
Dua bulan telah berlalu. Kini kandungan Ratu dan Paris sudah menginjak lima bulan. Arvin mengajak Ratu pulang ke Indonesia karena Ratu selalu merengek meminta pulang ke rumahnya. Ia ingin melahirkan di tanah kelahirannya dengan di temani mommy tentu saja.
Ratu sudah mengambil cuti kuliahnya lebih awal. Sedangkan Arvin, karena ia masih ada kuliah selama dua bulan sebelum masa liburan musim dingin datang, ia harus rela sering pulang pergi dari Jakarta ke London.
Arvin tetap menjadi suami siaga meskipun selama kehamilan Ratu, Ratu selalu ingin berjauhan darinya, bahkan Ratu tidak pernah meminta makanan atau apapun yang berbau nyidam kepada sang suami. Membuat Arvin sering mengeluh. Dan untuk urusan ranjang, sudah tiga bulan Arvin berpuasa. Ia harus rela dan ikhlas bersolo karier.
" Kamu kenapa mukanya di tekuk begitu? Capek karena harus bolak-balik London Jakarta? " tanya Dion yang saat ini tengah berada di kediaman Seno bersama dengan istrinya.
" Ck. Buat Arvin, Jakarta London tiada artinya. Jauhnya tidak berasa kalau bisa ketemu sama Queen. " jawab Arvin sambil mendesah berat.
" Terus kenapa bang? Apa banyak pekerjaan yang tertunda karena kamu harus pulang ke Indonesia? Kalau iya, biar nanti ayah yang bicara sama Daddy Robert kalau kamu ingin fokus sama istri kamu. Kerjaan yang di London biar di handle sama Daddy sama asistennya. " tambah Leora.
" Bukan itu, ma. Masalahnya bukan karena London. Tapi masalahnya, ada pada anak Arvin. " keluh Arvin.
Semua yang mendengar mengernyitkan dahinya.
" Kenapa sama calon cucuku? " tanya Seno dengan suara sedikit panik. Armell langsung menggenggam tangan suaminya untuk menenangkannya.
" Si kecil nggak pa-pa, Dad... Cuma masalahnya, dia masih saja antipati sama Arvin. Masih saja nggak mau di deketin sama Daddy-nya. " ungkap Arvin dengan mimik wajah sedihnya. " Masak iya, Arvin cuma mau meluk aja, Queen langsung mual-mual. " lanjutnya. Dan akhirnya pecahlah tawa semua orang.
" Sepertinya anak kamu mau balasin dendam mamanya karena dulu kamu pernah meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. " ucap Seno di sela-sela tawanya.
" Dad.... Kok malah mojokin Arvin sih. " gerutu Arvin.
" Daddy mu bukan mojokin... Tapi bicara kenyataan. " sahut Dion dan kembali tawa menggelegar.
" Puasa berapa lama kamu bang? " kini Leora yang bertanya.
" Lama banget. Lebih lama dari puasa Ramadhan. Ada kalau tiga bulan ma. " keluh Arvin.
" Terus selama itu, kamu main solo aja? Di kamar mandi? " tambah Dion dan di jawabi anggukan oleh Arvin.
" Ha... Ha... Ha... " semua kembali tertawa.
" Bahaya nggak sih kalau Queen di kasih obat kayak yang uncle B kasih dulu buat si Paris? " tanya Arvin dan langsung di hadiah sebuah geplakan dari Seno.
__ADS_1
" Jangan asal kamu ya. Mau ikutan ide si sinting itu. " ucap Seno sambil menatap tajam ke Arvin.
" Ratu ngidam apa aja bang? " tanya Armell.
" Queen nggak pernah ngidam minta aneh-aneh mom. Dia nggak pernah pengen makanan yang susah buat di cari. Paling dulu pas awal-awal hamil, dia suka banget makan tofu. Tapi harus di restoran langganan kami. Nggak mau di tempat lain. Tapi udah satu bulan ini, Queen udah nggak suka sama tofu lagi. " jelas Arvin.
" Arvin kadang sampai bingung... Kenapa anak Arvin nggak pengen sesuatu dari Daddy-nya? " lanjut Arvin.
" Bang...... " suara Ratu terdengar dari dalam kamarnya di lantai dua. Semua orang yang ada di ruang keluarga menengok ke atas.
" Abaaaanggg.... " teriaknya lagi.
