
Paris mengalungkan kedua tangannya di leher Agam. Tubuhnya benar-benar terasa lemas. Ia memang sangat phobia dengan hewan melata yang satu itu. Kalau hal ekstrim yang lain, Paris tidak akan takut. Tapi dengan hewan melata yang licin itu dan satu hal lain yang membuat Paris bisa-bisa kencing sambil berdiri, yaitu jika tiba-tiba dirinya melihat hantu.
Bahkan waktu dirinya masih anak-anak dulu, dirinya pernah pingsan gara-gara di ajak bokap juga nyokapnya ke kebun binatang dan di sana ada pertunjukan ular. Ia langsung jatuh pingsan kala sang pawang mendekatinya sambil membawa ular sanca yang membelit tubuh si pawang.
“ Honey, kenapa anak kamu bisa phobia sama ular begini? Bukankan aku sudah sering menjenguknya kala dia masih di dalam kandunganmu? Bahkan kamu juga sangat menyukai ular pitonku saat hamil dia. “ itulah ucapan absurb sang Daddy saat putrinya pingsan karena geli melihat ular.
“ Aku juga bingung bang. Kenapa begini? Bagaimana jika dia menikah nanti dan melihat ular suaminya? Bagaimana jika ular suaminya adalah anaconda? Bisa-bisa putus keturunan kita. “ jawaban yang sama-sama absurb dari mulut sang bunda yang tak lain adalah Pipit.
Kembali ke masa kini.
Agam membawa Paris naik ke jalan yang ia lalui tadi.
“ Paris? “ panggil Azkara kala melihat Paris berada dalam gendongan Agam. “ Apa dia pingsan? “ tanyanya pada Agam.
“ Gue masih sadar, Ka. Jangan berlebihan. “ sahut Paris dengan suara yang masih lemas.
“ Turunkan dulu dia di sini. “ pinta Azkara ke Agam supaya Agam menurunkan Paris. Agam mengikutinya. Ia jongkok, supaya Paris bisa dengan mudah turun dari punggungnya. Azkara juga membantu Paris turun, dan mendudukkannya di atas rumput yang lumayan tebal.
“ Minum ini dulu. “ Azkara mengulurkan botol minumnya ke Paris. Dan Paris menerima botol minum itu lalu menggak isinya.
“ Kita istirahat dulu di sini sebentar. Kita tunggu Paris agak baikan dulu. Setelah itu, kita kembali saja. Perjalanan kita tidak usah kita lanjutkan. Lagian hari juga sudah mulai gelap. “ titah Azkara ketua tim mereka. Semuanya setuju.
Reina mendekat ke Paris. “ Paris, maafin gue ya. Gara-gara gue lo jadi kayak gini. Seharusnya gue tadi nggak teriak dan heboh saat melihat ular itu. “ ucap Reina penuh penyesalan.
Paris tersenyum tipis. “ It’s oke, Rei. Gue baik-baik aja. “ jawabnya.
__ADS_1
Setelah Paris merasa lebih baik, ia segera mengajak teman-temannya untuk kembali. “ Yuk, kita jalan sekarang. Udah makin gelap. Nanti yang lain bingung karena kita nggak segera balik. “ ajak Paris.
“ Lo yakin, udah baik-baik aja? “ tanya Agam yang sedari tadi berada di dekat Paris. Begitu juga dengan Azkara.
“ Lumayan. Kalau Cuma buat jalan sampai ke camp juga masih kuat gue. “ jawab Paris sambil beranjak dari duduknya. Bahkan Agam dan Azkara sama-sama membantunya. Tapi Paris lebih memilih memegangi tangan Azkara ketimbang tangan Agam. Bukannya apa-apa, Paris hanya ingin menjaga kesehatan jantungnya. Sedangkan Agam, tentu saja ia merasa kecewa.
Mereka mulai berjalan perlahan. Tapi baru sampai di pertengahan jalan menuju camp, tubuh Paris sedikit limbung. Untung saja Agam masih siaga. Ia segera menangkap lengan Paris.
“ Aku gendong kamu aja. Ayo. “ tawar Agam.
Melihat sikap Agam, membuat Azkara kesal. Ia tidak suka jika ada laki-laki lain yang berusaha mendekati pujaan hatinya. Cinta terpendamnya.
“ Biar gue aja yang gendong dia. “ sergah Azkara. Ia juga bersiap menggendong Paris sama seperti posisi Agam saat ini.
