Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Sakit


__ADS_3

Juan dan Daisy sampai di kantor setelah cek kehamilan. Daisy pergi ke klinik dan di depan pintu sudah berdiri seseorang yang tak dikenalnya.


"Maaf, sudah menunggu lama. Apa anda bekerja di kantor ini atau di supermarket?" tanya Daisy sambil membuka pintu klinik. Ia mempersilahkan pasiennya masuk.


"Saya tidak bekerja di kantor ini!" jawab pasien pria dihadapan Daisy. Daisy memperhatikan pakaian yang dipakai pria itu. Pakaian pria itu setidaknya berharga satu juta keatas, harga yang tak mungkin untuk seorang karyawan biasa.


"Apa yang anda rasakan?"


"Hati saya terasa sakit, Dokter!"


"Maaf, jika yang anda maksud sakit hati, saya bukan ahli mengobati penyakit itu."


"Hehe, tidak. Bukan itu maksud saya, maksud saya di bagian ulu hati saya terkadang merasa sakit!"


"Oh begitu, coba anda berbaring dulu. Biar saya periksa sebentar," ucap Daisy sambil menempelkan stetoskop ditelinganya dan ujung yang lain ia tempelkan di dada pasien. Daisy tidak merasa ada yang bermasalah.


"Apa dia hanya berpura-pura, tetapi apa tujuannya?" pikir Daisy. Pikirannya tergelitik oleh sikap pasiennya yang satu ini. Daisy merasa aneh, untuk apa pria itu harus berpura-pura.


"Maaf, anda belum menyebutkan nama anda!" ujar Daisy.


"Akhmad Fathir, Dokter," jawab pria berjas coklat itu. Wajahnya tidak seperti orang Indo, tetapi Daisy tak ingin berpikiran lebih jauh.


"Pak Fathir, saya tidak menemukan indikasi penyakit dalam hati bapak, jadi saya hanya memberikan bapak vitamin. Tolong diminum secara rutin satu kali sehari. Semoga lekas sembuh!" ucap Daisy sambil menyodorkan obat yang sudah dibungkus rapi dalam plastik.


***


"Pak Koko," panggil Elis.


"Kalau diluar kantor, panggil nama saja. Bisa kan?"


"Maaf, tapi saya tidak biasa memanggil nama pada orang yang usianya lebih tua dari saya. Bukan maksud saya mengatakan anda tua, hanya ...."


"Kalau begitu ya panggil sesuka kamu tapi jangan bapak. Misalnya Kaka, Abang atau ...."


"Kalau Mas, boleh? Saya rasa itu lebih enak didengar daripada Kakak!" ucap Elis sambil tersenyum canggung.


"Boleh, kalau gitu kamu panggil saya mas, ok. Kalau dipikir-pikir benar juga kata kamu, kalau aku dipanggil kakak jadi Kakak Koko, haha, jadi seperti meledek!" jawab Koko tertawa lebar.


"Iya," ucap Elis tersenyum.


"Sudah selesai?"


"Sudah!"


"Kalau sudah kita kembali ke kantor!"


Elis dan Koko kembali ke kantor seusai makan siang. Tak henti Koko melirik Elis dari kaca diatas dashboard mobil. Elis bukannya tidak sadar jika Koko sedang memperhatikannya. Elis hanya berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


***


Juan celingukan mencari Koko, tetapi sudah ia cari diruangannya, Koko tak ada disana. Ia pergi ke ruangan Pak Herman.


Tok tok


"Pak Herman, apa Pak Herman melihat Koko?" tanya Juan.


"Dia sedang pergi makan siang dengan Elis!"


"Benarkah, Koko mau makan siang dengan wanita?" tanya Juan tak percaya. Selama ia mengenal Koko, ia tak pernah melihat Koko mau mendekati wanita. Sungguh diluar dugaan Juan jika sekarang Koko sedang keluar berdua dengan Elis.


"Benar, karena itu jika Pak Juan butuh sesuatu katakan saja, aku akan menggantikan Koko sebentar. Biarkan ia mengejar kebahagiaannya. Kamu dan Koko sudah seperti anak untukku, jadi apapun akan aku lakukan agar kalian bahagia!" ucap Herman tulus.


