Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Pinggangnya encok


__ADS_3

" Bagaimana sekarang? " tanya Bryan.


" Tetap gue yang menang. Kan gue yang dapat kabar lebih dulu. " sahut Seno.


" OOO.. Nggak bisa... " jawab Bryan tak terima.


" Ck. Pada berisik. Kalian berdua ini katanya sahabat sehidup semati. Tapi kalau ketemu berantem mulu. Nggak masih muda, nggak sekarang. " omel Armell.


" Beb, dia nih yang rese. Suka mancing keributan. " bela Seno tak terima.


" Lo tuh yang suka mancing di air yang keruh. Ikannya nggak kelihatan. " sahut Bryan.


" Dasar bule nggak beradap Lo. Berani ngelawan sama kakak ipar Lo. " cerca Seno.


" Kalau kayak gini aja ngaku-ngaku kakak ipar. Basi Lo! "


" STOOOPPPP..... !!!!! " pekik Armell dan Pipit bersamaan.


" Mending kalian diem deh. Kalau diem, kelihatan cakepnya. " ujar Pipit.


" Dari dulu ak-.. "


" Sstt!! " Pipit memotong perkataan suaminya sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir. " Jangan berisik. Jangan pada berantem. Seharusnya kita bahagia, kita mau punya cucu bersamaan. Lucu kan tuh, kita punya cucu seumuran. " ucap Pipit.


" Kalau masalah mobil harga selangit, kita pending dulu. Besok kita lihat, cucu siapa yang lahir lebih dulu. Dia yang akan jadi pemenangnya. " lanjut Pipit.


" Nah, bener tuh. " tambah Armell.


" Oke, deal. Kita tunggu cucu siapa yang lahir duluan. " ucap Seno. " Baby, ayo kita siap-siap, kita ke London besok pagi penerbangan pertama. "


Armell mengangguk, " Okeh. Aku juga pengen ketemu sama Ratu. Kangen banget. Pengen elus perutnya. " tambah Armell.


Lalu pasangan suami istri itu segera meninggalkan rumah Bryan lewat pintu samping yang menghubungkan rumah Bryan dan rumah mereka.


" Bang, kita juga ke Bandung yuk. Pengen lihat modelnya si Paris lagi hamidun kayak apa. " ajak Pipit.


" Semoga aja nggak kayak kamu waktu hamil dia. Kasihan si Permana kalau sampai Paris ngidam ekstrim kayak kamu dulu. " canda Bryan yang membuat Pipit mengerucutkan bibirnya.


Cup

__ADS_1


Melihat bibir sang istri yang mengerucut, Bryan segera mencium bibir itu.


" Abang... Ih!! " protes Pipit.


" Makanya, bibirnya nggak usah monyong kayak gitu. Aku jadi gemas ngelihatnya. Pengen nyambar tahu nggak. " goda Bryan sambil mencubit bibir istrinya.


Plak. Satu pukulan mengenai telapak tangan Bryan.


" Habisnya kesel sama Abang. "


" Lah, tapi apa yang aku bilang kan beneran, honey. Kamu waktu hamil Paris, benar-benar ekstrim nyidamnya. Masih ingat nggak, hamil 4 bulan, kamu manjat pohon mangga yang ada di halaman belakang rumah besar. Terus waktu hamil tujuh bulan, kamu malah ikutan panjat tebing yang tingginya 15 meter. Gila nggak sih. " ucap Bryan.


Pipit malah tersenyum cengengesan. " Jadi pengen hamil lagi, terus ngidam yang lebih ekstrim dari yang dulu. " goda Pipit.


" Oke. Siapa takut. Kita proses sekarang baby nya. Biar bisa seumuran sama ponakannya. " jawab Bryan sambil menaik turunkan alisnya.


" Yakin, Abang masih kuat kalau aku nyidamnya jauh lebih ekstrim dari yang dulu? Dulu aja Abang suka ngeluh, pinggangnya encok. Apalagi sekarang. Umur Abang udah mau setengah abad. " ledek Pipit.


" Ngeledek nih ceritanya. Sayang, biarpun umurku setengah abad, tapi kalau cuma mau berolahraga di atas ranjang sama kamu, semalaman juga masih kuat. Apa kamu mau sehari semalam? " ucap Bryan sambil mengejar istrinya yang telah lari karena jika sang suami sudah berkata seperti itu, maka suaminya itu akan benar-benar membuktikannya.


🌷🌷🌷


" Massss.... " panggil Paris sambil terus menggelendot di pinggang Agam.


