baru saja berangkat pagi ini!" ucap Herman. Dia terpaksa berbohong, karena Shilla memiliki riwayat hypertensi. Herman takut Shilla terkena serangan jantung, jika dia tahu Daisy diculik.


"Oh, sudah dua hari dia tak mengangkat telpon saya, saya jadi merasa khawatir. Meski tinggal bersama Juan, biasanya Daisy selalu mengangkat jika saya telpon."


Herman hanya diam tak menjawab ucapan Shilla.


"Ya sudah, jika dia kembali dari kota Y, tolong suruh dia pulang!" ucap Shilla. Herman mengangguk dan Shilla pun berlalu pergi.


Herman terduduk di kursinya setelah Shilla pergi. Dia faham seperti apa perasaan orang tua yang khawatir pada anaknya. Tapi Herman hanya bisa menenangkan Shilla dengan berbohong. Juan selesai rapat dan mencari Aceng, Lusi sekertarisnya memberitahu bahwa Aceng pergi bersama Herman ke ruangannya. Juan pun menyusul ke sana.


"Ceng, bagaimana? Sudah kau dapatkan hasil penyelidikanmu?" tanya Juan.


"Sudah, saya merasa yakin bahwa rumah Satya memiliki ruang rahasia. Jadi saya ingin menggeledah rumah itu!" ucap Aceng.


"Baiklah, besok kita atur orang untuk mengawasi Satya di sekolah. Kau dan aku akan menggeledah rumah itu! Apa kau pikir Daisy ada di ruang rahasia itu?" tanya Juan.


"Saya tidak yakin, saya hanya yakin ada wanita yang disekap di rumah itu. Karena Satya tadi membeli kebutuhan bulanan untuk wanita!" jawab Aceng.


Juan jadi yakin, Satya memang menyembunyikan Daisy. Mata Juan berkilat penuh kemarahan. Dengan tangan yang terkepal. Jika saja saat ini Satya ada di hadapannya, pastilah dia akan menghajar habis Satya. Juan akan membalas semua perbuatan Satya, dengan kedua tangannya sendiri.


"Tidak akan kubiarkan siapapun yang menyakiti Daisy. Akan kubuat hidupnya menderita jika sesuatu yang buruk terjadi pada Daisy."


Juan menggumam dalam hati dengan penuh nada ancaman.


**********************************

__ADS_1


Like n komen please


Stay slalu ya readers😘😘


__ADS_2