
Arvin tidak percaya adiknya begitu susah untuk di taklukkan. Sudah satu minggu dirinya berada di rumah Daddy Seno untuk bisa kembali dekat dengan Ratu. Tapi semua usahanya sia-sia. Ratu tetap tidak mau bicara dengannya. Ratu selalu menghindari momen berdua dengannya.
Untuk berangkat dan pulang sekolah, Ratu memilih berangkat dengan Paris dan pulang di antar oleh temannya, ataupun di antar oleh teman Paris. Arvin merasa sangat frustasi. Ia menyesali keputusannya yang kemarin dulu ingin menjauhi Ratu. Ternyata dia sama sekali tidak sanggup jika ia harus berjauhan dengan Ratu hatinya.
Brak
Sebuah pintu kamar terbuka dari luar. Sungguh keberuntungan bagi Arvin. Malam ini, sepertinya Ratu lupa untuk mengunci pintu. Dengan senyum tipis yang mengembang, Arvin masuk ke dalam kamar Ratu dengan perlahan. Sepertinya si pemilik kamar sudah berada di alam mimpinya.
Ratu tertidur lelap di atas ranjang queen sizenya dan terbalut dengan selimut tebalnya. Udara dingin menyeruak malam ini karena di luar hujan sedang turun dengan deras.
Arvin kembali menutup pintu dengan perlahan kemudian melangkah menuju tempat Queennya tertidur. Perlahan, Arvin duduk tepi ranjang samping Ratu. Arvin menyibak rambut yang menutupi sebagian pipi Ratu yang sedang terlelap.
“ Queen, dengan cara apalagi aku harus membawamu kembali seperti dulu? Kenapa kamu jadi keras kepala begini? Aku sangat merindukanmu my Queen. “ gumam Arvin pelan sambil membelai pipi Ratu lembut.
“ Kau begitu cantik, My Queen. Bagaimana aku tidak jatuh cinta sama kamu kalau kamu begitu cantik begini? Queen, you are a queen of my heart. “ perlahan, Arvin mendekatkan bibirnya ke dahi Ratu. Dan perlahan, ia memberikan satu kecupan di sana. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba…Jeddeeerrr….guntur menggelegar.
“ Mommy….Ratu takut…” racau Ratu dalam tidurnya. Tanpa sadar, ia meraih tangan Arvin dan memeluknya.
Kedua sudut bibir Arvin melengkung. “ Kamu masih saja takut dengan petir, my Queen? Petir tidak akan menggigitmu. Kenapa kamu harus takut? Hm? “ ujar Arvin sambil membelai puncak kepala Ratu.
Tiba-tiba, sudut mata Ratu mulai berkedut tanpa Arvin sadari. Perlahan, mata indah itu terbuka. Dan saat mata itu terbuka, ia memicing ssesaat memastikan penglihatannya. Setelah ia mendapatkan pandangan yang jelas, Ratu langsung melotot, membuka matanya lebar-lebar. Ia bahkan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
“ Ngapain abang di sini? “ tanyanya sarkas.
Arvin yang terkejut karena tiba-tiba Ratu terbangun, berusaha menghilangnkan kegugupannya.
“ Queen tanya sama abang, kenapa diam saja? Ngapain abang di kamar Queen? “ Ratu kembali bertanya ke Arvin.
“ Ab-abang mau tidur di sini. Nemenin kamu. Di luar lagi hujan deras. Ada petir juga. Kamu kan takut sama petir. “ jawab Arvin beralasan.
“ Cih. Kita udah bukan anak-anak lagi kalau abang lupa. Tidak pantas jika kita tidur berdua dalam satu kamar yang sama. “ sahut Ratu masih dengan nada ketusnya.
“ Abang tahu kita udah sama-sama dewasa. Tapi petir terus menggelegar. Apa kamu tidak takut? “
__ADS_1
Ratu tersenyum sinis. “ Bukankah abang dulu juga menolak untuk menemani Queen tidur saat ada hujan badai? Abang bilang kita tidak boleh tidur bersama lagi. “ Jawaban telak dari Ratu mmembuat Arvin kicep.
Arvin jadi kembali teringat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika malam-malam hujan juga turun dengan derasnya dan petir menyambar-nyambar.
“ Abang….Queen mau bobok di kelonin sama Bang Ar….” Rengek Ratu malam itu sambil bergelayut manja di lengan Arvin.
“ Queen kan bisa bobok sendiri. Biasanya juga gitu. “ jawab Ratu.
“ Tapi malam ini Queen mau tidur di temenin abang. Di luar lagi hujan deras. Ada petirnya juga. Queen takut, bang…” ratu kembali merengek sambil menatap mata Arvin dari samping.