Juan terharu mendengar ucapan Herman. Ia merasa sangat beruntung memiliki Herman disampingnya. Sejak ia memulai usaha kecil-kecilan membuka sebuah minimarket hingga sekarang ia memiliki banyak supermarket besar, beberapa puluh unit apartement, semuanya ia jalani bersama Herman. Kelas etika yang biasanya ramai, kini sepi karena bukan Juan yang mengajar.


Kodrat alami perempuan, jika mereka masuk kesana karena tertarik sang guru etika. Karena Juan sudah menikah, para gadis itu patah hati dan tidak lagi datang ke sekolah etika milik Juan. Herman mengusulkan untuk mengubah kelas etika itu menjadi tempat kursus komputer, dan memang peminatnya lumayan banyak.


***


Sore hari jam pulang kantor, Daisy merasa ingin buang air kecil dan ia bergegas pergi ke kamar mandi. Saat Daisy ke kamar mandi, terlihat sebuah tangan yang menenteng box kue dan meletakkannya di meja Daisy. Bibir tebal itu terlihat menyeringai saat keluar dari klinik setelah menaruh kue di meja.


Elis sekarang jadi terbiasa diantar jemput oleh Koko, seperti sore ini. Di parkiran gedung kantor, Juan dan Daisy melihat Koko yang sedang membukakan pintu mobil untuk Elis. Juan tersenyum senang, berbeda dengan Daisy yang merasa aneh.


"Kapan mereka menjadi seakrab itu?" gumam Daisy, Juan mendengar gumaman Daisy.


Juan melihat kotak kue yang dipangku Daisy, dia pikir Daisy mungkin menyuruh OB membelikannya kue. Sementara Daisy berpikir bahwa Juan lah yang membelikannya kue. Kue black forest itu memang kesukaan Daisy.


***


Malam menjelang dan seperti biasanya, Juan dan Daisy selalu berhubungan tiga kali dalam seminggu semenjak Daisy hamil. Malam ini adalah malam bagi Juan meminta jatah mingguannya.


Ia merayap diatas tubuh Ďaisy dan mulai menggerayangi tubuh Daisy. Daisy hanya mengeluarkan desahan kecil. Juan mulai mencium bibir Daisy dan menghisapnya dengan lembut. Daisy membalas ciuman Juan, tetapi saat Juan memainkan gunung kembar Daisy, ia meringis dan menjauhkan tangan Juan.


"Kenapa?"


"Sakit, Kak. Sepertinya karena mulai membengkak!" jawab Daisy.


"Kenapa bisa membengkak, apa kita harus ke spesialis kandungan lagi?" tanya Juan khawatir.


"Tidak perlu, ini biasa harusnya pada ibu hamil. Pa..dara akan membengkak karena harus memproduksi air ASI. Jangan disentuh, sakit soalnya Kak!" ucap Daisy menjelaskan.


"Oh," jawab Juan singkat. Juan melanjutkan aksinya kembali, ia mencium bibir dan leher Daisy, tetapi mulai sekarang ia berhenti bermain di bukit kembar Daisy. Mereka tertidur setelah penyatuan. Seperti biasanya, setelah Daisy tertidur, Juan pindah ke sofa.


***


Pagi mulai menyapa. Daisy membuka matanya dan hendak bangun, tetapi kepalanya terasa berdenyut nyeri.

__ADS_1


"Kak!" Daisy mencari Juan. Sebenarnya Daisy tahu dimana suaminya itu, karena setiap pagi selalu sama, sang suami pasti terbangun di sofa jika pagi menjelang. Daisy merasakan sakit kepala yang hebat, karena itulah ia memanggil Juan. Juan tidak mendengar panggilan Daisy, karena pintu kamar yang tertutup membuat suara Daisy tidak begitu jelas. Hingga beberapa kali, barulah Juan mendengarnya.


"Ya, sayang!" jawab Juan. Secepat mungkin ia berlari menaiki tangga nenuju kamarnya. Saat Juan masuk, Daisy sedang bersandar di kepala ranjang dan memegangi kepalanya. Juan segera menghampiri, ia duduk di tepi ranjang dan bertanya dengan sangat khawatir.


