Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Maunya jadi pacar kamu


__ADS_3

Paris beranjak dari duduknya.


“ Mau kemana lo Ris? “ tanya Jojo.


“ Mau bo*ker. Mau ikutan lo? “ jawab Paris enteng. Mereka masih berada di camp. Paris masih berada di tempat yang tadi. Tapi bedanya, Azkara sudah tidah berada di sampingnya. Tadi Azkara di panggil oleh panitia yang lain.


“ His, najis. OGAH! “ sahut Jojo.


Paris tertawa lantang melihat ekspresi Jojo. Ia melanjutkan langkahnya.


“ Hati-hati Ris! Toiletnya gelap. Awas kalau ada nini kunti. “ teriak Jojo yang di akhiri dengan tawa renyahnya. Paris menoleh sebentar sambil menatap Jojo horor dan mengacungkan salah satu jari tengahnya. Tapi bukannya takut, Jojo justru tertawa makin kencang.


“ Kenapa emangnya sama kunti? “ tanya Agam yang sedari tadi berada di dekat Jojo.


“ Paris itu, selain takut sama ular, dia juga takut sama gelap. Bukan pada kegelapannya dia takut. Tapi pikiran parno yang bikin dia takut. “ sahut Jojo, membuat Agam mengernyitkan dahinya.


“ Paris itu cewek paling tangguh dan pemberani yang pernah gue temui. Dia paling suka hal-hal ekstrim yang memacu adrenalin. Tapi lucunya, dia paling takut sama ular. Juga takut sama jurik. “


“ Emang dia pernah lihat hantu? “


“ Ya nggak pernah sih. Eh,pernah. Waktu kita-kita lagi jalan-jalan ke Ancol. Dan si Agus maksa kita semua buat masuk rumah hantu. Lo tahu gimana reaksinya waktu lihat suster ngesot? Dia langsung lemas sambil teriak sekencang-kencangnya. Untung si Azkara ikut. Pawangnya si Paris. “ cerita Jojo.


Setelah mendengar cerita Jojo, Agam segera berdiri dari duduknya.


“ Mau kemana lo? “ tanya Jojo.


“ Mau ke toilet. “


“ Mau stor juga lo? “


Agam hanya membalas dengan lambaian tangan. Ia tetap berjalan dengan sedikit terburu-buru. Mendengar cerita Jojo tadi, Agam menjadi khawatir. Toilet yang di tuju oleh Paris sering tiba-tiba mati lampu. Dan menurut cerita warga sekitar, di toilet itu sering terdengar suara-suara aneh.


Sampai di depan toilet, Agam berdiri di depannya. Ia melihat ke sekeliling toilet. Ada beberapa pintu yang tertutup dari toilet yang berjajar itu. Agam Cuma bisa menerka-nerka toilet mana yang di masuki Paris.


“ Ris…..Paris…” panggil Agam.


Ceklek

__ADS_1


Sebuah pintu kamar mandi terbuka dari dalam.


“ Siapa sih manggil-manggil? “ gerutu Paris sambil sedikit membenahi kaosnya.


“ Paris.” Panggil Agam kembali.


Paris menengadahkan wajahnya, baru ia mendapati siapa yang memanggilnya sedari tadi.


“ Kenapa? Lo ngapain di sini? Mau ke toilet juga? “ tanya Paris sambil berjalan mendekat ke Agam.


“ Kamu udahan di toiletnya? Katanya mau bo*ker? Kok cepet banget? “ tanya Agam.


“ Ni anak di tanya malah balik nanya. “ sahut Paris. “ Gue udah selesai. Gue Cuma kebelet pi*pis doang. “


“ Oh, ya udah. Ayo buruan pergi dari sini. “ ajak Agam sambil hendak meraih tangan Paris untuk di gandeng. Tapi Paris segera menyingkirkan tangannya.


“ Lo nggak mau ke toilet? “ tanya Paris dan di jawabi gelengan dari Agam. “ Nah, terus lo ngapain kemari kalau kagak mau ke toilet? “ tanya Paris.


“ Nyusulin kamu. “


“ What? Kenapa lo mesti nyusulin gue? “


“ Eits…Jangan becanda lo. Nggak lucu tahu becandaan lo. “ ujar Paris sambil tersenyum garing.


“ Beneran. Ta-“ belum sempat Agam meneruskan ucapannya, tiba-tiba lampu di belakang Paris mati. Paris menoleh sebentar, lalu ia segera menarik tangan Agam dan menarik Agam untuk berlari meninggalkan tempat itu. Agam yang menyadari jika saat ini Paris sedang menggandeng tangannya, hanya tersenyum tipis sambil terus mengikuti Paris yang berlari kencang.


Hosh…Hosh…Hosh…Bunyi nafas memburu dari dua anak manusia itu. Capek, tentu saja. Mereka habis berlari marathon tadi. Setelah berada cukup jauh dari toilet tadi, Paris menghentikan langkahnya. Ia melepas tangan Agam dan membungkuk memegang kedua lututnya sambil dengan nafas ngos-ngosan.


