
" Badanku kok rasanya nggak enak gini ya??? Kok aneh gini... Nggak nyaman banget... " gumam Paris sambil mengusap - usap tengkuknya. Ia pun berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Sedangkan Agam, ia sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Ck... Mana gerah lagi. Katanya kamar presidential suite. Tapi kok AC nya nggak kerasa gini? " gerutu Paris kembali sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan mukanya.
Lalu ia berjalan ke dekat nakas, mengambil remote AC. Ia mengecilkan suhunya hingga tinggal 18 ° C.
" Nah, agak mendingan. Mungkin mesin AC nya mau rusak. Entar biar gue kasih tahu Agam aja deh. Biar dia bilang ke pengelolanya. Ini kalau ada orang menginap kan pasti kasih penilaian jelek ke hotel kakek ini. " ujar Paris sambil duduk di tepi ranjang menunggu Agam keluar dari dalam kamar mandi.
Tapi tak lama kemudian, Paris jadi makin gelisah. Tubuhnya terasa makin panas dan semakin aneh.
" Kok malah makin panas gini sih. Makin aneh juga rasanya tubuh gue. " gumam Paris sambil mengelus lehernya. Bahkan tangannya mengelus seluruh tubuhnya yang merasa ingin di sentuh.
" Apa karena gaun yang gue pakai terlalu ketat ya? Ah, gue buka aja deh. " ujarnya, lalu ia menaikkan gaun bagian bawahnya hingga di atas paha sehingga terlihatlah paha mulus nan putihnya.
" Ahhh.... Kenapa tubuh gue rasanya ingin di sentuh gini sih?? " desah Paris. Tangannya bertamasya kemana-mana. Ia juga meremas kedua gunung kembarnya sendiri.
" Ahhhh.... " desahnya lagi.
Gila. Ini gila. Apa yang terjadi dengan tubuhku? tanya Paris dalam hati.
Kini tangannya meraih resleting yang berada di punggungnya. Baru setengah jalan ia membuka resleting gaun yang ia kenakan, ia di kejutkan oleh bunyi pintu yang terbuka dari dalam.
Ceklek
Paris tidak meneruskan membuka resletingnya, dan mendongakkan kepalanya menatap ke arah kamar mandi. Tubuhnya terasa makin aneh ketika melihat pemandangan indah di depan pintu kamar mandi. Agam berdiri dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada di depan pintu kamar mandi sambil menutup pintu kamar mandi.
Paris memandang dalam-dalam pemandangan indah itu tanpa berkedip. Agam sampai di buat terkejut kala ia memutar pandangannya dan netranya bertemu dengan kedua netra biru milik istrinya. Netra biru itu menatap dirinya seperti alat pemindai barang.
Paris menatap seluruh tubuh Agam dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. Paris juga terlihat menelan salivanya dengan kasar, dan wajahnya pun terlihat memerah. Melihat keanehan yang terjadi pada istrinya, Agam berjalan mendekat.
" Paris, kamu kenapa? " tanya Agam sedikit menyadarkan Paris.
Paris memandang ke wajah Agam. Pandangannya tadi terfokus pada dada bidang milik suaminya, juga bawah perut suaminya.
" Aku.... Aku.... " Paris tidak mampu berkata-kata. Ia kembali menelan salivanya dengan kasar kala aroma musk mulai tercium dari Indra penciumannya. Aroma yang membuat tubuhnya terasa makin memanas seperti ada yang ingin ia keluarkan dari dalam. Agam telah berada di dekatnya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengecek kening Paris.
__ADS_1
Paris kembali menatap ke arah Agam dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Agam.
" Sayang... " panggil Agam sambil mengerutkan keningnya karena setelah ia cek, suhu tubuh Paris normal - normal saja.
Panggilan 'Sayang' yang di ucapkan Agam terdengar mendayu-dayu di telinga Paris.
Grep.... Cup....
Paris langsung menabrakkan dirinya ke Agam, mengalungkan kedua tangannya ke leher Agam, dan tangan kirinya bahkan menekan tengkuk Agam. Paris mencium dan ******* bibir Agam dengan sangat ganas.
Agam yang tidak siap dan tidak tahu jika istrinya akan berbuat seperti itu, sangat terkejut hingga ia hanya diam membatu sambil memelototkan matanya lebar-lebar. Bahkan kedua tangannya masih melayang di udara karena menahan tubuhnya supaya tubuhnya tidak terjengkang ke belakang.
Apa-apaan ini? tanya Agam dalam hati sambil mengernyit.
Setelah kehabisan oksigen, Paris melepas bibirnya dari bibir Agam. Kedua netra pasangan itu saling menatap. Dada Paris terlihat naik turun karena menahan hawa panas dalam tubuhnya dan karena ia menahan nafas dalam durasi yang cukup lama.
Sembari matanya menatap mata Agam, tangan Paris tidak tinggal diam. Dengan jari-jari lentiknya, ia mulai menyusuri dada telanjang milik suaminya. Dan tentu saja, pancingan yang sangat tepat. Tubuh Agam juga mulai memanas. Tapi akal sehatnya tetap bekerja. Agam meraih kedua tangan Paris yang tidak bisa diam.
