Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Salah faham


__ADS_3

Aisyah melepaskan pelukannya dan mundur selangkah dari Juan.


"Heran, kamu masih saja tampan seperti dulu, hihi!" ucap Aisyah.


"Untuk apa kau datang ke Indo?" tanya Juan dengan pandangan penuh selidik.


"Ck, mentang-mentang aku cuma mantan. Aku menelponmu seminggu yang lalu tapi ponselmu mati, jadi aku mengirim pesan. Apa pesanku juga tidak kau baca? Tapi kalau tidak kau baca, kenapa kau bisa menjemputku sekarang?" Aisyah bertanya heran.


"Pesan?" tanya Juan. Aisyah mengangguk.


Juan lupa, sejak makan malam bersama Daisy, Juan belum menghidupkan ponselnya. Juan mengambil ponsel di saku celananya dan menghidupkan ponselnya. Juan melihat pesan, bahwa Aisyah hari ini memang minta di jemput oleh Juan.


"Mama," panggil seorang anak laki-laki berumur kurabg lebih 5 tahun. Di belakang anak laki-laki itu berjalan seorang pria berjanggut tipis, dengan wajah lumayan tampan. Dia mendorong troli berisi koper dan tas.


"Sini, sayang!" Aisyah melambai dan anak kecil itu pun berkari menghampiri Aisyah. Juan hanya diam menunggu penjelasan Aisyah. Setelah pria berjanggut tipis itu berdiri disamping anak laki-laki Aisyah, barulah Aisyah memperkenalkan mereka.

__ADS_1


"Kenalkan, ini Ahmad Fathir, suamiku. Dan ini Ahmad Sholeh Fathir, anak pertamaku. Dan anak keduaku masih di sini!" ucap Aisyah sambil menepuk perutnya yang kelihatan sedikit membuncit.


Juan berjabat tangan dengan Fathir.


"Aku ingin minta tolong! bisakah selama seminggu ini, kau menjadi pemandu wisata kami. Anakku ini ingin berjalan-jalan di Indo. Bisa kan Juan?" tanya Aisyah.


"Tentu saja, aku bersedia." Juan tersenyum menyanggupi.


"Oh, iya. Kamu tidak membaca pesanku, tapi kamu ada di sini. Apa menjemput seseorang?" tanya Aisyah yang penasaran.


"Sayang sekali, aku tidak bisa bertemu tunanganmu!" ucap Aisyah.


"Ya sudah, aku antar kalian ke hotel kalau begitu. Kalian menginap di hotel mana?" tanya Juan. Aisyah menyebut nama hotel yang tak jauh dari rumah Juan ternyata.


Juan pun mengantar mereka ke hotel, setelah itu Juan baru kembali ke apartement. Juan tidak ingin tinggal di rumahnya, karena kenangan kebersamaannya dengan Daisy lebih banyak di dalam apartement.

__ADS_1


Baru saja ia mengantar Daisy tapi rindu sudah menggelayut di hati Juan. Dia menatap setiap sudut apartement, dimana dia dan Daisy duduk dan bercanda. Juan pergi ke balkon dan mengingat ciuman mereka di sana. Juan lalu pergi ke kamar dan melemparkan tubuhnya ke ranjang.


"Ah, baru satu jam tapi aku sudah sangat merindukanmu, sayang."


*******************


Selama seminggu Juan menjadi pemandu wisata amatir untuk Aisyah dan keluarga kecilnya. Selama seminggu itu pula, Juan selalu menunggu telpon dari Daisy. Juan merasa khawatir karena sudah seminggu tapi Daisy belum memberi kabar padanya.


Juan terus memikirkan Daisy. Apakah Daisy tiba dengan selamat, apakah dia sehat. Pikiran seperti itu terus saja menari-nari diatas kepala Juan. Aisyah dan keluarganya hanya berlibur seminggu lalu kembali ke KL. Setelah mengantar Aisyah dan keluarganya, Juan duduk di salah satu kursi tunggu di bandara.


Juan mencoba menelpon Daisy, tapi Daisy sengaja tak menghidupkan ponselnya. Juan semakin cemas, tapi Juan mencoba berpikir positif.


"Sepertinya, Daisy sudah mulai kuliahnya. Semoga kamu tetap sehat, sayang. I miss you!" gumam Juan. Dia kemudian pulang ke rumah sederhananya. Tinggal di apartement membuat dia terus terbayang Daisy.


Juan takut dia tidak tahan dan menyusul Daisy ke USA. Juan memilih tidur dan berharap bertemu Daisy dalam mimpinya.

__ADS_1


**************************


__ADS_2