
Pagi menjelang. Agam yang telah bangun terlebih dahulu, memandang intens wajah cantik blasteran sang istri. Wajah yang begitu sempurna di mata Agam. Agam menelusuri seluruh wajah Paris dengan jarinya lembut. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu. Lalu jari itu berhenti di bibir yang semalam membuatnya mabuk. Agam mengelus bibir sek-si itu dengan ibu jarinya sambil tersenyum.
" Engghhh.... " Paris mulai menggeliat. Agam membiarkan sang istri menggeliat dengan bebas. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang untuk sang istri. Tapi posisi tubuhnya tetap miring menghadap sang istri dengan kedua tangan berada di bawah kepala, sambil terus melengkungkan kedua sudut bibirnya.
" Udah bangun? " tanya Agam lembut.
" Emm... " jawab Paris sambil masih menutup matanya.
Agam kembali mengembangkan senyumannya. Muka bantal sang istri terlihat sangat imut. Agam menarik tangan kanannya dari bawah kepala, lalu ia uluran untuk kembali menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.
Merasakan belaian di mukanya, Paris membuka matanya seketika. Melihat sang suami yang sedang menatapnya sambil tersenyum, Paris langsung menutup wajahnya dengan selimut, malu.
" Hei, kenapa di tutup mukanya? Kau menghalangiku menikmati keindahan yang di berikan oleh Tuhan. " ujar Agam sambil berusaha menarik selimut yang Paris gunakan untuk menutupi wajahnya.
Tapi Paris memegangnya erat. " Jangan. " jawabnya.
" Kenapa? "
" Malu tau. " jawab Paris.
Agam terkekeh pelan, lalu ia menarik selimut itu lebih kuat hingga terlihatlah kembali wajah yang sedari pertama kali ia lihat langsung membuatnya jatuh cinta.
" Kenapa malu? " tanya Agam menggoda Paris.
" Malu sama yang semalam. " jawab Paris lirih sambil menggigit ujung selimut yang di pegangnya.
Agam tersenyum sambil menarik tubuh Paris, sekaligus mendekatkan tubuhnya hingga tubuh mereka saling menempel, lalu memeluk erat tubuh Paris. Dan Paris langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Agam.
" Apa sekarang kamu bisa mengingat yang semalam? " tanya Agam setelah mengecup puncak kepala Paris.
Paris mengangguk dalam pelukan Agam. Ia pun mengalungkan tangannya di pinggang sang suami.
" Bagaimana? Apa yang semalam sudah menjadi kenangan yang indah ? Apa semalam aku sudah berhasil memberikan kenangan indah itu untuk kamu ingat? " tanya Agam sambil sedikit menjauhkan tubuhnya dan sedikit menunduk untuk melihat wajah bersemu milik istrinya.
Paris mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya malu-malu. Sungguh menggemaskan buat Agam melihat tingkah sang istri yang seperti itu. Ingin rasanya ia menerkam kembali sang istri untuk santapan paginya.
" Sayang, apa kamu katakan semalam itu benar? Apakah kamu memang mencintaiku semenjak pertama melihatku? " tanya Agam sambil menarik Paris dalam pelukannya kembali.
" Apa kamu tidak percaya? " tanya Paris balik.
" Lalu, kapan kamu pertama melihatku? " tanya Agam kembali.
" Saat kamu memperkenalkan diri di depan kelas. Saat mendengar suaramu, aku mengangkat kepalaku, dan jantungku langsung berdebar hebat saat itu juga. Aku mengira kalau aku terkena penyakit jantung. Jadi aku menemui Daddy di rumah sakit. Tapi Daddy malah menertawakanku, dia bilang aku tidak sakit apapun. Tapi aku jatuh cinta. " jelas Paris panjang lebar. Agam kembali tersenyum bahagia.
" Kalau kamu, semenjak kapan kamu jatuh cinta kepadaku? " tanya Paris.
