
Ratu memejamkan mata menikmati pijatan suaminya. Sedangkan sang suami, hanya menelan salivanya dengan susah payah menahan hasrat yang lama tidak tersalurkan dengan benar.
Ratu begitu menikmati pijatan sang suami, sampai hingga entah Arvin menyadarinya atau tidak, jari Arvin malah memijat puncak dada sang istri. Membuat Ratu melenguh kenikmatan.
" Mmmppphhhh... Ssshhhh.... " de-sahan keluar dari mulut Ratu. Tubuhnya mulai bereaksi, menggeliat dan terasa memanas.
Arvin yang melihat reaksi sang istri, tersenyum tipis tapi syarat dengan makna. Ia memajukan wajahnya, lalu mendaratkan bibirnya ke atas bibir sang istri perlahan. Mencoba satu detik, dua detik, tidak ada penolakan dari sang istri. Arvin kemudian ******* bibir sang istri dengan penuh ga-irah.
Ratu menikmati bahkan membalas perlakuan Arvin. Ia membalas setiap luma-tan bibir sang suami di bibirnya. Ratu bahkan sudah mengalungkan kedua tangannya ke leher Arvin. Arvin bersorak gembira dalam hati karena akhirnya sebentar lagi, ia bisa merasakan kembali kenikmatan bersama istrinya.
Arvin mengangkat sedikit tubuh Ratu dan ia rebahkan sempurna di atas tempat tidur. Lalu ia mengungkungnya di bawahnya dengan ia menahan tubuhnya supaya tidak menindih perut sang istri.
Arvin menjeda kegiatannya untuk melepas pakaiannya. Arvin berpikir, ia harus melakukan semuanya dengan cepat karena ia khawatir sang istri akan berubah pikiran.
Setelah melepas pakaiannya hingga menyisakan tubuh telan-jangnya, Arvin kembali menyerang Ratu dengan buas layaknya seekor harimau yang tidak di beri makan daging selama berbulan-bulan.
" Mmmppphhhh... Uhhhh... " desah dan desis Ratu di sela-sela rasa nikmat yang ia rasakan karena ulah sang suami.
" I love you, Queen. " ucap Arvin di sela-sela ciu-mannya.
Ratu mencengkeram rambut Arvin kala lidah dan mulut Arvin bermain di pucuk dadanya. Hingga membuat Ratu memelentingkan tubuhnya.
" Ab-banghhh... Ahhhh..... " racau Ratu.
" Sayaaaanggg.... " racau Arvin. Rasa di tubuhnya sudah semakin menggelora. Adik kecilnya juga sudah semakin memberontak ingin segera masuk ke dalam sarangnya setelah sekian bulan tidak bersemayam di dalam sarang.
Arvin mencium perut buncit Ratu sebelum mengarahkan adik kecilnya ke pintu gerbang.
" Sayang, aku masuk sekarang ya? " Ijinnya ke sang istri.
Ratu membuka matanya lalu bertanya, " Masuk kemana bang? "
" Tuh. " jawab Arvin sambil menunjuk ke arah adik kecilnya yang sudah siap tempur.
Ratu mengikuti arah petunjuk Arvin. Seketika ia langsung menutup sarangnya dengan cepat dan beringsut duduk bersandar di headboard.
__ADS_1
Ratu menggeleng, " Baby kita sepertinya belum mau bertemu sama Daddy-nya. " ucapnya santai.
" What??? Tapi sayang... Ini udah nanggung. " keluh Arvin. Tapi Ratu tetap menggelengkan kepalanya. Ia malah segera meraih ****** ***** serta br@ yang berada di pinggir ranjang lalu memakainya.
" Sayang... Masak kamu nggak kasihan sama aku?? Lihat nih, dia udah keras gini yang. " rengek Arvin.
" Kan abang sendiri tadi yang mulai. Siapa suruh abang jarinya natckal. " sahut Ratu.
" Bentar doang yang. Dia kangen masuk ke dalam sarangnya. Udah tiga bulan loh aku bermain solo terus-terusan. " rengek Arvin seperti anak kecil. Ia mencoba membujuk sang istri.
" Abang, bukannya Queen nggak mau. Tapi baby kita yang melarang. " jawab Ratu lalu ia turun dari atas ranjang, mengambil daster hamilnya di atas sofa lalu keluar dari dalam kamarnya tanpa dosa sedikitpun.
Arvin memandangi istrinya dan adik kecilnya bergantian. Setelah sang istri menutup pintu kamar kembali setelah ia keluar, tubuh Arvin melemas.
Perlahan ia turun dari atas ranjang, lalu dengan langkah gontai dan tangan kirinya memegang adik kecilnya yang masih menegang, berjalan menuju ke kamar mandi.
