Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Pergilah


__ADS_3

Pulang dari pesta perpisahan, Juan mengajak Daisy ke apartementnya. Daisy bertanya sepanjang jalan pada Juan, tapi Juan tak mau memberitahu Daisy.


"Kak, apa sih kejutannya?" tanya Daisy penasaran.


"Kalau kakak beritahu, bukan lagi kejutan dong!" jawab Juan.


"Huh, kakak pelit!" rungut Daisy.


Juan tersenyum geli melihat Daisy yang merajuk.


Di apartement


"Ayo turun!" ucap Juan saat mereka sampai di parkiran.


Daisy turun dan berpegangan dengan Juan, mereka menaiki lift ke lantai delapan. Di dalam lift, Juan meminta Daisy tutup mata.


"Sayang! tutup matanya."


"Jadi makin penasaran," ucap Daisy.


"Nanti saja tutup matanya di depan pintu, kalau di sini tutup mata, nanti bisa kak Juan ***** bibir merahnya!" goda Juan.


Daisy menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya. Wajah Daisy memerah bak tomat cherry. Pikiran Daisy menerawang menebak-nebak, apa sebenarnya kejutan yang disiapkan Juan untuknya.


Saat ini perasaan di hati Daisy bagaikan pemandangan taman musim semi. Bunga-bunga yang bermekaran indah mengibaratkan perasaan Daisy malam ini.


Ting


Pintu lift terbuka, Juan menggandeng tangan Daisy menuju apartementnya. Sampai di depan pintu, Juan membuka kunci dengan menekan pascode pintu. Lalu sebelum membuka pintu apartementnya Juan menutup mata Daisy, barulah Juan menuntun Daisy masuk ke dalam apartement.


"Siap belum?" tanya Juan.

__ADS_1


"Hem!" Daisy menjawab dengan gumaman.


"1, 2, 3, surprise!" Juan membuka mata Daisy.


Daisy menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Saking takjubnya melihat balkon yang dihias begitu cantik, dengan balon-balon berbentuk hati. Disana juga terdapat meja dan dua kursi dengan lilin yang menghias di atas meja.


"Candle light dinner," gumam Daisy.


"Karena hari ini adalah hari spesial. Jadi kakak ingin merayakannya berdua denganmu!" ucap Juan. Juan menuntun Daisy ke balkon, lalu Juan menarik kursi untuk Daisy. Juan duduk di seberang meja, menghadap Daisy. Daisy tak bisa berkata-kata.


"Lihatlah ke sana!" Juan menunjuk taman atap di seberang gedung apartementnya.


"Wah, ternyata sungguh indah saat malam. Lampu-lampu berwarna-warni. Terima kasih!" ucap Daisy tersenyum.


"Makanlah. Setelah makan, kakak punya kejutan yang lain untukmu!" ucap Juan.


Mereka pun mulai makan, dengan senyum yang menghias bibir keduanya.


"Ini apa?" tanya Daisy. Juan berdiri memegang besi pagar di balkon.


"Bukalah!" ucap Juan bersandar di pagar balkon menghadap Daisy.


Daisy membuka kotaknya dan terkejut.


"Pasport dan tiket ke USA?" tanya Daisy tak percaya.


"Iya, kakak juga sudah membeli rumah sederhana di USA, untukmu!" ucap Juan.


"Kakak tahu, kamu ingin kuliah di sana kan? Kakak sudah atur semuanya, kamu hanya tinggal mencari kampus mana yang ingin kau tuju. Kakak belikan kamu rumah, agar kamu tak perlu tinggal di asrama," tambah Juan.


"Kak!" Daisy bangun dari kursinya. Dia tak dapat membendung air mata harunya. Daisy menatap mata teduh Juan.

__ADS_1


"Pergilah, kakak tidak mau menghalangi cita-citamu!" ucap Juan kembali.


Daisy melangkah perlahan menghampiri Juan. Daisy terisak dan memeluk Juan yang ternyata mendukung keinginannya.


"Maaf, Daisy tak pernah berani memberitahu kakak. Daisy takut kakak tidak setuju. Terima kasih kak!" Daisy terisak dalam pelukan Juan. Juan sebenarnya juga tak ingin jauh dari Daisy, tapi Daisy masih muda. Juan tak ingin menjadi penghalang impian Daisy.


Juan melepaskan pelukan Daisy darinya. Dia menatap lekat wajah Daisy. Wajah yang nantinya akan Juan rindukan selama tiga tahun ke depan. Juan menyentuh pipi Daisy dengan lembut. Daisy terpejam merasakan sentuhan tangan Juan. Daisy lalu memegang tangan Juan yang sedang berada di pipinya. Daisy membuka mata dan maju merapatkan tubuhnya pada Juan. Daisy melingkarkan tangan Juan di pinggangnya, lalu kedua tangan Daisy melingkar di leher Juan.


Perlahan Juan mendekatkan wajahnya ke wajah Daisy. Saat bibir Juan akan menempel ada bunyi ponsel yang mengganggunya. Tanpa melihat ID pemanggil, Juan langsung mematikan panggilan dan menonaktifkan ponselnya.


"Bagaimana kalau itu penting?" tanya Daisy.


"Malam ini tidak ada yang lebih penting dibanding kamu!" ucap Juan.


Mereka pun melanjutkan acara kissing yang tertunda. Mereka berciuman penuh dengan perasaan. Juan memperdalam ciumannya, mereka saling melumat dan menghisap. Seolah mereka akan berpisah besok. Juan menurunkan ciumannya ke leher Daisy, lalu Juan memeluk Daisy dengan erat.


"Jangan nakal di sana! atau aku akan menyeretmu pulang dan langsung aku nikahi!" bisik Juan di telinga Daisy.


Daisy hanya tersenyum sambil mengangguk pelan dalam pelukan Juan. Juan dan Daisy memandang taman atap gedung seberang apartement yang di penuhi lampu warna warni. Juan memeluk Daisy dari belakang, dagunya dia tempelkan di pundak Daisy.


"Kak Juan!" panggil Daisy.


"Hem," jawab Juan dengan gumaman lembut.


"Sudah malam, aku harus pulang!" ujar Daisy.


"Aku ingin menculikmu untuk malam ini. Jadi jangan harap aku mengantarmu pulang!" goda Juan.


"Kak Juan!" rungut Daisy.


"Iya, ayo kakak antar kamu pulang," ucap Juan. Juan mengantarkan Daisy ke rumahnya meski dengan segan. Juan masih ingin berduaan dengan Daisy, tapi memang waktu yang sudah tidak memungkinkan. Sebenarnya bisa saja Juan meminta ijin pada orang tua Daisy agar Daisy bisa menginap. Tapi Juan takut jika dia tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


Setelah mengantar Daisy hingga dia masuk ke dalam rumah, Juan segera pulang. Dia kembali ke rumah sederhananya.


__ADS_2