__ADS_1
" Saat aku memasuki gerbang sekolah untuk pertama, memarkirkan motorku, dan aku melihatmu dari kejauhan bersama duo Z dan kak Ratu. Juga ada kak Dan di sana. "
" Benarkah? " tanya Paris sambil mendongak, menatap Agam dengan tatapan berbinar.
Agam mengangguk lalu Paris kembali menyeruakkan wajahnya ke dada Agam sambil tersenyum.
" Saat itu, jantungku berdebar kencang. Lalu jantungku berdebar kencang kembali ketika aku melihatmu di dalam kelas yang sama denganku. Dan yang ketiga kalinya, jantungku bahkan berdebar lebih kencang saat tanpa sengaja kamu menabrakku di lorong waktu itu. " ucap Agam sambil tersenyum mengingat hal dulu.
" Dan saat itulah aku yakin, jika aku memang mencintaimu. " lanjutnya lalu mengecup puncak kepala Paris.
" Terima kasih. Karena sudah mencintaiku. " ucap Paris malu-malu. Dan di sambut dengan senyuman oleh Agam.
" Boleh aku bertanya sesuatu? Sesuatu yang sedari dulu ingin aku tanyakan. " tanya Agam.
" Hem? " Paris mendongakkan kepalanya. " Apa itu? Tanyakan saja. "
" Mmm... Sebenarnya, hubungan macam apa yang terjalin antara dirimu dan Azkara? "
Paris tersenyum, lalu kembali memeluk erat tubuh Agam.
" Dia sahabatku. Sahabat yang aku miliki semenjak kelas tiga SD. Dia selalu ada di sampingku dalam keadaan apapun. " jawab Paris. Mendengar jawaban Paris, hati Agam sedikit perih. Cemburukah dirinya? Jawabnya adalah iya. Agam memang cemburu dengan kedekatan Paris dan Azkara semenjak dulu.
" Coba saja aku lebih dulu bertemu denganmu. Aku juga akan selalu ada di sampingmu. " gerutu Agam.
" Tentu saja aku cemburu. Siapa yang tidak cemburu melihat kedekatan kalian. Kalian bahkan seperti perangko. Kemana-mana selalu bersama. " jawab Agam kesal dan Agam memalingkan muka.
Cup
Paris mengecup sekilas dagu Agam. Lalu ia tersenyum, dan kembali memeluk tubuh Agam.
" Azkara memang sahabatku semenjak kecil. Dia selalu melakukan apapun untukku. Hanya satu yang tidak bisa dia lakukan untukku. " ucap Paris sengaja membuat Agam lebih kesal.
" Apa? " tanya Agam ketus.
" Dia tidak bisa menikahiku. " jawab Paris dan membuat Agam terkejut dan mengerutkan keningnya.
" Saat Daddy menjodohkan kita, aku berusaha menolak. Tapi Daddy bilang, aku tidak usah menikah denganmu kalau aku bisa menemukan laki-laki lain yang mau menikahiku. Dan saat itu, yang ada di pikiranku hanya Azkara. " ucap Paris. Agam hanya terdiam mendengarkan dengan hati yang memanas.
" Tapi ternyata dia tidak mau menikahiku. " lanjut Paris sambil tersenyum, lalu ia mengelus wajah Agam yang terlihat mengeras.
" Bukankah dia juga mencintaimu? " tanya Agam.
" Iya. Dia mencintaiku. Tapi cintanya tidak lebih besar dari cintamu. Buktinya, kamu menikahiku. Tapi dia menolak menikahiku. " jawab Paris dengan tangan yang masih berada di pipi Agam.
