
***
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi aku harus ke rumah Pak Juan dulu, tidak apa-apa kan?" tanya Koko.
"Tidak apa-apa, hitung-hitung sekalian menjenguk Dokter Daisy!" jawab Elis.
Koko tersenyum dan menggandeng tangan Elis, membawanya masuk kembali ke dalam gedung kantor. Koko membawa tumpukan berkas di mejanya lalu keluar dan pergi ke apartement Juan.
***
Daisy terbangun dari tidur siangnya. Ia melangkah ke arah ruang tamu untuk mencari Juan. Juan tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa panjang. Daisy menghampirinya lalu duduk di samping Juan. Juan membuka matanya karena Daisy menyandarkan kepalanya di bahu Juan.
"Sudah bangun?" ucap Juan membelai rambut Daisy.
"Hem," Daisy menjawab dengan gumaman pelan.
"Mau makan?"
"Tidak!"
"Minum?"
"Tidak!"
"Bercinta?"
"Kak!!"
"Hahaha, aku hanya ingin menghiburmu. Kau mau jalan-jalan?"
Daisy diam tak menjawab pertanyaan Juan. Ia berbaring di sofa dan merebahkan kepalanya di pangkuan Juan.
"Sayang, boleh mas tanya? Darimana kue black forest yang kamu makan sebelum sakit?" tanya Juan lembut.
"Bukannya dari Kak Juan?"
"Aku pikir kamu membelinya sendiri?"
Juan jadi yakin memang kue itulah yang sudah dibubuhi racun. Daisy duduk kembali dan menatap tajam ke arah Juan.
"Ada apa?" tanya Daisy penasaran.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Juan.
"Jawab, atau aku akan marah pada Kak Juan, SELAMANYA!!" Daisy menekankan kata selamanya yang berhasil membuat Juan bicara.
"Kamu keracunan dan dugaan sementara Aurora dan juga aku, makanan terakhir yang kamu makan adalah yang membuatmu keracunan!" jawab Juan.
"Keracunan, siapa yang begitu tega menaruh racun di kue itu? Dan apa salahku padanya, kenapa dia tega? hiks hiks," Daisy terisak. Dia menyesal kenapa tidak menanyakan kue itu dulu. Ia hanya berpikir bahwa itu adalah pemberian Juan.
"Sudah, jangan menangis lagi. Siapapun orangnya, aku dan Koko akan mencari tahu. Kamu tenang saja, ok!" ucap Juan sambil menghapus air mata Daisy.
Ting tong ting tong
"Biar aku saja yang membukanya!" Juan bangun dan membuka pintu.
"Selamat sore," sapa Elis.
"Sore Lis, Ko. Ayo silahkan masuk!" Juan membuka pintu dengan lebar dan mempersilahkan mereka masuk. Juan membawa mereka ke ruang tamu.
"Duduklah!" ucap Juan.
" Dokter, sudah sehat?" tanya Elis.
__ADS_1
"Lumayan, Lis. Tumben kalian berdua datang bersama, itu bucket bunga dari Koko?" tanya Daisy panjang lebar. Yang ditanya hanya tersenyum canggung.
"Ya, Dokter. Itu bunga dari saya, sebagai ungkapan perasaan saya pada Elis!" jawab Koko.
"Berarti kalian baru jadian dong, selamat!" ucap Daisy tersenyum meski hanya senyum tipis.
"Oh, ya. Ini berkas yang harus bapak tanda tangani!" Koko menyerahkan 7 berkas proposal kepada Juan. Juan menerimanya.
"Sudah kau periksa dengan baik?" tanya Juan sambil membolak-balikkan berkas itu.
"Sudah, Pak!" jawab Koko.
Juan menanda tangani semuanya dan menyerahkannya kembali pada Koko. Daisy pergi ke dapur dan kembali lagi dengan dua cangkir kopi dan dua cangkir teh.
"Silahkan diminum Lis, Ko!" Daisy menyuguhkan kopi dan teh untuk mereka.
"Terima kasih, Dok. Jadi merepotkan!" ucap Elis.
"Hanya minuman, tidak repot sama sekali. Mereka berempat menyesap minuman mereka dan ponsel Juan bergetar.
Drrtttt ddrrttt ddrrttt
"Maaf, sebentar."