Sampai di dalam kamar mandi, Arvin menuangkan sabun cair milik sang istri ke atas telapak tangannya.
" Huh. Maafkan kakak ya. Kali ini kakak belum berhasil membawamu masuk ke dalam sangkar. Pemilik sangkar sepertinya masih belum bisa di jinakkan. Sementara, kita selesaikan urusan kita dengan sabun ini. Oke?? " gumam Arvin berbicara dengan adik kecilnya. Lalu ia mengarahkan tangan kirinya yang sudah ia tuangi sabun ke adik kecilnya.
_ _ _
Setelah selesai mandi ritualnya, Arvin keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai satu. Di ruang makan, nampak semua keluarga juga Dion dan Leora sudah berkumpul di meja makan. Melihat Arvin datang, semua mata mengarah ke arahnya dengan pertanyaan yang ada di otak mereka masing-masing.
" Habis mandi bang? " tanya Leora. Arvin mengangguk sambil meletakkan panta-tnya di atas kursi di sebelah sang istri.
" Kok mukanya di tekuk gitu bang? " tanya Dion sambil menahan tawanya karena sepertinya ia tahu apa yang barusan terjadi.
" Ck. " Arvin menjawab dengan decakan malas.
" Main solo lagi bang? " kali ini Seno yang bertanya.
Arvin memandang sang Daddy mertua dengan pandangan malas.
" Ha... Ha... Ha.... " Seno dan Dion tertawa bersamaan. Armell dan Leora hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami mereka.
__ADS_1
" Ratu, jangan terlalu lama menyiksa suami kamu. Kasihan kalau harus bermain solo terus. Nyesek sayang rasanya. " ucap Seno.
" Maksud Daddy apaan sih? Kapan Ratu menyiksa abang? " tanya Ratu dengan raut wajah tidak pahamnya.
" Kamu membiarkan ular kobra suamimu berpuasa selama tiga bulan. Bukankah itu kebangetan, sayang? Dulu Daddy saja hanya berpuasa empat puluh hari setelah mommy melahirkan kak Dan sama kamu. " sahut Armell.
" Tapi kan Ratu nggak sengaja mom. Anak dia aja yang nggak pengen di tengokin sama abang. Tadi aja udah hampir masuk, tiba-tiba si kecil menolak. Ya... Ratu kan hanya mengikuti kemauan si kecil. " jelas Ratu tanpa malu.
" Pfft.. " semua orang yang ada di ruang makan itu menahan tawanya.
Dion menepuk pelan pundak Arvin dan berkata, " Sabar, Vin. "
" Ratu, meskipun anak kamu tidak mau, tapi kamu tetap bisa berusaha memaksa supaya dia mau. Kamu sebagai seorang istri itu punya kewajiban untuk melayani suami kamu. Jika tidak, kamu berdosa, sayang. " lanjut Armell menasehati sang putri sambil mengelus perut Ratu.
Ratu mengangguk lalu melirik ke arah Arvin yang sepertinya sedang tersenyum tipis.
" Ck. " Ratu berdecak perlahan kala melihat senyuman tipis sang suami.
" Bagaimana malah jika seandainya suami kamu mencari kenikmatan di tempat lain? Iya kalau ia pergi ke klub lalu membayar wanita bayaran. Lah kalau dia malah mencari wanita lain dalam artian yang sebenarnya bagaimana? " lanjut Armell kembali.
Ratu langsung menatap tajam ke arah Arvin.
" Abang mau selingkuh? Langkahi dulu mayatku!! " ancam Ratu sadis dengan nada bicara super tegas.
Semua yang ada di sana menepuk jidatnya sendiri, sedangkan Arvin di buat bingung. Arvin memang selalu di buat bingung di saat istrinya sudah menunjukkan taringnya. Taring Ratu semakin tajam semenjak dirinya hamil.
" Sayang, bukan. Abang nggak kayak gitu. " ucap Arvin sambil melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri di depan dadanya.
" Sumpah, beneran. Abang nggak pernah punya pikiran mau selingkuh. Cukup satu aja perempuan dalam hidup abang. Yaitu kamu. Nggak akan pernah ada yang lain lagi. " rayu Arvin.
" Beneran? Beneran nggak ada perempuan lain di hati Abang ?" tanya Ratu. Dan Arvin langsung mengangguk.
" Terus, kalau anak Abang perempuan gimana? Abang nggak menyayangi dia? " lanjut Ratu.
" Ya ampun nak... Kamu belum lahir aja, Daddy kamu udah bilang kalau kamu nggak ada dalam hidupnya. " ucap Ratu mendramatisir keadaan sambil mengelus perut buncitnya. Semua orang yang ada di ruangan itu menggelengkan kepalanya, dan Arvin menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
bersambung