Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Hamil lagi


__ADS_3

Sampai pukul 14:00 sore, rapat Juan belum selesai. Daisy yang kebetulan sedang tidak ada pasien, memilih tidur di ranjang periksa dan menutup gordennya.


Selesai rapat, Juan segera menemui Daisy di klinik. Juan melihat Daisy tertidur di ranjang tempat ia biasa memeriksa pasien. Melihat tidurnya yang begitu nyenyak membuat Juan tidak tega membangunkannya. Juan duduk menunggu hingga Daisy terbangun.


***


"Lis!"


"Ya, Mas." Elis hanya menjawab tanpa menoleh. Ia sedang merapikan berkas-berkas Juan di ruang kantor Juan. Koko masuk dan memeluk Elis dari belakang.


"Sudah selesai?"


"Mas, lepasin, ini kantor. Sebentar lagi aku selesai." Elis melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.


"Ok, aku tunggu kamu di mobil," ucap Koko.


Elis selesai merapikan berkas-berkas diatas meja kerja Juan. Ia memasukannya ke dalam laci lalu menguncinya. Elis mencari Juan untuk ijin pulang, dan Elis menemukannya di klinik.


"Pak Juan," sapa Elis.


"Sstt ...." Juan memberi isyarat dengan jari telunjuk di bibirnya. Elis faham jadi ia ijin dengan isyarat juga. Juan mengibaskan tangan dan mengangguk tanda mengiyakan. Elis tersenyum lalu pergi.


Elis melangkah menuju parkiran dan masuk ke mobil Koko. Koko diam saja sampai Elis selesai memakai sabuk pengaman. Koko langsung menyerang Elis dengan kecupan-kecupan panas. AC di dalam mobil saja tidak bisa mendinginkan mereka yang sedang saling menghisap lidah dengan penuh gairah. Tangan Koko mulai bergerilya, dari lutut Elis tangan itu terus merambah naik dan Elis segera mendorong Koko.


"Mas, hentikan. Kita pulang!" ucap Elis.


Koko pria yang perhatian, ia tak pernah memaksakan kehendaknya pada Elis. Sesuai janji yang ia ucapkan dalam hatinya, Koko akan melindungi Elis agar tidak lagi terluka dan menderita.


"Hari ini aku ingin kita ke rumah orang tuamu. Bagaimanapun juga kita perlu restu mereka." Koko melajukan mobilnya ke arah rumah orang tua Elis.


"Benar. Aku cuma takut kalau ayah tidak setuju, Mas!" ucap Elis. Ia masih ingat betapa kerasnya sang ayah mendidiknya, tapi ayahnya tidak mempercayainya saat Elis hamil karena diperkosa.


Mereka sampai di depan gerbang rumah orang tua Elis. Elis menarik nafas panjang sebelum membuka pintu gerbang. Koko mendekap pundak Elis.


"Jangan khawatir, ada aku disini. Aku akan melindungimu, percayalah!"


Elis mengetuk pintu berulang-ulang, tetapi tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah. Seorang tetangga yang tinggal disebelah rumah menghampiri Elis.


"Elis!" sapa seorang wanita paruh baya.


"Nenek, ayah dan ibu kemana?" tanya Elis.


"Kamu tidak tahu? Ayahmu masuk ke rumah sakit Citra Medika seminggu yang lalu. Ibumu sepertinya disana, biasanya dia pulang sebentar dan kembali lagi kesana." Nenek itu memberitahu Elis. Elis terkejut, kenapa ibunya tidak memberi kabar padanya.


"Terima kasih, Nek!" ucap Elis.


Koko dan Elis melaju secepatnya ke rumah sakit. Mereka mencari tahu pasien bernama Hendra. Dan segera mencari kamar yang ditunjukkan oleh suster.


"Kamar Melati no 286, ketemu. Sini, Mas!" Elis menunjuk kamar di depannya.


Tok tok tok


Ningrum membuka pintu dan melihat Elis membawa laki-laki. Ia menarik Elis menjauh dari Koko.


"Siapa pria itu, Lis?" tanya Ningrum.


"Dia Koko Hendarto, calon suami Elis, Bu!" jawab Elis.


"Dia sudah tahu siapa kamu?"