“ Duduk dulu. “ ajak Agam sambil menarik lengan Paris dan di bawanya ke sebuah bangku yang ada di dekat mereka. Paris menurut, dan mendudukkan dirinya di banagku tersebut. Kemudian Agam duduk di sebelahnya.


“ Capek? “ tanya Agam sambil memandang wajah Paris.


“ Lumayan. An*jir ya. Kenapa lo nggak bilang dari awal pas gue baru mau ke toilet? “ protes paris.


“ Emang kenapa? Kamu takut gelap? “


Paris menggeleng. “ Bukan gelap yang gue takutin. Gue takut ada jurik nongol. “

__ADS_1


“ Kamu takut sama hantu? “


Paris mengangguk.


“ Kenapa? Apa karena penampakan mereka yang menakutkan? “


Paris mengendikkan bahunya. “ Gue juga nggak tahu. Yang pasti gue mending harus berhadapan sama sepuluh preman ketimbang berhadapan dengan seorang genderuwo. Hiiiii…” ujar Paris sambil bergidik.


“ Seperti ketika kamu takut sama ular? “


“ Entahlah. Kalau sama ular, gue emang phobia sama binatang satu itu. Karena waktu kecil gue pernah di lilit sama ular dan gue ketakutan sampai pingsan. Mulai saat itu gue btakut sama ular. Kalau sama jurik, emang dari orok mungkin gue takutnya. Tapi wajar kali, kalau seorang perempuan takut sama jurik. “ cerita Paris panjang lebar. Baru kali ini Agam mendengar Paris mengeluarkan kalimat panjang saat bersamanya. Agam terus memandangi lekat wajah cantik Paris.


“ Ngapain lo mandang gue dari tadi? “ tanya Paris kala ia menoleh dan melihat Agam memandangnya dengan pandangan yang sama seperti pandangan Azkara kepadanya. Jantung Paris menjadi bertalu-talu dag dig dug.


“ Kamu cantik. Sayang jika kecantikan kamu terlewatkan begitu saja. “ ucap Agam bersungguh-sungguh.


Paris segera membuang wajahnya. “ Nggak usah sok gombal deh. Gue males di gombalin receh. “ sahut Paris.


“ Aku serius. “ jawab Agam. “ Kamu memang beneran cantik. Aku iri sama Azkara yang bisa begitu dekat sama kamu. Tapi aku nggak pengen seperti Azkara yang hanya menjadi sahabat kamu. “ lanjut Agam.


“ Jelas gue deket sama Azka. Gue bersahabat sama dia udah dari gue SD. “ sahut Paris. “ Dan lo, kalau lo nggak mau jadi sahabat gue, nggak masalah. Emang gue juga mau punya sahabat kayak lo? “


“ Aku maunya jadi pacar kamu. “ ucap Agam tanpa basa-basi. Karena seorang Agam Permana memang tidak suka terlalu basa-basi.


Mendengar Agam berucap seperti itu, Paris segera menoleh ke arahnya. Ia tersenyum sumbang. “ Lo dari tadi becandanya kelewatan. “


“ Aku serius. Aku cinta sama kamu dari semenjak pertama kali lihat kamu. Alasanku selalu bersama kamu, adalah karena aku mencintai kamu. Bahkan berada di jalanan ikut balapan liar, itu juga karena aku ingin dekat sama kamu. “ ujar Agam membuat Paris terdiam. Bukan karena ia bingung harus menjawab apa, tapi ia justru sedang bingung dengan hatinya.


Beberapa waktu yang lalu saat Azkara menyatakan cinta kepadanya, hatinya baik-baik saja. Tapi saat mendengar pernyataan cinta dari Agam, rasanya lain. Hatinya menjadi cenat cenut. Ada rasa senang, bahagia, juga ada rasa gelisah, takut, dan marah.


“ Paris Adorabella Ernest, aku cinta sama kamu. Aku tahu, momennya sangat tidak pas untuk menyatakan cinta. Apalagi tempatnya. Sangat nggak banget. Tapi aku hanya menggunakan kesempatan yang ada.” Lanjut Agam. “ Paris, apa kamu mau memberiku kesempatan untuk menunjukkan rasa sayang dan cinta aku ke kamu? Kamu mau nggak jadi pacar aku? “ tanya Agam.


Tanpa memberikan jawaban apapun, Paris segera berdiri dari berjalan dengan cepat meninggalkan Agam termangu di bangku itu.


Gila, kesambet apa gue hari ini. Bagaimana bisa ada dua cowok nembak gue di malam uang sama? Apa ada jurik di sekitar sini ya? Batin Paris sambil terus berjalan kembali ke camp.


Bersambung

__ADS_1


Hai...hola...halo... epribadeh... othor cuma mau kasih dikit inpoh nih... insyaallah tiap hari Minggu, othor bakalan double up... dan itu othor mulai hari ini yah.... so, stay tune...oke...😘😘


__ADS_2