“ Queen, abang udah dewasa…Queen juga sudah beranjak dewasa…Kita tidak boleh tidur dalam satu ranjang lagi seperti waktu Queen masih kecil. “ Arvin berusaha memberi pengertian.
Ratu melepas lilitan tangannya di lengan Arvin dengan kasar, berdiri dari duduknya dan berlalu sambil menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan Arvin yang hanya bisa menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Arvin menghela nafasnya panjang setelah mengingat kejadian itu. Yah, dirinya memang pernah berkata seperti itu sama Queennya.
“ Maaf. “
“ Abang kenapa dari kemarin minta maaf mulu? Capek Queen dengernya. Mending abang cepetan keluar dari kamar Queen. Queen mau bobok. Ngantuk. “ ucap Ratu pedas sambil hendal membaringkan tubuhnya kembali.
“ Abang mau ngapain? “
“ Tidur. Kan abang tadi udah bilang, malam ini abang mau nemenin Queen tidur. “ jawab Arvin dengan santainya.
“ NGGAK.” Jawab Ratu penuh penekanan.
“ Queen…” Arvin mencoba untuk membujuk. Ia sudah memasang wajah memelas.
“ Keluar abang! “ ucap Ratu kembali memotong ucapan Arvin sambil menunjuk ke arah pintu.
“ Queen…”
“ Queen bilang, abang keluar dari kamar Queen sekarang! “ ucap Ratu tak terbantahkan.
__ADS_1
“ Queen ngusir abang nih ceritanya? “ tanya Arvin masih mencoba bersabar menghadapi sifat keras Queennya.
“ IYA !” jawab Ratu tegas.
Arvin menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia kembali merasa di tolak. Hatinya begitu terasa perih. Arvin memejamkan matanya sesaat, lalu kemudian membukanya kembali.
“ Abang akan keluar. Tapi setidaknya, kasih waktu sama abang untuk memberi penjelasan. Ab… “
“ Queen ngantuk!” lagi-lagi Ratu memotong ucapan Arvin. “ Abang nggak perlu jelasin apa-apa. Karena Queen udah ngerti dan paham semuanya. “ Ratu merebahkan tubuhnya membelakangi Arvin. Ia mengangkat selimutnya tinggi-tinggi.
“ Jangan lupa tolong tutup pintunya kembali. “ tambah Ratu.
Arvin menghela nafas kasar sambil memejamkan matanya. Sepertinya malam ini ia harus kembali mengalah dan bersabar. Queennya sedang benar-benar marah sama dia. Arvin beranjak dari atas ranjang Ratu. Ratu yang merasakan ada pergerakan di ranjangnya, sedikit melirikkan matanya meskipun ia tidak melihat, tapi ia tahu jika abangnya sudah berdiri dari ranjangnya.
“ Abang keluar sekarang. “ pamit Arvin. Satu detik, dua detik, tiga detik Arvin menunggu, tidak ada jawaban maupun pergerakan dari Ratu. Ia kembali menghela nafas.
“ Besok abang antar ke sekolahnya. “ ucap Arvin sebelum keluar dari dalam kamar Ratu.
“ Queen besok libur. “ jawab Ratu.
Arvin mengernyit. “ Jangan membodohi abang lagi. Mana ada sekolah libur di hari Senin. Mana bukan tanggal merah lagi. “ sahut Arvin.
“ Kelas XII ujian sekolah. Kalau abang nggak percaya, cek aja ke sekolah. Tanya sama kepala sekolahnya. Atau sekalian tanya sama ketua pengurus yayasannya. Beneran libur apa nggak. “ jawab Ratu masih tetap membelakangi Arvin.
“ Ya udah kalau besok libur, kita jalan-jalan besok. Ke pantai? Atau ke mall? “ tawar Arvin.
“ Nggak, makasih. Queen lagi mager. “
Huh. Entah sudah berapa kali Arvin menhembuskan nafas dengan kasar. Arvin tahu, ia tidaka akan bisa membujuk Ratu malam ini. Akhirnya ia memutuskan keluar dari kamar Ratu.
Ceklek
Bunyi pintu di tutup. Kini Ratu menghela nafas lega setelah Arvin keluar dari dalam kamarnya. Sedari tadi ia sudag gugup bukan main. Bahkan detak jantungnya juga sudah tidak terkontrol. Ratu kembali merasa takut, jangan-jangan ia sedang mengidap penyakit serius. Ratupun memutuskan besok ia akan datang ke klinik ontynya dan memeriksakan dirinya.
__ADS_1
Bersambung