"Sudah, Bu. Elis sudah menceritakan semua pada Mas Koko, dia tidak masalah. Via juga menyukainya dan Mas Koko juga menyayangi Via. Rasanya tidak ada alasan untuk Elis meragukan Mas Koko." Elis menjawab pertanyaan ibunya dengan panjang lebar.


"Syukurlah jika dia pria yang baik. Temuilah ayahmu!"

__ADS_1


Elis kembali ke tempat Koko berdiri di dekat pint. Ia menarik Koko dan memperkenalkannya pada sang ibu.


"Bu, ini Mas Koko. Mas Koko, ini ibunya Elis."


"Koko, Bu!" ucap Koko sambil mengulurkan tangan.


"Ningrum, terima kasih sudah menerima putriku!" ucap Ningrum.


"Sayalah yang berterima kasih, karena ibu sudi memberikan restu pada kami," jawab Koko.


Hendra sadar dan langsung mengusir Elis dari ruangannya.


"Suruh anak itu pergi, atau aku akan semakin sakit!" ucap Hendra.


"Elis akan pergi, Pak. Elis cuma ingin memberitahu jika Elis akan menikah. Semoga Bapak cepat sembuh!" Elis menarik Koko pergi. Elis dan Koko pulang ke rumah Elis.


***


Daisy akhirnya terbangun setelah pukul 18:30 petang. Ia mengurut kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia duduk dan melihat Juan tertidur di kursi tempat Daisy biasa duduk memeriksa pasien.


"Jam berapa ini?" Daisy melirik jam. Ia terperanjat melihat jam di dinding. Daisy turun dari ranjang dan membangunkan Juan. Daisy menepuk-nepuk pundak Juan.


"Em, kamu sudah bangun, sayang?" Juan meregangkan tubuhnya.


"Kenapa Kakak tidak membangunkanku. Ini sudah malam, ayo pulang!" Daisy menarik lengan Juan.


"Tidak jadi ke Cirebon?" tanya Juan.


"Buat apa?"


"Katanya kamu mau beli empal gentong. Tidak jadi?" Juan bertanya dengan heran.


"Sudah tidak mau, kita cari makanan Korea aja!" ucap Daisy sambil mengunci pintu klinik. Suasana kantor sudah sepi, karena jam pulang di kantor ini adalah pukul 17:00 sore. Juan tidak pernah menyuruh karyawan kantornya untuk lembur.


"The K' Resto, aku mau makan kue ikan." Daisy menjawab dengan bersemangat.


"Ok."


Daisy dan Juan sampai di parkiran, tetapi Daisy tiba-tiba merasa mual saat turun dari mobil. Daisy masuk kembali ke dalam mobil, ajaib karena mualnya langsung hilang.


"Kak Juan belikan saja, aku tidak mau masuk ke sana!" ucap Daisy.


"Baiklah, tunggu disini!" jawab Juan.


Juan jadi curiga, apakah Daisy hamil. Melihat tingkah anehnya itu, Juan jadi teringat saat Daisy hamil dulu. Juan memesan kue ikan aneka macam, karena ia lupa bertanya pada Daisy yang mana yang diinginkannya. Juan kembali ke parkiran setelah pesanannya selesai dibungkus, dan dibayar olehnya.


"Ini. Sekarang kita kemana, pulang atau mau main? Kebetulan besok kan tanggal merah," ucap Juan.


"Menginap di rumah Mama, aku ingin masakan Mama!"


"Baiklah, kita ke rumah Mama," jawab Juan.


"Kita mampir ke apotik."


"Kamu sakit?"


"Tidak, sepertinya ada yang aneh saja. Aku ingin membeli sesuatu," ucap Daisy.


Mereka melewati apotik Central Farma, Juan berhenti di depan apotik. Daisy menyuruh Juan menunggunya di dalam mobil. Daisy kembali setelah mendapatkan barang yang diinginkannya. Juan melaju kembali menuju rumah orang tua Daisy.


***


"Mas, sedang apa?" tanya Shilla pada suaminya.

__ADS_1


"Sedang melihat album foto, sini sayang. Lihatlah, dia begitu imut. Tak terasa sekarang dia sudah memiliki dunianya sendiri dan kita hanya berdua disini seperti dulu lagi!" Denis bercerita dengan raut wajah sedih.