" Paris, jangan memancing sesuatu yang akan membuatmu marah kepadaku nanti. " ucap Agam.
" Aku tidak akan marah. " bisik Paris persis di telinga Agam. Hembusan nafas Paris di telinga Agam, membuat Agam semakin tidak tahan.
Ia lalu memegang kedua bahu Paris, dan menjauhkan tubuh Paris dari tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya.
" Sebaiknya kamu cepetan mandi. Keburu malam. Kamu bisa masuk angin. " ucap Agam datar sambil membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Paris.
Melihat perlakuan dan sikap Agam yang menolaknya, membuat Paris semakin gemas dan tidak tahan untuk mengajak suaminya itu bergelut di atas ranjang. Tubuhnya sudah semakin memanas dan gelisah. Tubuhnya sudah sangat ingin di sentuh oleh suaminya.
Paris membuka seluruh resleting gaunnya yang tadi baru ia buka separo. Lalu ia berjalan mendekati Agam dengan gaun yang merosot bagian lengannya. Paris memeluk tubuh Agam dari belakang kala Agam hendak mengenakan kaosnya.
" Aku menginginkannya. " ucap Paris dengan suara parau karena menahan gairah sedari tadi.
Ucapan yang membuat Agam kembali terkejut. Ia menghentikan aksinya yang akan memasukkan kerah kaos ke lehernya.
" Aku menginginkanmu menyentuh tubuhku. " ucap Paris kembali karena suaminya hanya diam saja.
__ADS_1
Ya Tuhan... Anugerah apa celaka ini?? tanya hati Agam.
Agam melepas tangan Paris yang berada di atas dadanya, lalu ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Paris.
" Apa yang kamu katakan, Paris? " tanya Agam sambil menatap tajam ke mata Paris.
Paris menggigit bibirnya bagian bawah sambil membalas tatapan suaminya.
" Aku menginginkanmu menyentuh tubuhku. " jawabnya.
" Paris, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? " tanya Agam kembali. Dan Paris mengangguk.
Agam jadi teringat apa yang di katakan oleh Daddy Bryan tadi di bawah. ' Daddy berpesan, nanti lakukan dan ikuti semua apa yang di minta istrimu, oke? Jangan pernah mencoba untuk menolak kalau kamu ingin jadi suami putriku selamanya'
Apa ini yang di maksud Daddy tadi? Apa Daddy sama bunda merencanakan sesuatu? tanya Agam dalam hati.
" Paris, apa kamu yakin? " tanya Agam, dan Paris mengangguk.
" Kamu tidak akan marah kepadaku besok pagi? " tanyanya lagi. Dan lagi-lagi, Paris menggeleng.
" Kamu tidak akan menyesalinya? " tanya Agam kembali.
Kesal dan tidak sabar karena Agam terus berbicara dan bertanya, Paris berinisiatif meraih tengkuk Agam dan mencium bibir suaminya itu. Paris ******* bibir seksi Agam dengan ganas. Dan apalah daya Agam yang juga laki-laki normal. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merasakan bagaimana nikmat dan indahnya malam pengantin meskipun pernikahannya sudah lewat dari satu tahun yang lalu.
Agam membalas luma-tan Paris dengan tak kalah hebatnya. Ia meraih tengkuk istrinya sambil menggiring Paris menuju ke ranjang yang entah atas permintaan siapa, ranjang itu di hias sedemikian rupa seperti ranjang pengantin.
Agam mengungkung tubuh Paris di bawahnya tanpa melepas pagutannya. Tangannya - pun tidak tinggal diam. Ia meraih, menyentuh semua yang ingin dan diinginkan Paris untuk di sentuh. Dan terjadilah apa yang terjadi seharusnya di antara mereka semenjak satu tahun yang lalu.
Suara era-ngan dan desa-han dari kedua insan manusia itu saling bersaut-sautan. Dan akhirnya sebuah teriakan dari keduanya pun terdengar saat Agam mulai memasukkan apa yang harus segera di masukkan untuk menyempurnakan status mereka.
Paris berteriak kesakitan di area bawahnya karena benda tumpul tapi besar menerobos masuk. Sedangkan Agam berteriak kesakitan karena Paris menghujam lengannya dengan kuku panjangnya. Tapi setelah seperkian menit, teriakan itu berubah menjadi desa-han kembali. Dan akhirnya terdengarlah teriakan mencapai puncak yang di raih oleh keduanya.
Bermandikan peluh, Agam menggeser tubuhnya ke samping tubuh sang istri yang telah terkulai lemas tak berdaya setelah sesi panjang mereka. Ia meraih tubuh Paris dan memeluknya erat setelah sebelumnya ia mengecup keningnya.
Apa yang akan terjadi esok, mari kita pikirkan dan hadapi saja. Yang penting sekarang, dia telah seutuhnya menjadi milikku. ucap Agam sambil tersenyum puas.
__ADS_1