" Kenapa kamu begitu ingin menolak menikah denganku dulu padahal kamu bilang kalau kamu mencintaiku semenjak pertama melihatku? "
__ADS_1
" Mmmmm... Karena gengsi yang pertama. Lalu yang kedua, aku selalu ingin mengingkari perasaan kepadamu mulai ketika kamu menyatakan cinta kepadaku saat malam di puncak waktu itu. "
" Kok bisa? "
" Entahlah. " jawab Paris sambil mengendikkan bahunya. " Aku merasa aneh ketika laki-laki yang aku sukai menyatakan cinta kepadaku. Aku merasa itu tidak benar. Aku merasa seakan aku di tipu. Ah.... Entahlah... Susah untukku menjelaskan perasaanku waktu itu. " jelas Paris sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Agam kembali.
" Lalu sekarang? Apa perasaanmu juga masih ' Aneh ' ? " tanya Agam sambil menekan kata aneh.
Paris menggeleng. " Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mau melakukan seperti yang semalam jika aku masih merasa aneh. Aku mencintaimu. Dan aku sudah mengakui itu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin kamu jauh dariku. " ujar Paris dengan malu-malu.
" Apa sekarang mau mengulang lagi seperti yang semalam? Sepertinya olahraga pagi lebih nikmat dan indah rasanya daripada yang semalam. " goda Agam dengan tangan yang sudah mengelus punggung telanjang Paris.
" Oh, no. Lihat, sudah jam berapa sekarang. Kita harus segera mandi. Kalau tidak, kita bisa ketinggalan sholat subuh seperti kemarin. " jawab Paris sambil menjauhkan tubuhnya dari Agam dan hendak beranjak.
Agam mencekal lengannya. Lalu Paris menoleh hendak memprotes.
" Tapi setelah itu, satu ronde untuk yang terakhir sebelum kita meninggalkan kamar hotel yang super mewah ini. " ucap Agam sambil mengerlingkan matanya.
" Entahlah. " jawab Paris sambil mengendikkan bahunya dan tersenyum. Lalu ia berdiri sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
" Hei, kenapa kamu menarik selimutnya? Apa kamu sengaja ingin melihat ularku? " goda Agam. Dan sontak, Paris menoleh ke belakang.
" Ular apa? Di mana ada ular? Jangan bercanda kamu. Masak di hotel sebagus ini ada ularnya. " cerca Paris dengan panik. Karena Paris memang paling takut dengan hewan melata satu itu.
Agam tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Paris.
" Sayang... Bukankah kamu sendiri kemarin yang mengatakan jika adik kecilku ini adalah ular? " goda Agam sambil menunjuk ke arah bawah perutnya yang terpampang bebas karena selimut yang semenjak tadi menyelimutinya di bawa oleh Paris.
Seketika Paris memandang ke arah yang di tunjuk oleh suaminya. Sontak wajahnya langsung memerah. Antara malu dan panas. Ia lalu mengalihkan pandangannya.
" Kenapa tidak kamu tutup? " pekiknya.
" Hei, kamu yang membawa tutupnya. Kau menarik selimut yang sedari tadi menutupinya. " sahut Agam lalu ia pun beranjak dari ranjang.
Mendengar ucapan Agam, Paris melihat ke arah selimut yang ia gunakan untuk melilit tubuhnya. Ya Tuhan... kenapa Paris jadi begitu bodoh begini. umpatnya malu.
" Kita mandi bersama supaya lebih cepat. Karena sudah jam lima. " ucap Agam sambil memeluk tubuh Paris dengan tubuh polosnya. Seketika Paris langsung menggelengkan kepalanya kasar.
" Tidak... Tidak... Nanti tidak akan cepat selesai mandinya. Karena seperti di novel-novel punya teman aku yang aku baca, jika suami istri mandi bersama itu bukan semakin cepat. Tapi malah akan semakin lama. Karena mereka akan bercinta dulu. " ucap Paris polos.
" Ha... ha... ha... " Agam tertawa dengan kepolosan istrinya. Ketika Agam melonggarkan pelukannya karena tertawa, Paris menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Agam hanya memandang pintu kamar mandi yang telah tertutup dengan tertawa.
Mulai sekarang, kehidupannya pasti akan lebih berwarna. Pikir Agam.
bersambung
__ADS_1