
Kini semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan si pengantin baru, Paris dan Agam. Keluarga Agam sudah menyiapkan kamar presiden suite untuk kamar pengantin mereka. Kini mereka sedang berada di kamar itu.
Suasana canggung memenuhi kamar yang tertata dengan begitu indah. Paris duduk di sofa dengan menunduk dan memainkan jari –jari tangannya. Ia panik dan cemas. Statusnya sebagai seorang istri membuat pikirannya menerawang kemana-mana. Apakah Agam akan meminta haknya malam ini? Kalau itu terjadi, apa yang akan di lakukannya? Apakah ia akan memukul suaminya itu? Menendangnya? Memitingnya? Atau bagaimana?
“ Kamu mau mandi apa tidak usah? “ tanya Agam memecah keheningan dan memecah kecanggungan. Agam yang sudah selesai mandi dan duduk di atas ranjang sedari tadi sambil menyibukkan diri dengan memainkan ponselnya, mencari cara untuk menghentikan suasana seperti ini.
“ Ha? “ Paris sedikit terkejut. Ia mendongakkan kepalanya memandang ke arah Agam.
“ Kamu mau mandi apa langsung tidur? “ tanya Agam kembali. “ Sudah malam. Kamu pasti capek. “ lanjutnya sambil memandang ke arah Paris juga, membuat pandangan mereka bertemu. Tapi Paris segera memutus pandangan itu dengan mengalihkan pandangannya ke samping.
“ Gu-gue mau mandi. “ jawab Paris dan ia segera bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa sehingga membuatnya hampir jatuh karena gaun panjangnya melilit di kaki. Untung saja ia bisa segera menyeimbangkan diri sebelum Agam menangkapnya. Karena saat melihat Paris hampir jatuh, Agam langsung berdiri dari duduknya.
Paris segera melepas lilitan gaunnya yang di kaki, mengangkat gaun itu, lalu segera berjalan dengan langkah lebar menuju ke kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandi, Paris segera menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Jantungnya masih saja berdebar dengan kencang.
“ Gila. Kayak habis lari keliling lapangan basket 50 kali gue. Jantung gue serasa mau copot. Bener-bener bikin nggak sehat jantung kalau sering-sering berdua gini sama tuh orang. “ gumam Paris sambil memegangi dadanya. Lalu ia segera menghidupkan air hangat untuk mengisi bath up. Sambil menunggu bathup penuh, Paris melepas gaun yang sedari pagi melekat di tubuhnya.
Sambil berendam, Paris memikirkan cara supaya dirinya tidak harus melayani suaminya malam ini. Dan malam-malam selanjutnya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Paris telah menyelesaikan kegiatan berendam dan mandinya. Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan bathrope dan handuk yang menggulung di kepala karena rambut panjangnya masih basah. Bukan tanpa alasan Paris keluar dari dalam kamar mandi memakai bathrope. Tapi karena ia tadi terlalu gugup dan ingin cepat-cepat berlalu menghindari suaminya, Paris lupa untuk membawa baju ke kamar mandi. Bahkan saat ini, tubuhnya hanya terbalut bathrope tanpa dalaman apaun yang melekat di tubuhnya.
“ E hem. “ Paris berdehem untuk menetralkan kembali jantungnya yang kembali berdetak kencang kala melihat Agam tengan duduk berselonjor di atas ranjang dan bersandar pada sandaran ranjang. Dengan mengalihkan pandangannya, Paris segera menuju meja rias. Ia meraih hair dryer yang ada di atas meja, mencolokkan kabelnya, lalu ia melepas handuk kecil yang melilit rambutnya.
Kegiatan itu tak lepas dari pandangan Agam. Sedari Paris keluar dari dalam kamar mandi, sebenarnya Agam terus memperhatikannya sambil tersenyum tipis. Tapi saat melihat Paris juga menatapnya, Agam segera kembali berpura-pura sibuk dengan ponsel yang memang sedari tadi berada di tangannya.