Juan menjauh sebelum mengangkat panggilan suara dari nomor yang tak dikenalnya.
"Halo, siapa ini?" tanya Juan.
"Halo, Juan Zabrani. Bagaimana Akami kalian? Haha!" suara pria diujung telpon itu membuat darah Juan mendidih dan emosi yang memuncak membuat Juan seketika berteriak.
"Brengsek, kau yang mengirim kue beracun itu?" Teriakan Juan itu sontak membuat Koko, Elis dan Daisy terperanjat dalam keterkejutan. Daisy dan Koko segera mendekat ke tempat Juan berdiri. Elis hanya duduk diam melihat mereka bertiga. Juan mengaktifkan tombol loudspeaker
"Sayang sekali, kenapa hanya bayimu yang pergi, padahal targetku adalah ibu dan anaknya sekaligus!" pria itu kembali terbahak.
"Aku tidak berniat curhat denganmu, aku hanya ingin memberitahumu, Wakil Direkturmu menemukan tempat persembunyianku dan dia disini sekarang. Jika kau ingin dia selamat, tukar nyawanya dengan nyawamu. Aku ada di gedung kosong kavling 23 di depan caffe Hillary, jika melapor ke polisi, maka dia akan ku lempar dari atas gedung ini!"
T****ut tut tut
Panggilan itu berakhir.
"Kak, jangan. Aku mohon jangan ke sana!" ucap Daisy terisak.
"Tidak bisa, Pak Herman sudah aku anggap seperti ayahku, aku tidak bisa membiarkan dia disekap begitu saja."
"Aku akan ikut!" ucap Koko.
"Baiklah, aku ambil jaketku, kita kesana sekarang!" ucap Juan.
"Lis, tolong jaga Dokter Daisy dulu di sini, bisa kan?"
"Bisa, Mas. Aku akan mengirim pesan pada pengasuh Via!" jawab Elis. Koko dan Juan pun segera berangkat untuk membebaskan Herman yang disandera.
***
"Aku sudah menyuruhnya kemari untuk menukar nyawamu dengan nyawa Juan. Oh aku lupa sesuatu, kau bertanya alasanku kan?" ucap Fathir.
Herman tidak bisa menjawab dia hanya menatap tajam ke arah Fathir.
"Mari kità berdongeng. Tiga tahun lalu Akhmad Fathir beserta keluarganya berlibur ke Indo. Istri Fathir Aisyah dan anaknya bernama Akhmad Sholeh Fathir. Saat datang ke Indo, Aisyah sang istri langsung memeluk Juan sang mantan kekasih. Setelah kembali ke KL, Fathir dan Aisyah bertengkar. Aisyah yang kala itu sedang mengandung memilih mengakhiri hidupnya bersama si calon anak kedua dari Fathir. Karena itulah aku ingin Juan juga kehilangan anak dan istrinya. Sungguh disayangkan, istri Juan selamat. Tapi hari ini, aku akan melenyapkan Juan agar dendamku terbalas. Aku selesai bercerita, aku akan mendengarkan ocehanmu sebelum Juan datang kemari." Fathir melepas kertas penyumpal mulut Herman.
"Itu tidak ada hubungannya dengan Juan, istrimu meninggal karenamu bukan karena Juan!" ucap Herman.
"Jika istriku tidak memeluknya, aku tidak akan cemburu, dan tidak akan bertengkar. Dia bilang kalau aku tidak percaya padanya, dia lebih baik mati. Itu semua karena Juan!" teriak Fathir.
__ADS_1
"Kamu gila. Kamu hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa istri dan anak dalam kandungannya itu meninggal karenamu. Itulah sebabnya kau mencari pelampiasan." Herman menatap kasihan pada Fathir.
***
Juan dan Koko sampai di depan gedung. Juan sengaja memarkir mobilnya didalam basement gedung itu. Juan dan Koko sepakat untuk berjalan berpisah, agar Fathir tidak tahu jika Juan datang berdua. Juan berjalan lebih dulu ke atap gedung, setelah Juan tak terlihat, barulah Koko berjalan menyusul.
"Sepertinya tamu kita sudah datang." Fathir mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Tak lama, Juan muncul dari arah tangga.
"Kau, bukankah kau suaminya Aisyah?" tanya Juan.