“ Nggak usah. Gue masih kuat jalan sendiri. “ jawab Paris menolak kebaikan hati mereka berdua. Ia kembali berjalan dengan sedikit goyang. Kakinya masih terasa lemas bagai tak bertulang.
“ Gue malu kalau mesti lo gendong kayak gini. “ bisik Paris di telinga Azkara kala dirinya sudah berada di atas punggung Azkara.
“ Lo tenang aja. Gue nggak bakalan gendong lo sampai di camp. Lo bakal gue turunin entar kalau udah di dekat aja. “ sahut Azkara dengan suara perlahan juga. Paris nampak mengangguk dan membuat Azkara tersenyum lembut. Senyuman yang membuat orang yang ada di sebelahnya bagai terbakar kobaran api.
“ Lo tidur aja mendingan. Biar nanti saat sampai di camp, lo udah pulih kembali. “ pinta Azkara dan Paris kembali mengangguk. Ia merebahkan kepalanya di pundak datar Azkara dan ia mulai memejamkan matanya.
“ Kalau lo capek gendong gue, bangunin gue. Biar gue turun dari punggung lo. “ ujar Paris sambil dengan mata terpejam.
“ Lo tenang aja. Gue bakal lempar lo kalau gue capek. “ canda Azkara dan di jawabi kekehan pelan dari Paris. Dan setelah itu, terdengar dengkuran halus dari pundak sisi kanan Azkara. Azkara sedikit menoleh dan melihat Paris telah terlelap. Ia pun menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
Mereka berjalan perlahan karena hari semakin gelap. Hanya lampu senter yang di bawa oleh Elki dan Max yang menerangi jalanan yang mereka lalui. Reina yang tadi saat berangkat selalu berisik, kini ia tak bersuara setelah kejadian yang menimpa Paris. Ia masih merasa menyesal. Ia hanya selalu menempel pada Max.
“ Kalau kamu capek, biar aku gantiin kamu gendong Paris. “ tawar Agam ke Azkara, berharap ia bisa mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Paris. Membuat dirinya berarti dan juga di butuhkan oleh Paris.
“ Nggak usah. Gue masih kuat. Paris selalu menjaga pola makannya dan dia rajin berolahraga. Jadi tubuhnya proposional. Tidak berat sama sekali. “ sahut Azkara menolak tawaran Agam. Mana mungkin ia membiarkan laki-laki lain berdekatan dengan Paris? Cukup tadi saja. Tidak ada lain waktu dan lain kali.
Agam hanya bisa menghela nafas pelan. Tidak mungkin juga dirinya merebut tubuh Paris dari Azkara. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat. Yah, bagaimanapun, ia sudah kalah start. Azkara sudah mengenal Paris jauh lebih lama dari dirinya.
Tak terasa, camp sudah terlihat dari jangkauan mata. Azkara berhenti. Perlahan, ia membangunkan Paris dari tidurnya.
“ Paris….Paris…” panggil Azkara sambil sedkit menggoyangkan tubuh Paris.
“ Hm…” sahut Paris masih nampak tertidur.
“ Paris, bangun. Kita udah hampir sampai di camp. “
“ Hm..Lima menit lagi, Dad. “ jawab Paris. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukannya di leher Azkara.
Azkara tersenyum tipis. “ Paris, lo bisa nyekik gue kalau gini. “ canda Azkara sambil menggoyangkan tubuh Paris lebih kencang.
Kali ini, Paris merespon. Ia mulai membuka matanya perlahan, lalu mengendurkan pelukannya. “ Azka…Gue kira bokap gue. Sorry. “ ucap Paris dengan suara serak.
“ Kita udah hampir sampai di camp. Lo mau turun, apa mau gue gendong aja? “ tanya Azkara.
“ Turun. Gue mau turun. “ ucap Paris. Lalu ia segera meloncat turun dari punggung Azkara yang bahkan sangking tanpa aba-aba, membuat tubuh Azkara sedikit limbung. Setelah turun Paris mengucek matanya, lalu sedikit mengibaskan kepalanya agar ia cepat sadar.
__ADS_1
“ ya udah, yuk. “ ajak Paris untuk kembali berjalan. Tubuh Paris terasa sudah kembali normal saat ia bangun tidur tadi. Kakinya sudah tidak lemas lagi. Bahkan kini ia berjalan duluan meninggalkan teman-temannya dan membuat teman-temannya menggelengkan kepala sambil menatap punggungnya. Paris juga sampai melupakan tasnya yang saat ini tengah di bawa oleh Agam.
Bersambung