‘ Cantik. ‘ satu kata yang selalu terukir di hati dan pikiran Agam saat melihat istrinya. Perlahan, Agam turun dari atas ranjang dan berjalan menghampiri sang istri.
“ Sini, aku bantuin. “ ucap Agam sambil hendak mengambil hairdryer dari tangan Paris.
“ Enggak. “ jawab Paris dengan terkejut. Karena dirinya memang tidak tahu jika Agam menghampirinya. “ Ng-nggak usah. Gu-gue bisa sendiri. “ jawabnya kembali dengan suara terbata karena gugup. Tapi tetap dengan nada ketus. Ia menatap sekilas Agam yang terlihat dari cermin.
Paris buru-buru memutar tubuhnya menoleh ke Agam. “ Cepet tidur ? Maksudnya? “ tanya Paris dengan pandangan sinis dan menelisik. “ Jangan macam-macam lo ya. “ lanjutnya.
“ Kan.. Kan udah malam. Jadi ya harus cepat tidur. Iya kan?” jawab Agam agak terbata karena melihat pandangan mata istrinya yang begitu tajam.
‘ Gila. Kenapa aku jadi jiper Cuma di liatin dia seperti itu? Kalau Cuma masalah beladiri, aku yakin, aku juga nggak kalah jago dari dia. ‘ batin Agam sambil menelan salivanya.
__ADS_1
“ Awas aja lo berani macam-macam sama gue. “ ancam Paris masih dengan tatapan mata yang sama.
“ Lagian apa salahnya kalau aku macam-macam? Mau aku apain juga udah sah ini. “ gumam Agam sambil menggosok tengkuknya.
Tapi gumaman Agam itu tetap bisa di dengar oleh Paris. Dan membuat Paris semakin memelototkan matanya. Tapi Agam sudah menguatkan hatinya semenjak tadinya, dirinya tidak boleh kalah dari sang istri.
“ Jangan terlalu melotot matanya… Nanti bisa keluar bola mata kamu. “ ssahut Agam di selingi candaan. Membuat Paris memutar bola matanya jengah sambil cemberut.
Melihat bibir istrinya yang sedikit mengerucut, membuat Agam gemas. Ia berdiri sebentar dari duduknya dan Cup…. Agam mengecup sekilas bibir manyun Paris. Kembali membuat Paris melotot. Bukan karena emosi, tapi lebih karena terkejut mendapat serangan dadakan dari suaminya.
‘ An*ir! My first kiss. ‘ umpat Paris dalam hati. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan kanannya yang sedang tidak memegang hairdryer. Tanpa berkata satu patah katapun, Paris segera meletakkan hairdyer di atas meja rias, lalu ia bangkit berdiri dan berjalan menuju almari, mengambil pakaiannya, lalu segera masuk ke kamar mandi kembali.
Brak
Paris menutup pintu kamar mandi dengan lumayan keras. Setelah pintu kamar mandi di tutup, Paris memegang dadanya. Jantungnya terasa mau copot. Saking kencangnya degub jantungnya, Paris tadi tidak bisa memarahi Agam karena telah mencuri ciuman pertamanya. Meskipun peristiwa tadi belum bisa di bilang ciuman. Itu hanyalah sebuah kecupan singkat. Sangat singkat.
Beberapa kali Paris menarik nafas dalam-dalam dari hidung, dan mengeluarkannya perlahan dari mulutnya untuk menetralkan debar jantungnya.
__ADS_1
Sedangkan di luar kamar mandi, Agam selalu memegangi bibirnya. Ini juga ciuman pertamanya. Baru kali ini ia merasakan bibirnya menempel di atas bibir seorang perempuan. Meskipun hanya sekedar kecupan. Tapi jantungnya juga berdegub dengan kencang. Senyuman tipis juga selalu terpatri di sudut bibirnya. Baru sebuah kecupan ringan saja, jantung mereka sudah tidak terkondisikan. Apa kabarnya jika mereka melakukan malam pertama? Bisa lepas jantung mereka dari tempatnya.
Bersambung