Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Ulang Tahun pertama


__ADS_3

Hari berlalu tanpa terasa oleh Daisy dan Juan. Kisah perkembangan Raffa dan Raffi terpampang di dinding, dalam sebuah pigura. Dari foto saat si kembar mulai tengkurap, merangkak dan berdiri. Raffa dan Raffi termasuk bayi yang memiliki pertumbuhan yang cepat. Usia sembilan bulan, mereka berdua sudah berjalan.


Hari ini, adalah hari dimana ketiga bayinya lahir. Daisy dan Juan berencana mengadakan syukuran ulang tahun untuk Raffa dan Raffi. Tak lupa Juan dan Daisy juga mengunjungi makan putri mereka, Reva Putri Zabrani.


"Halo, sayang, Mama dan Papa datang. Selamat ulang tahun, semoga kau selalu bahagia, sayang."


Daisy menaruh bunga mawar putih di makam Reva. Juan mengusap-usap pundak sang istri yang sedang bersedih mengingat putrinya saat masih hidup. Daisy menghapus air matanya.


"Mama dan Papa pulang dulu, kami akan datang kembali. Beristirahatlah dengan tenang," ucap Daisy. Mereka lalu pergi meninggalkan area pemakaman.


***


Di rumah.


"Raffa, Raffi jangan lari-lari sayang!" teriak Shilla sambil mengejar kedua cucunya. Mereka berlari dan menabrak Denis.


Brukk.


"Hati-hati sayang, denger ucapan nenek, tidak boleh lari-lari, ok."


"Kaka," ucap Raffi sambil memeluk kaki Denis dan mengangkat kedua tangannya, meminta digendong oleh Denis.


"O, cucu kakek minta digendong, sini kakek gendong kalian berdua!"


Denis menggendong kedua cucunya. Raffi dan Raffa belum bisa berbicara lancar, mereka memanggil Denis dengan Kaka dan Nana untuk Shilla. Kedua balita menggemaskan itu sangat disayang oleh seluruh penghuni rumah.

__ADS_1


"Nana, baba(bobo)," ucap Raffi yang menguap.


"Iyah, tolong bawa Raffa dan Raffi untuk tidur siang," ucap Shilla.


"Baik, Nya," jawab Iyah.


Denis menurunkan mereka dan Iyah menuntun mereka ke kamarnya. Shilla melanjutkan pekerjaannya. Ia sedang mengatur dekorasi pesta ulang tahun untuk kedua cucunya. Denis menghampiri Shilla.


"Daisy dan Juan kemana?" Denis duduk di sofa.


"Mengunjungi makam Reva," jawab Shilla.


"Oh," Denis menyahut singkat.


***


"Sudah satu jam berkeliling, tetapi masih belum tahu mau membeli apa, hah!" Daisy mengembuskan nafas berat.


"Bagaimana kalau mobil-mobilan saja?" Juan mengusulkan.


"Boleh, daripada kita pulang dengan tangan kosong."


Mereka memutuskan membeli mobil-mobilan, dan meminta pemilik toko mengantarkannya ke rumah. Daisy dan Juanpun pulang. Diperjalanan, ponsel Daisy bergetar di dashboard mobil.


"Halo, siapa ini?" Daisy tidak mengenal nomor si penelepon.

__ADS_1


"Halo, Dais, ini aku."


"Zahra? Ini kamu?"


"Ya, ini aku. Aku hanya satu hari di Indo, jadi aku ingin bertemu denganmu sebentar."


"Baiklah, kita bertemu di 'Cafe MT'," jawab Daisy. Obrolan mereka berakhir.


Daisy meminta Juan untuk mengantarnya ke cafe. Setelah menurunkan Daisy di depan cafe, Juan langsung kembali ke kantornya. Daisy sudah tidak bekerja di klinik kantor sejak ia hamil, sampai sekarang pun Daisy belum mulai bekerja. Untuk menggantikan Daisy, Juan mencari dokter magang yang bekerja hanya beberapa bulan, lalu keluar, dan digantikan dokter magang yang baru.


Alasan Juan agar saat Daisy sudah siap bekerja kembali, tempatnya tetap ada.


Zahra sudah menunggu di dalam cafe. Ia melambai ketika melihat Daisy masuk ke cafe.


"Dais, sini!" ucap Zahra setengah berteriak.


Daisy menoleh ke arah suara dan tersenyum melihat sahabat lamanya. Daisy menghampiri, ia disambut pelukan oleh Zahra.


"Za, ya ampun, kangen banget."


"Aku juga," ucap Zahra.


Mereka duduk sambil makan siang. Mereka mengobrol, bercerita tentang masa lalu dan juga masa sekarang. Zahra ke Indo mewakili perusahaan Roni yang sedang mulai melebarkan sayapnya. Roni membuka perusahaan iklan kecil-kecilan setelah lulus kuliah, setahun kemudian dia menikah dengan Zahra. Karena Roni membuka perusahaan iklan di Singapura, setelah menikah Roni membawa Zahra bersamanya.


-----------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2