" Di rumah aja. " pintanya manja.


" Nggak bisa dong sayang. Aku ada kuliah pagi. Dan kuliahnya ini nggak bisa di tinggalin. " ucap Agam memberi pengertian sambil menarik tangan istrinya hingga tangan sang istri terlepas dari pinggangnya. Lalu Agam memutar tubuhnya dan menghadap ke istrinya.


" Ck. Bilang aja kamu mau ketemu cewek-cewek alay di kampus. " ucap Paris sambil mengerucutkan bibirnya.


" Aku mau kuliah sayang... Bukan mau ketemu cewek-cewek alay. Kalau ketemu cewek STW iya. Kan dosenku nanti emak-emak. " sahut Agam sambil menarik Paris ke dalam dekapannya.


" Bohong. " elak Paris.


Semenjak hamil, Paris tidak hanya suka berdekatan dengan sang suami, tapi kadar cemburunya juga semakin meningkat.


Agam menggaruk pelipisnya meskipun tidak gatal. Ia masih saja bingung menghadapi sikap istrinya yang seperti ini.


" Aku mau ikut ke kampus pokoknya. " kekeh Paris.

__ADS_1


" Sayang.... "


" Pokoknya mau ikut. Titik. Kalau nggak boleh, berarti beneran kamu mau ngecengin cewek-cewek. " kekeh Paris. " Kamu mah enak. Bisa cuci mata. Aku? Udah nggak kuliah, kerjaan cuma di rumah mulu. " gerutunya.


Agam menghembuskan nafasnya kasar. " Iya. Ayo. Cepetan siap-siap. " pinta Agam


" Beneran boleh ikut? " tanya Paris dengan wajah berbinar. Dan Agam mengangguk. Lalu Paris segera pergi berganti baju.


" Ayo, aku udah siap. " ucap Paris dengan baju kasualnya. Celana jeans, dan kaosnya.


Agam mengernyitkan dahinya, lalu mendekat ke Paris. Ia lalu mengangkat sedikit kaos Paris, dan menarik celana jeans yang di kenakan Paris.


" Ganti. " ucapnya.


" Emang kenapa? " tanya Paris sambil memperhatikan penampilannya.


" Emang kamu nggak kasihan sama baby kita? Nih, lihat. Celana kamu udah sempit begini di perut. Si dedek kejepit jadinya. Kandungan kamu udah tiga bulan loh ini. " keluh Agam.


Paris melihat ke bagian perutnya. " Iya juga ya. " ujarnya.


" Makanya ganti. "


" Terus, pakai apa? Kan aku punyanya emang baju-baju kayak gini. " keluh Paris.


" Seingatku, aku pernah beliin kamu rok. Sama atasan. Yang pakai karet di bagian perut. " ucap Agam.


Paris nampak mengingat. " Oh iya. Tungguin bentar, jangan di tinggal. Aku ganti baju lagi. " ucap Paris sebelum ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Tak berselang lama, Paris sudah keluar dengan mini dres selutut, dan atasan berkerah Sabrina.


" Nah, cantik kan. Si dedek juga nggak kejepit. " puji Agam.


Paris tersenyum dan mengangguk. " Tapi perut aku kelihatan buncit gini. " keluhnya sambil memegang perutnya.


" Ya kan kamu lagi hamil sayang. Kalau hamil ya pasti buncit lah. Kalau nggak buncit, nanti si dedek nggak berkembang dong. "


Tapi tiba-tiba Paris cemberut. " Nanti kalau di kampus, emang kamu nggak malu? Bawa perempuan yang perutnya lagi buncit gini? Emang kamu nggak pa-pa kalau teman-teman kamu pada tahu kalau kamu udah punya istri dan bentar lagi juga mau punya anak? "


Agam tersenyum lalu memeluk sang istri, mencium puncak kepalanya, dan berkata, " Kenapa harus malu? Teman-teman kampus aku udah pada tahu kok kalau aku udah punya istri. Dan aku malah sangat bangga jika teman-temanku tahu kalau kamu tengah mengandung anak aku. Berarti, aku hebat dong? Ular aku ampuh namnha. Udah bisa bikin anak? " canda Agam.

__ADS_1


" Apaan sih. " sahut Paris sambil malu-malu. " Udah ah, ayo buruan berangkat. Nanti keburu terlambat masuk kelasnya. " lanjutnya sambil dengan cepat berlalu mendahului suaminya keluar dari apartemen karena malu dengan godaan sang suami.


bersambung


__ADS_2