"Kenapa, sayang. Kamu sakit, wajahmu merah sekali?" tanya Juan. Ia melihat sang istri terus meringis memegangi kepalanya.


"Sepertinya aku demam, bisakah Kakak tolong belikan aku obat?" tanya Daisy. Ia lalu menuliskan resep obat yang aman untuk ibu hamil. Ia memberikan resep itu pada Juan.


Juan yang baru bangun tidur dan belum sempat mandi, hanya pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya lalu bergegas pergi ke apotik. Ia pergi ke apotik yang tak terlalu jauh dari apartementnya, agar tak membuat Daisy lama menunggu. Juan juga membelikan Daisy bubur ayam kesukaannya.


Juan kembali ke apartement dan langsung ke dapur, mengambil air minum dan menyiapkan bubur di mangkuk. Ia masuk ke dalam kamar dan menyuapi Daisy bubur yang tadi dibelinya.


"Makan dulu buburnya, sayang!"


"Sedikit saja, aku tak selera."


Juan dengan sabar menyuapi Daisy, separuh isi mangkuk sudah habis dilahap Daisy dan ia menyuruh Juan berhenti menyuapinya. Daisy kemudian meminum obat demam yang Juan belikan.


"Kak, tolong pijatkan kepalaku. Sakit sekali rasanya, bisa kan memijat tanpa menyentuh rambutku?" tanya Daisy. Dia sangat ingin Juan memijat kepalanya, tetapi ia tak ingin rambutnya tersentuh. Permintaan yang sederhana bagi Daisy, tetapi sesuatu yang sangat sulit untuk Juan.


"Bagaimana bisa, sayang. Kalau memijat kening mungkin bisa, tetapi memijat kepala, aku tidak yakin bisa sayang!" jawab Juan kebingungan. Bagaimana bisa memijat kepala tanpa menyentuh rambut, sedangkan di kepala sudah pasti rambut lebih dulu yang terpegang. Juan sungguh kebingungan memikirkannya.


"Ya sudah, keningnya saja tapi ingat jangan sentuh rambutku!" ancam Daisy. Ia lalu berbaring dan Juan memijat keningnya dengan sangat hati-hati, agar tangannya tak menyentuh rambut Daisy satu helai pun. Juan lupa jika ia harus memberi kabar pada Koko dan Herman.


"Sayang, aku telpon Koko dulu sebentar, ok!" ucap Juan. Daisy mengangguk dan memejamkan matanya, ia ingin tidur saja daripada merasakan sakit kepala. Daisy berpikir mungkin saja setelah tidur, sakit kepalanya reda.


Tutt tuttt tutt


Juan menelpon ponsel Koko, dan Koko mengangkatnya.


"Halo, Pak Juan," sapa Kokp diujung telpon.


"Halo, Ko. Tolong beritahu Pak Herman, hari ini Daisy sakit. Karenanya saya Daisy tidak akan ke kantor hari ini. Tolong handle pekerjaan saya!" ucap Juan.


"Baik, Pak. Saya akan menyampaikannya pada Pak Herman," jawab Koko. Dan panggilan pun berakhir.


Juan kembali ke kamar dan melihat Daisy sudah tertidur dengan keringat yang membasahi keningnya. Juan pergi ke dapur dan mengambil air menggunakan wadah plastik serta membawa handuk kecil. Dengan telaten Juan mengelap keringat Daisy lalu mengompresnya.


Juan pergi ke dapur dan memasak bubur untuk Daisy, agar nanti saat Daisy ingin makan, buburnya sudah siap. Ia memasak bubur tim campur sayuran dan juga daging ayam. Juan tetap mementingkan kebutuhan gizi bagi Daisy dan calon anak mereka. Juan duduk di sofa yang ada di dekat pintu di dalam kamar, ia tidak mau jauh dan meninggalkan Daisy seorang diri di kamar. Juan takut jika Daisy memanggilnya dan tak terdengar oleh Juan.


Juan belum memberitahu Shilla dan Denis, jika putrinya sakit. Juan berharap Daisy segera sembuh, rasanya hati Juan sakit melihat istri yang biasa bermanja-manja padanya kini terbaring lemah.


***************************


Tinggalkan jejak seperti biasanya ya readers...


author jg ngucapin terima kasih buat yg udh vote author♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2