Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Akhir


__ADS_3

Ratu dan Paris sudah berada di ruang perawatan saat ini. Sudah tiga jam berlalu dari saat mereka melahirkan buah hati mereka. Lagi - lagi, Paris dan Ratu meminta ruang perawatan yang sama. Dan lagi-lagi, kedua laki-laki tampan beda usia memberengut. Karena sejatinya, Agam maupun Arvin tidak menginginkan jika kamar mereka sama.


" Cucuku tampan sekali. " puji Bryan sambil menggendong bayi mungil yang baru di lahirkan tiga jam yang lalu. Bayi mungil itu nampak menggeliat karena tidurnya terganggu oleh hidung mancung sang opa.


" Lebih tampan cucuku tentu saja. " sahut Seno tidak mau kalah. " Karena dia begitu mirip denganku. " lanjutnya sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke hidung mungil cucunya.


" Cicitku dua-duanya tampan semua. Tidak ada yang lebih tampan ataupun lebih jelek. Kalian ini sudah sama-sama tua, sudah punya cucu, di panggil opa, tapi kelakuan masih seperti anak kecil. " cerca nyonya Adiguna.


" Baby, bukankah aku masih muda? Aku masih kelihatan tampan kan? Aku belum setua yang mama katakan. " ucap Seno ke sang istri mencari pembenaran.


" Daddy, kita itu sudah di panggil opa, sama oma sekarang. Jadi sudah otomatis, kita ini sudah tua. " jawab Armell membuat Seno mengerucutkan bibirnya.


" Kau, tentu saja sudah tua. Umur kita memang sudah kepala empat. Jadi kita memang sudah pantas di panggil opa. " sahut Bryan.


" Uncle B, tumben server kamu bener hari ini. Biasanya kalian itu satu server. " ucap Armell.


" Ck. " Bryan berdecak.


" Tapi aku masih muda. Usiaku masih tiga puluh lima tahun, bang. " protes Pipit. " Masak aku udah di panggil Oma? Si kecil biar manggil aku bunda aja. " lanjutnya sambil menoel Pipi gembul sang cucu.


" Mana bisa seperti itu, sayang? Dia ini cucu kita. Masak iya, dia manggil aku opa, tapi manggil kamu bunda? " protes Bryan.


" Lagian, bukankah dulu bunda, yang kekeh ingin Paris cepet nikah? Resiko punya anak udah merried ya punya cucu. " bantah Paris.


Semua langsung menoleh ke arah Paris.


" Kamu ini? Dulu aja pura-pura nggak mau bunda nikahin. Setelah ngerasain enaknya ketemu anaconda, eh, langsung jadi deh anak anacondanya. " ledek Pipit.


" Habis enak sih. Kalau tahu enak, udah dari dulu mintanya. " jawab Paris dan membuat Agam sedikit malu. Ia menutup mulut lemes istrinya dengan tangannya. Membuat Paris sedikit mendelik. Dan semua orang tertawa.


" Assalamualaikum... " sapa seorang wanita yang baru memasuki ruangan.


" Waalaikum salam... " jawab semua orang yang ada di dalam ruangan.


" Mbak Meera. " sapa Pipit.


" Halo, besan. " sapa Ameera balik sambil mencium pipi kanan dan kiri Pipit. Sedangkan Attar, ia menyalami semua laki-laki yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


" Halo, sayang... " sapa Ameera ke Paris kala ia sudah mendekati Paris. Ameera langsung mengecup puncak kepala Paris.


" Selamat ya. Sudah menjadi seorang istri yang sempurna, dan seorang ibu buat si kecil. " ucap Ameera sambil tersenyum ke Paris.


" Makasih, mama. Selamat juga buat mama. Udah punya cucu sekarang. " ucap Paris sambil memeluk tubuh sang ibu mertua.


" Maaf ya sayang. Mama nggak berada di dekat kamu saat kamu melahirkan cucu mama. " ucap Ameera penuh penyesalan.


Padahal ia sudah berencana jauh-jauh hari, jika ia akan berada di samping Paris saat menantunya itu hendak melahirkan. Tapi sayang, sang cucu tidak mau lahir sesuai dengan HPL. Alhasil, tadi siang saat Agam menghubungi dan mengabari jika cucunya akan segera lahir, Ameera langsung meminta suaminya untuk membeli tiket. Untung saja, penerbangan ke Jakarta untuk hari itu, pas siang hari.


" Nggak pa-pa kok ma. Semuanya sudah terkendali. Anak mama aja nih yang lebai. Masak.. Paris yang ngelahirin, yang ngerasain sakitnya, dia yang nangis. Malu-maluin tau, ma. " ledek Paris sambil melirik ke arah Agam.