" Tuh, istri kamu manggil. Siapa tahu anak kamu pengen sesuatu dari Daddy-nya. " ucap Dion.
Arvin mengangguk, lalu ia segera berdiri dan berlari menaiki tangga.
" Abang... Kok lama sih? Abang ngapain di bawah? Abang ya... Emang nggak kangen sama Queen. Baru pulang dari luar negeri bukannya nemenin Queen di kamar, eh, malah di tinggalin. Abang emang udah nggak sayang sama Queen. " cerca Ratu saat Arvin baru masuk ke dalam kamar.
" Sorry, sayang. Abang di bawah sama mama, ayah, Daddy terus mommy. Ab- "
Duh. Salah lagi deh. batin Arvin.
Temperamen Ratu memang meningkat pesat ketika ia hamil. Ia akan sangat mudah emosi. Tapi itu hanya kepada suaminya.
" Maaf, sayang. Tadi Abang mikirnya, kamu kan nggak suka deket-deket sama Abang. Di London kan kamu jarang mau bertemu sama Abang. Jadi tadi, daripada kamu mual karena ada Abang, ya Abang ke bawah. Ngobrol sama mereka. " jelas Arvin dengan memelas.
" Itu kan di London. Kalau di sini kan belum tentu seperti itu. Udaranya aja udah beda. Model penduduknya juga beda. " sahut Ratu.
Arvin menghela nafas kasar. Ia harus menambah stok kesabarannya untuk menghadapi sang istri yang moodnya selalu saja cepat berubah.
" Iya, Abang minta maaf ya. Sekarang, kamu mau apa? Abang bakalan cariin. Abang bakalan beliin. " tawar Arvin.
" Ngapain mesti nyari. Ngapain mesti beli. Queen nggak mau sesuatu yang di beli kok. " jawab Ratu.
" Terus, kamu mau apa? " tanya Arvin.
__ADS_1
" Abang tutup dulu pintunya. " ucap Ratu sambil menunjuk arah pintu yang masih terbuka lebar dengan dagunya.
Arvin mengikuti kemauan istrinya. Ia berbalik, dan menutup pintu kamar itu.
" Sekalian di kunci aja. " tambah Ratu.
Arvin sedikit mengernyit. Ini masih sore, kenapa sang istri meminta pintu kamarnya di kunci. Tapi tak mau kena omel lagi, Arvin mengikuti kemauan Ratu. Ia memutar kunci.
Arvin sungguh terkejut kala ia membalikkan badannya, ia mendapati sang istri yang telah membuka daster hamilnya. Ratu hanya mengenakan bra dan ****** ********, sehingga perut buncitnya terlihat sangat seksi di mata Arvin.
Huh. Arvin menghela nafas kasar dan menelan salivanya susah payah. Cobaan apalagi ini. Kenapa di saat sang istri tidak mau di sentuh olehnya, kini malah membuatnya merasa panas dingin.
" Kamu... Kenapa buka baju? Nanti kalau masuk angin gimana? " tanya Arvin dengan suara beratnya.
" Sini deh bang. " panggil Ratu yang sudah duduk di atas ranjang.
Arvin mendekat. Dan Ratu mengulurkan baby oil ke Arvin.
" Aku baca di internet, kalau hamil bagusan me-massage payu-dara. Biar nanti ASI nya lancar keluarnya. Jadi Abang bantuin Queen ya. " pinta Ratu.
Arvin mengambil baby oil itu dengan pandangan ke arah dada sang istri dan beberapa kali menelan salivanya kasar. Ratu mulai membuka pengait br@nya, dan melepasnya.
Sial. Coba kalau si kecil minta di tengokin. Pasti gue bakalan sangat bahagia. gumam Arvin dalam hati.
Tapi tidak apa. Udah lama juga aku nggak pegang-pegang. Sepertinya, ukurannya makin besar. Pasti sangat pas di genggaman. Ah, siapa tahu habis gue massage, Queen jadi minta lebih. batin Arvin sambil tersenyum pelik.
Ratu menyandarkan punggungnya di headboard ranjang. Ia membuat posisi duduknya senyaman mungkin.
" Ini, gimana caranya? " tanya Arvin.
" Di pijat-pijat aja bang. Memutar searah jarum jam gitu. Sambil di pijat perlahan. " ucap Ratu memberi instruksi.
Arvin melumuri tangannya dengan baby oil untuk memulai pijatannya.
bersambung
__ADS_1