Ting tong


Shilla mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Aku buka pintu dulu sebentar," ucap Shilla. Ia melangkah meninggalkan Denis di ruang baca.


ceklek


"Daisy!" ucap Shilla.


"Mama, Daisy mau menginap disini, bolehkan. Aww!" Daisy memekik karena dipukul oleh Shilla. Pukulan pelan dan Daisy hanya berpura-pura kesakitan.


"Ini juga rumahmu. Kenapa harus minta ijin, dasar manja. Ayo masuk nak Juan, tinggalkan saja dia disini!" Shilla menarik lengan menantunya dan meninggalkan Daisy dengan senyum jahil.


"Mama ... anak Mama kan aku, bukan Kak Juan. Mama jahat, huwaahh." Daisy berpura-pura menangis. Shilla dan Juan tertawa dengan kelakuan Daisy.


"Kalian mau makan? Mama hari ini memasak ayam goreng mentega," ucap Shilla.


"Mau, Daisy mau makan Ma!" ucap Daisy. Ia segera lari ke dapur dengan menenteng kue ikan yang tadi dibeli oleh Juan. Ia menaruhnya di piring dan membawanya ke meja makan.


"Makanlah dulu, Mama dan Papa sudah makan tadi. Setelah makan kalian baru temui Papa!" ucap Shilla. Ia lalu meninggalkan Juan dan Daisy di ruang makan. Sedangkan Shilla kembali ke ruang baca.


"Siapa, Ma?"


"Daisy dan Juan, mereka mau menginap. Sekarang sedang makan di dapur, nanti juga kesini!" jawab Shilla. Denis hanya tersenyum.


"Mas sudah semakin tua dan Daisy karena memilih menjadi Dokter jadi tidak bisa mengurus perusahaan. Untung saja ada Fadil," ucap Denis.


"Berdoa saja semoga Daisy cepat punya momongan, jadi beberapa tahu ke depan ada yang bisa Mas ajari untuk memimpin perusahaan," ucap Shilla.


Juan memperhatikan nafsu makan Daisy kembali naik. Juan tersenyum dan merasa yakin jika Daisy hamil. Selesai makan, Daisy dan Juan menyapa Denis di ruang baca.


"Papa, Daisy pulang!" ucap Daisy sambil berlari ke dalam pelukan ayahnya. Denis mengusap lembut rambut putrinya.


"Masih manja saja, berapa usiamu sekarang. Tidak malu pada suamimu," goda Denis. Juan hanya tersenyum.


"Pa, Daisy lelah, Daisy pergi ke kamar dulu!"


"Ya, beristirahatlah. Kalian pasti lelah setelah bekerja," ucap Denis.


Daisy dan Juan pergi ke kamar Daisy. Daisy segera mencari baju tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Juan merasa penasaran dengan apa yang dibeli Daisy di apotik tadi. Juan memeriksa tas Daisy dan melihat testpack dalam plastik berlogo apotik Central Farma. Juan tersenyum.


"Sepertinya dia juga berpikiran sama denganku," pikir Juan.


***


Keesokan pagi


Daisy bangun pagi-pagi sekali. Ia pergi ke kamar mandi dan menampung urine dalam tabung kecil yang dibelinya bersama dengan testpack. Daisy mencelupkan testpack itu beberapa detik lalu memejamkan matanya. Setelah kira-kira satu menit ia membuka matanya perlahan dan mengintip hasilnya.


"Positif, aku hamil lagi," gumam Daisy dengan sumringah. Ia keluar dan membangunkan Juan.


"Kak Juan, bangun!"


"Apa sayang?" jawab Juan dengan setengah tertidur. Juan tidak mau membuka mata, jadi Daisy membisikannya di telinga Juan.


"Aku positif!" ucap Daisy di telinga Juan. Juan langsung membuka mata lebar.


"Benarkah?" tanya Juan yang sudah terduduk. Daisy mengangguk. Juan menarik Daisy dalam pelukannya.


Daisy dan Juan sangat bahagia, mereka akan mempunyai Akami yang kedua kalinya. Meski yang pertama tidak sampai dilahirkan. Kali ini Juan berjanji akan menjaga Daisy dengan baik-baik. Tidak akan ia biarkan siapapun melukai Daisy dan calon anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2