Dia terkejut melihat Herman diikat di tiang pilar. Juan menatap dengan penuh amarah, dia langsung maju dan menghajar Fathir, Fathir berkelit dan mendorong Juan.
"Ada apa denganmu, kita tidak ada dendam apapun!"
"Aku hanya ingin melenyapkanmu, dan urusan kita selesai. Tidak ada niat bercerita denganmu!"
Juan dan Fathir baku hantam dengan sengit. Kekuatan keduanya seimbang. Koko datang dan menyelinap melepaskan ikatan Herman dan ketiga anak buahnya.
Fathir mulai tersudut. Juan yang emosi menghajarnya hingga babak belur dan Fathir tersungkur ke sudut tangga. Di tangga itu ada kayu yang mengganjal pintu. Juan menghampiri Herman dan membantu Koko melepaskan ikatan di tangan dan kaki Herman.
Fathir berlari sambil membawa kayu balok besar itu, Juan yang membelakangi Fathir hanya serius membantu Herman untuk bangun. Sedangkan Herman membelalak melihat Fathir akan memukul Juan. Saat Fathir melayangkan kayu untuk memukul Juan, Herman mendorong Juan ke samping, dan.
Buggh
Balok itu menghantam kepala Herman.
"TIDAAKK ...." Juan segera menghajar Fathir yang sudah melemparkan balok itu ke lantai. Juan menghajar dengan membabi buta.
"Pak Herman, Pak bangun." Koko memeluk kepala Herman di pangkuannya. Anak buah Herman segera menghampiri Juan.
"Pak, sudah. Dia bisa mati, Pak!"
"Biarkan dia mati, dia tidak pantas hidup!"
Bugh
Juan masih terus memukuli Fathir. Kedua anak buah Herman menarik paksa Juan yang duduk diatas tubuh Fathir yang sudah tergeletak.
"Pak, kita harus segera menolong Pak Herman!"
Mendengar nama Herman barulah Juan berhenti memukuli Fathir dan segera menggendong Herman. Koko membawa kunci mobil Juan dan berlari lebih dulu untuk membukakan pintu. Satu anak buah Herman membawa mobil Herman, dan dua yang lainnya membawa mobil yang tadi mereka pakai untuk mengintai Fathir.
Ketiga mobil itu melaju dengan kecepatan penuh, didalam mobil Juan memangku kepala Herman yang terus mengeluarkan darah segar. Herman sadar, dengan lemah ia berbicara.
"Kalian baik-baik saja, syukurlah. Uhukk uhuukk." Nafas Herman mulai tersengal.
"Pak, bertahanlah!" ucap Juan.
"Sepertinya, usiaku hanya sampai 55 tahun, haha. Uhukk uhukk, semoga kalian berdua bahagia selalu, anak-anakku."
"Pak, jangan tinggalin saya Pak," ucap Koko sambil menyetir. Koko dan Juan tak kuasa menahan tangis.
"Cepat, Ko!" ucap Juan.
Koko menambah kecepatan. Tiba-tiba tangan Herman terkulai lemas dan dadanya sudah tidak lagi naik turun. Juan mendekap tubuh Herman dengan erat dengan tangis yang tak henti hingga tiba di rumah sakit.
Herman langsung dinaikkan di ranjang dorong dan dibawa ke UGD. Baju Juan dan Koko penuh dengan darah Herman. Di dalam ruang UGD, Dokter mencoba mengembalikan detak jantung Herman dengan alat kejut jantung, tapi nihil. Herman tidak dapat diselamatkan karena kehilangan banyak darah.
Daisy dan Elis sampai di rumah sakit dengan menggunakan taksi. Mereka segera pergi ke rumah sakit setelah anak buah Herman memberi mereka kabar. Elis dan Daisy berlari di lorong rumah sakit, mereka melihat para pria terkasih mereka, mondar-mandir di depan pintu UGD. Dokter keluar bertepatan dengan Elis dan Daisy yang sampai di depan ruang UGD.
"Maaf, kami sudah berusaha tetapi nyawa pasien tidak tertolong," ucap Dokter.
"Aakkkhhh ... tidak mungkin. Pak Herman tidak mungkin pergi. Tidakk mungkin, tidak!!"
__ADS_1