" Sayang.... " protes Agam.


" Kamu nangis, Gam? " tanya Ameera. " Berarti sama dong kayak papa. Dulu juga nangis waktu mama melahirkan. " lanjutnya.


" Ya... Agam kan nggak tega ma lihat Paris kesakitan sampai kayak gitu. Agam jadi inget mama juga. Waktu melahirkan Agam, mama juga pasti kesakitan sama seperti Paris tadi. " jelas Agam.


" Makanya Gam... Kamu sekarang sudah melihat sendiri bagaimana perjuangan istri kamu saat melahirkan anak kalian. Jadi mulai sekarang, jangan pernah menyakiti ataupun membuat istri kamu menangis. " Attar memberikan wejangan berharga ke anaknya.


" Iya, pa. Itu pasti. " jawab Agam, lalu ia mengecup puncak kepala Paris lembut.


" Oh, selamat juga buat Ratu dan Arvin ya. " ucap Ameera sambil berpaling ke Ratu, dan memeluk Ratu sebentar.


" Terima kasih, tante..." jawab Ratu.


Ameera tersenyum sambil mengelus pipi Ratu. Lalu ia berbalik, menuju dua bayi laki-laki yang masih dalam gendongan kakek masing-masing.


" Duh, lucunya... " puji Ameera sambil menoel Pipi si bayi.


" Mau gendong? " tanya Bryan.


" Tentu saja. " jawab Ameera antusias. Ia segera meletakkan tas jinjingnya di atas sofa, lalu segera mengambil alih si kecil mungil cucunya.


Setelah si kecil berada dalam gendongannya, Ameera mencium gemas seluruh wajah cucunya.


" Wajahnya begitu mirip saat kamu masih bayi, Gam. " ujar Ameera ke putranya.

__ADS_1


" Lihat, pa. Iya kan? " Ameera membawa bayi itu ke dekat suaminya, dan memperlihatkan bayi itu ke Attar.


" Iya. Dia tampan sekali. " ucap Attar sambil mengelus pipi mulus cucunya dengan lembut.


Bayi itu menggeliat kecil karena merasa geli dengan sentuhan sang kakek. Bayi itu membuka matanya perlahan.


" Matanya membawa mata keluarga Ernest. Bola matanya berwarna biru. " ucap Attar.


" Tentu saja harus membawa keluarga Ernest juga. Wajahnya sudah membawa Permana semua. Jadi, biar matanya mengikuti mata keluarga Ernest. " sahut Bryan.


Mereka lalu sibuk mencium dan mengecup dua bayi menggemaskan yang baru lahir itu.


" Kapan Daddy mu datang, Vin? " tanya Seno ke Arvin.


" Mungkin besok, Dad. Hari ini beliau tidak mendapatkan penerbangan ke Indonesia. " jawab Arvin.


" Yang penting ayahnya juga sudah ada di sini. " sahut Dion. " Anda kenapa menanyakan Daddy nya Arvin? Sedangkan ayahnya saja yang di sini dan juga sama-sama kakeknya si kecil, tidak anda ijinkan menggendong cucunya. " protes Dion.


" Jadi, kau juga ingin menggendong dia? " tanya Seno sambil menunjuk si kecil dengan matanya.


" Tentu saja. Tapi kau terlalu memonopolinya. " sahut Dion.


" Ck. Nih. " Seno berdecak, lalu memberikan bayi kecil mungil itu ke Dion dengan hati-hati. " Hati-hati dengan cucuku. Awas kalau dia jatuh. " ujar Seno.


" Ck. Kau pikir aku anak kecil? " sahut Dion .


Tuan Permana, Tuan Adiguna, Nyonya Ruth, dan juga nyonya Novia menatap semua anggota keluarga mereka dengan hati yang bahagia.


" Berbahagialah kalian semua. " ucap Tuan Adiguna dalam hati.


" Ya Allah... Jangan pernah kau ambil semua kebahagiaan ini. " batin Novia.


" Ya Tuhan... Terima kasih atas nikmat yang telah engkau berikan kepada kami. " batin tuan Boby Permana.


" Terus tersenyum dan berbahagialah seperti ini. Selamanya. " batik nyonya Ruth sambil menatap wajah keluarganya satu persatu sambil tersenyum.


The End

__ADS_1


Hai semua.... Akhirnya cerita Arvin Ratu, Agam Paris, othor selesaikan hari ini, di episode ini ya... Maaf kalau ceritanya kurang memuaskan kalian semua...🙏🙏🙏


__ADS_2