Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Sandiwara


__ADS_3

" Kamu kenal sama nona Paris? " tanya Richi. Azkara duduk di sebelahnya.


" Kenal banget. Dia itu cewek yang pernah gue ceritain ke elo. " bisik Azkara di telinga Richi.


" Lo kenapa bisa duduk di sini? Gimana lo bisa kenal sama mereka? " tanya Azkara.


" Ceritanya panjang. Aku juga baru kenalan sama mereka. " bisik Richi menjawab pertanyaan Azkara.


" Apa kabar, Ris? " sapa Azkara setelah ia menetralkan degup jantungnya.


" Baik. Alhamdulillah gue baik. " jawab Paris agak canggung.


" Kandungan lo juga baik? Udah tujuh bulan ya? " tanya Azkara kembali.


Paris mengangguk sambil tersenyum canggung. " Alhamdulillah, debay gue juga sehat. " jawabnya.


Lalu percakapan terjadi di antara mereka. Suasana sedikit mencair di antara Paris dan Azkara. Bagaimanapun juga, mereka adalah sahabat baik sebelumnya.


Sedangkan di pintu masuk mall, dua orang laki-laki nampak menapakkan kaki mereka ke dalam mall secara bersamaan.


" Agam... "


" Bang Arvin .. " sapa kedua laki-laki itu bersamaan.


" Bukannya abang ada meeting online dengan pegawai abang di London? " tanya Agam.


" Aku tinggal dulu. Urusan di sini lebih penting. Kamu sendiri, kenapa ada di sini? Bukannya kamu ada pekerjaan yang penting? " ujar Arvin.


" Sama seperti bang Arvin. Urusan di sini jauh lebih penting di banding urusan pekerjaan. Ini menyangkut dunia akhirat. " sahut Agam.


" Tuan.. " sapa dua orang laki-laki bertubuh kekar ke Arvin juga Agam.


" Di mana istriku? " tanya Agam dan Arvin bersamaan. Lalu mereka berdua saling menoleh dan memandang.


Kejadian beberapa menit yang lalu.


Tiba-tiba ponsel Arvin berdering kala ia sedang berbicara memberikan pengarahan kepada pegawai perusahaan yang ada di London. Arvin melirik ke arah ponsel yang ia letakkan di samping laptop. Melihat nama seseorang di sana, Arvin langsung menonaktifkan tombol kamera di laptop, juga suara di laptop.


Arvin segera mengangkat panggilan itu dan ia langsung berubah gusar dengan wajah merah padam setelah mendengar informasi yang di sampaikan oleh orang bayarannya.


" Tuan, nyonya sedang berbincang dengan seorang laki-laki. " pemberi informasi itu memberikan informasi.


" Siapa? " tanya Arvin dengan suara tegas.

__ADS_1


" Menurut informasi yang saya terima, laki-laki itu bernama Richi Ahmet, seorang pengusaha perkebunan apel di Australia. Tapi dia keturunan Indonesia. " jawab orang suruhan Arvin.


" Terus awasi mereka. Aku akan segera kesana. " Arvin lalu mengakhiri panggilan itu. Ia juga segera mengaktifkan kembali layar dan suara di laptop untuk mengakhiri meeting online itu. Ia berkata akan melanjutkan esok hari.


Sedangkan di tempat lain di waktu yang bersamaan. Agam juga mengalami hal yang sama. Ia yang sedari pagi di sibukkan oleh laporan keuangan dan setumpuk berkas, sedikit terlonjak mendengar ponselnya berbunyi.


" Halo. " sapa Agam.


" Maaf, tuan kalau saya mengganggu. Saya ingin melaporkan sesuatu. " ucap orang di seberang.


" Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan istriku? Awas saja kalau sampai kamu tidak becus menjaga istriku. " ancam Agam geram karena panik.


Laki - laki di seberang sana menelan salivanya dengan susah payah mendengar ancaman dari bosnya.


" Begini tuan. Sebenarnya, nyonya bule baik-baik saja. Hanya saja..... "


" Hanya saja apa? Cepat katakan. Jangan bertele-tele. " potong Agam dengan tidak sabaran.


" Nyonya bule bertemu dengan masa lalu, tuan. " ucap sang bodyguard dengan cepat.


" Masa lalu? " tanya Agam sambil mengernyit. " Masa lalu bagaimana maksud kamu? " tanyanya dengan suara menggelegar.


" Nyonya bertemu dengan tuan Azkara, sahabatnya dari semenjak kecil, tuan. " jelas sang bodyguard.


