Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Mencetak berapa gol


__ADS_3

Maaf ya genkssss.... Kemarin nggak sempat nulis....🙏🙏🙏


_____________________________________


Pagi-pagi sekali, dua pasangan pengantin yang masih baru, dan yang baru belah duren setelah sekian lama, pulang ke rumah keluarga mereka masing-masing.


" Pagi Dad... Mom... " sapa Arvin dan Ratu bersamaan kala mereka memasuki rumah.


" Pagi, sayang. " jawab Armell dan Seno.


" Udah pada sarapan? " tanya Armell.


" Udah mom tadi di hotel. " jawab Arvin.


" Bang, mom, Dad, Ratu mau ke kamar sebentar naruh tas sekalian ganti baju. " pinta Ratu. Semua menganggukkan kepala. Arvin ikut duduk di sofa bersama dengan mertua rasa orang tuanya.


" Sudah mencetak berapa gol? " tanya Seno sambil menepuk pundak Arvin.


" Banyak Dad. " jawab Arvin sambil terkekeh.


" Daddy dengar, si Paris sama Agam juga bertanding mencetak gol kemarin. " ujar Seno kembali.


" Yes, Dad. "


" Menang tim kalian apa timnya si Permana? "


" Mana Arvin tahu Dad. Kita tanding di lapangan yang berbeda. " jawab Arvin tak kalah asal.


" Kalau mau tau siapa yang menang, tunggu bulan depan. Siapa dulu yang berhasil menghasilkan kecebong super duluan. Tim Arvin, apa tim Agam. " sahut Armell.


" Jangan sampai kamu kalah sama keturunan si Ernest. Daddy dulu hanya beberapa kali mencetak gol, jadi deh almarhum kakaknya si Danique. Pokoknya Daddy nggak mau tahu, kamu harus bisa buat si Ratu hamil. Biar Daddy punya cucu lebih dulu. " ucap Seno.


" Dih, Daddy... Punya cucu bangga. Daddy nggak sadar, kalau punya cucu berarti Daddy udah tua. " sahut Danique yang tiba-tiba muncul dari belakang bersama dengan Najwa, putri dari Damar dan Imelda yang sekarang sudah resmi jadi kekasih Danique.


" Sini, Wawa. Duduk deket mommy. " panggil Armell ke Najwa yang biasa di panggil Wawa.


Najwa mengikuti kehendak sang calon mertua untuk duduk di sebelahnya.


" Daddy punya cucu. Tapi Daddy tetep masih muda. Orang-orang pasti bakalan kagum lihat Daddy yang di panggil opa, tapi masih seperti papa bagi cucu Daddy. " bela Seno tak terima di bilang tua oleh sang anak.


" Jangan suka iri kak. Iri tanda tak mampu. " seloroh Ratu yang baru turun dari tangga. Ia pun duduk di sebelah sang suami.

__ADS_1


" Siapa yang iri? Lagian, apa yang kakak iriin? " bela Danique.


" Kakak pasti iri.... Ratu udah punya suami. Tapi kakak belum punya istri. " ledek Ratu.


" Eh, bocah - " omongan Danique di potong oleh Ratu


" Siapa yang bocah. Kakak jangan manggil Ratu bocah ya. Ratu sekarang udah bisa bikin bocah loh. Kakak aja belum bisa. " ledek Ratu kembali.


" Dasar. Dengerin kakak. Kamu itu buru-buru di nikahin sama bang Ar, tahu nggak kenapa? "


" Kenapa emang? "


" Karena Daddy sama mommy pengen cepet punya cucu. "


" Apa? Cucu? Maksudnya, Ratu hamil gitu? " tanya Ratu agak terkejut.


" Ya iyalah. Hamil, alias bunting. Memproduksi cucu buat Daddy sama mommy. " jelas Danique.


" Dad? Mom? Beneran kayak gitu? Ratu kan pengen ngelanjutin sekolah. Ratu pengen kuliah kayak kakak. Masak Ratu cuma lulusan SMA. Malu dong nanti sama anaknya. " protes Ratu sambil cemberut.


" Queen... Nggak gitu. " ucap Arvin mencoba merayu sang istri yang merajuk.


" Nggak gitu, terus gimana? Abang pasti joinan sama Daddy sama mommy. Pantesan aja dari habis nikah Abang ngajakin main gerobak sodor terus. Di kata Queen meja bilyar? Pengen di masukin mulu." cerocos Ratu.


