
Jangan lupa like n vote ya, readers tersayang.
-------------------------------------
Malam hari.
Juan dan Daisy sedang berada di kamar Raffa dan Raffi, mereka baru saja selesai makan malam. Iyah sedang membereskan meja, setelah makan malam. Daisy mengajak Juan berdiskusi soal ayahnya.
"Sayang, tante Yuli sekarang sudah sendiri, papa juga sendiri. Aku ingin menyatukan papa dan tante, bagaimana menurutmu?" tanya Daisy sambil menepuk-nepuk punggung Raffa. Sedangkan Raffi sudah tertidur di pangkuan Juan.
"Apa mungkin? Papa sangat mencintai almarhum mama. Sebaiknya jangan dulu, kita tunggu saja, sampai papa bisa mengikhlaskan mama." Juan membaringkan Raffi di tempat tidur, kemudian menyelimuti Raffi.
Raffa sudah terlelap, Iyah juga sudah selesai mencuci piring. Saat Daisy dan Juan sudah keluar dari kamar si kembar, barulah Iyah masuk ke kamar. Biasanya Iyah hanya mengasuh si kembar, tapi karena Anis, sedang tidak enak badan, jadi Iyah merangkap mengurus dapur.
***
__ADS_1
Denis sedang duduk melamun di taman atap kamarnya. Ia mengenang kembali hari-hari bahagianya bersama Shilla. Sudah tiga bulan sejak kematian Shilla, tapi Denis masih belum bisa melupakan Shilla. Cinta yang tulus selama puluhan tahun, tidak bisa hilang begitu saja. Meski raga Shilla sudah tidak lagi menemaninya, tapi kenangan Shilla selalu ada di setiap tempat. Kemanapun Denis melangkah, bayangan Shilla yang melintas di depannya, sungguh menyiksanya. Hanya di kantor saja, Denis tidak melihat bayangan Shilla, karena Shilla tidak pernah mau datang ke kantor Denis.
"Sayang, apa kau melihatku, di sana? Kalau iya, bisakah kau mendengar aku? Aku sangat merindukanmu," ucap Denis lirih. Di siang hari, ia bisa melupakan sejenak tentang Shilla, dengan mengurus pekerjaan. Namun di malam hari, ia akan kembali merasa kesepian di kamarnya. Biasanya selepas bekerja di kantor, Shilla menemaninya di ruang baca sambil minum teh. Kini Denis hanya bisa melamun di taman atap sambil mengenang almarhum Shilla.
Tanpa terasa, Denis tertidur di taman atap hingga pagi. Suara Raffa memanggil, terdengar sayup di telinga Denis dari taman atap. Denis membuka mata perlahan, lalu turun dan membuka pintu. Raffa langsung memeluk kaki kakeknya. Di depan pintu juga ada Daisy dan Juan.
"Papa, wajah papa pucat sekali. Papa ketiduran di atap lagi?" tanya Daisy khawatir. Denis tersenyum.
"Papa baik-baik saja," jawab Denis.
Daisy tidak percaya dan menyentuh kening Denis dengan punggung telapak tangan. Benar saja dugaan Daisy, Denis demam.
"Pa, bukan hanya papa yang kehilangan mama, Daisy juga. Tapi Daisy mohon, papa tetap harus jaga kesehatan papa. Daisy dan kak Juan harus berangkat ke kantor, nanti Daisy akan cari perawat untuk papa," ucap Daisy. Ia lalu keluar membawa peralatan dokter.
***
__ADS_1
Di klinik kantor.
"Kak, aku ijin sebentar untuk menemui Steve," ucap Daisy.
"Tadi pagi memangnya tidak bertemu?" tanya Juan dengan nada cemburu.
"Kakak lihat dia tidak di rumah? Tidak usah cemburu, jika tadi Steve ada di rumah, aku pasti akan bicara di depan kakak. Steve sedang lari pagi, tadi," ucap Daisy.
"Bagaimana aku tidak cemburu. Steve pernah menyatakan cinta padamu," ucap Juan.
"Kak Juan, jangan kekanakan begitu. Steve mengatakan itu saat dia masih kecil, sekarang dia juga sudah punya calon istri. Dasar manja," ucap Daisy meledek Juan.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Steve?" Juan berhenti bersikap manja dan bertanya dengan serius.
"Aku ingin mengajak Steve bekerja sama, untuk menyuruh tante Yuli datang ke sini," jawab Daisy.
__ADS_1
"Baik, pergilah! Semoga berhasil." Juan mengecup kening Daisy. Daisy keluar dan mengunci pintu klinik, lalu menelepon Steve. Daisy menunggu Steve di taman tidak jauh dari kantor.
Daisy tahu, tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai. Namun Daisy berharap, akan ada seseorang di samping ayahnya, untuk membantu Denis melupakan cintanya. Daisy yakin, ibunya di atas sana juga sedih, jika ayahnya terus tersiksa.