Agam meninggalkan ruang kerjanya dengan terburu-buru. Ia sudah tidak memperdulikan berkas-berkas yang masih menumpuk di atas meja kerjanya.


" Tuan muda, anda mau kemana? " tanya asisten sang kakek.


" Maaf, pak Wibi. Saya harus segera ke suatu tempat dan tidak bisa di tunda. Ini menyangkut kehidupan, pak. Tolong katakan sama kakek, besok semua pekerjaan akan saya selesaikan. " sahut Agam. Tanpa menunggu jawaban dari asisten tuan Permana, Agam berlalu begitu saja.


Kembali ke mall.


" Dimana istriku? " tanya Agam dan Arvin bersamaan ke bodyguard mereka masing-masing.


" Istri anda ada di dalam restoran itu, tuan. " jawab kedua bodyguard bersamaan sambil menunjuk ke arah belakang.


" Tunjukkan. " perintah Agam dan Arvin bersamaan.


Kedua bodyguard itu mengangguk, lalu memberi jalan ke Agam dan Arvin untuk berjalan di depan mereka.


" Bang Arvin mengirimkan mata-mata buat kak Ratu? " ledek Agam.


" Memangnya kamu nggak?? " ledek Arvin balik.

__ADS_1


" Paris, apa kamu menyuruh Agam datang kesini? " tanya Ratu tiba-tiba sambil berbisik.


Paris menggeleng sambil masih menikmati makanannya.


Ratu menyenggol lengan Paris. " Mampus kamu Paris. Suamimu terlihat sangat marah. " ucapnya memberitahu.


" Kak Ratu ada-ada aja. Emang kak Ratu sekarang jadi cenayang? Kok bisa-bisanya mengatakan suamiku sedang marah-marah. Emang kenapa dia marah-marah? " sahut Paris tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.


" Tuh, lihat sendiri. " ujar Ratu sambil menyenggol lengan Paris dengan lebih kencang.


Seketika Paris mendongak. Makanan yang masih di dalam mulutnya, terasa susah untuk di telan. Ia membulatkan matanya melihat sang suami yang berjalan menghampirinya.


' Mampus gue. ' seru Paris dalam hati sambil melirik ke arah Azkara yang sepertinya belum menyadari kehadiran Agam.


" Ada bang Arvin juga loh. " ujar Paris tanpa mengalihkan pandangannya dari sang suami.


" Sayang.. " sapa Ratu ke Arvin. Arvin lalu segera mendekati sang istri. " Abang udah selesai meeting nya? " tanya Ratu.


" Sementara, meeting Abang cancel dulu. " jawab Arvin setelah mengecup kening Ratu.


Ratu mengernyit. " Loh, kok di cancel? Katanya harus ada yang di bahas dan penting. " ucapnya.


" Masih ada yang jauh lebih penting, sayang. " jawab Arvin sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kosong yang berada di antara Ratu dan Richi.


" Apaan? " tanya Ratu.


" Kamu dan bayi kita. Sepertinya bayi kita ingin Daddy-nya di sini menemaninya, dan mamanya. " jawab Arvin sambil mengelus perut buncit Ratu, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Ratu ke belakang telinga, serta membelai lembut pipi sang istri.


Paris dan yang ada di situ, masih menyaksikan sandiwara sang laki-laki yang biasanya terlihat kaku dan berwibawa itu. Ratu pun di buat mengernyit melihat tingkah sang suami.


Cup


Sandiwara lain juga tengah di mainkan oleh Agam. Ia tiba-tiba mencium bibir Paris tanpa permisi. Suatu hal yang juga aneh. Karena Agam sangat jarang memperlihatkan kemesraan di depan orang lain, apalagi di tempat ramai seperti ini.


Paris membelalakkan matanya kala bibirnya tiba-tiba di cium dan di ***** oleh sang suami. Semua yang ada di sana, menyaksikan aksi Agam dengan membulatkan matanya dan menelan saliva mereka sendiri-sendiri.


' Tuhaaann... Berikanlah aku laki-laki seperti itu. ' gumam pengunjung resto yang lain dalam hati.


" Hisss... Kenapa mengumbar kemesuman di tempat umum sih. Jadi pengen kaaannn... Hiks.... " celetuk pengunjung yang lain lagi.


" Kak... Mau juga dong di ciuuuuummmm.... " sahut pengunjung lain yang masih ABG.


Dan masih banyak lagi celetukan yang lain. Tapi tak membuat Agam menyudahi aksinya. Sedangkan Azkara, langsung memalingkan mukanya ke arah lain. Hatinya memanas dan bergemuruh menahan rasa sakit.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2