" Biar kak Najwa sekalian belajar. Jadi kak Dan besok tinggal terima beres. Ngang-kang aja. " celoteh Ratu semakin ngawur. Membuat semua yang ada di sana menepuk jidatnya sendiri - sendiri. Hanya Najwa saja yang tidak. Ia malah menunduk dengan pipi yang memerah malu mendengar ucapan sang calon adik ipar yang tidak tahu batasan.


" Sayang... Bicaranya tolong jangan terlalu vulgar gitu ah. " Armell mengingatkan.


" Momm... Benarkah mommy sama Daddy pengen cepet punya cucu? " tanya Ratu dengan wajah sendu.


Seno, Armell dan Arvin saling berpandangan bergantian, bingung harus menjawab apa.


" Abang... Kemarin abang pakai sarung nggak pas tanding? " tanya Armell.


Arvin tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menggeleng.


" Tentu saja Arvin nggak pakai sarung, baby. Mereka kan baru malam pertama. Kalau malam pertama terus pakai sarung, ya nggak tahu rasanya enak apa nggak. " sahut Seno.


" Ini kok malah jadi bahas sarung sih. Ya nggak mungkin abang kemarin pakai sarung. Orang kemarin sholat aja dia pakai celana kok. " sahut Ratu.


" E Hem. " Arvin berdehem, lalu memiringkan tubuhnya sedikit menghadap ke istrinya.

__ADS_1


" Sayang, jika memang kamu hamil, kamu tetap bisa melanjutkan kuliah. Abang nggak akan melarang kamu buat kuliah. Banyak kok mahasiswi di London sana yang hamil tapi kuliah. Nanti kan bisa cuti kuliah sebentar waktu lahiran. Habis itu, kamu bisa melanjutkan kuliah lagi. " ucap Arvin sambil menenangkan sang istri.


" Arvin benar, sayang. Meskipun kamu hamil, kamu tetap bisa kuliah. " tambah Seno.


" Beneran? " tanya Ratu dengan wajah sumringah.


Seno, Armell dan Arvin mengangguk bersamaan.


" Bang, emang nanti Queen harus ikut abang ke London? " tanya Ratu.


Arvin tersenyum sambil mengangguk. " Kenapa? Kok kamu sedih gini. "


" Queen bakalan pisah sama Daddy sama mommy. " jawab Ratu dengan muka sedih. " Emang abang nggak bisa ya, nerusin kuliah di sini aja. "


" Queen, abang nggak bisa ninggalin Daddy Robert sendirian di sana. Kasihan beliau sudah sering sakit. Lagian, abang sekarang udah punya istri. Jadi abang harus bekerja biar bisa kasih nafkah buat kamu. " jelas Arvin.


" Abang bisa kerja di sini. Daddy pasti kasih kerjaan sama abang. Perusahaan Daddy banyak. " ucap Ratu.


" Nggak bisa begitu dong, sayang. Perusahaan Daddy Robert di sana, kalau bukan Abang yang urus, mau siapa lagi. Cuma Abang satu-satunya anak Daddy Robert. "


" Ratu sayang. Kamu sekarang adalah seorang istri. Dan istri itu wajib mengikuti kemanapun suaminya pergi. Seorang istri itu harus menurut sama suami. Lagian sayang, kalau kamu kangen sama Daddy sama mommy, kita bisa video call. Kamu bisa pulang kesini pas liburan kuliah. Atau Daddy sama mommy bisa datang ke sana jenguk kamu. Iya kan? " lerai Armell.


Akhirnya Ratu mengangguk meskipun wajahnya masih terlihat di tekuk.


" Udah sih, nggak usah sedih. Kamu pergi aja. Di sini biar kakak yang menguasai semuanya. " canda Danique.


" Awas ya.. Kalau kak Dan nggak transfer ke rekening Ratu tiap bulan kayak biasanya. "


" CK. Kamu tuh udah punya suami. Masih aja malakin kakaknya. Tuh, minta sama bang Ar. " ucap Danique sambil menunjuk ke arah Arvin dengan dagunya.


" Eh, ngomong-ngomong bang Ar sekarang udah jadi adik ipar aku. Berarti Dan manggilnya bukan Abang lagi dong seharusnya. Adik ipar, gimana? " canda Danique sambil menaik turunkan alisnya.


" Hah. " semua mendesah mendengar ucapan Danique.


" Terserah kamu mau manggil aku apa. " jawab Arvin.


" He... he... he... Karena bang Ar udah jadi adik ipar aku, berarti boleh dong minta di traktirin? PS 5 aja lah. Nggak usah muluk-muluk. "


Puk


Sebuah bantal mendarat tepat di muka Danique yang di layangkan oleh sang Daddy.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2